5 Pihak yang Raup Untung dan Dirugikan Triliunan Saat Listrik Padam

Selasa, 6 Agustus 2019 06:00 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
5 Pihak yang Raup Untung dan Dirugikan Triliunan Saat Listrik Padam Jokowi di Kantor PLN Bahas Listrik Padam. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Minggu 4 Agustus kemarin meninggalkan pengalaman tak mengenakan bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sebab, penduduk harus menghabiskan sebagian besar waktunya seperti di zaman purba karena listrik padam.

Presiden Joko Widodo meminta penjelasan dari direksi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait padamnya listrik di hampir seluruh Pulau Jawa pada Minggu. Presiden Jokowi mengatakan pemadaman listrik sangat merugikan masyarakat.

"Saya tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN, namun banyak hal di luar PLN terutama konsumen sangat dirugikan," ucap Presiden Jokowi.

PLN tengah berupaya memulihkan aliran listrik dari timur Jawa ke arah barat Jawa yang terganggu pasokannya. PLN menjelaskan padamnya listrik di wilayah Jabodetabek dikarenakan adanya gangguan pada sisi transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV.

Atas kejadian listrik padam kemarin, ada sejumlah pihak yang dirugikan dan diuntungkan. Berikut merdeka.com akan merangkum siapa saja mereka.

1 dari 5 halaman

Pengelola Mal

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan menyebut bahwa pemadaman listrik yang terjadi malah membuat peningkatan jumlah pengunjung pusat belanja.

"Dampaknya sebenarnya gini. Kalau ke pengunjung, pengunjungnya jadi banyak banget. Jadi padat banget, ramai banget. Ya penyewa untung lah," kata dia saat dihubungi Merdeka.com.

Menurut dia, pengunjung yang memadati pusat belanja tidak saja untuk berbelanja, melainkan juga untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari yang terhambat karena padamnya listrik.

"Saya kira bukan hanya numpang nge-charge saja. Dia kan ngadem. panas kan. Orang Jakarta sudah tidak bisa sama udara panas. Jadi dia ngadem segala macam," jelas Stefanus.

2 dari 5 halaman

Hotel

Okupansi atau tingkat huni hotel tercatat meningkat karena dampak pemadaman aliran listrik. Salah satunya di The Margo Hotel yang tingkat huniannya naik hingga 40 persen pada Minggu (4/8). Pada hari itu pengunjung yang datang di hari itu (reservasi same day) melonjak.

"Untuk okupansi ada kenaikan dampak dari pemadaman. Info yang saya terima di hotel kami terjadi kenaikan 35-40 persen," kata PR The Margo Hotel (TMH) Kartika Sekartadji.

Menurut dia, ada beberapa alasan pengunjung datang dan menginap di hotel. Utamanya, mereka mencari alternatif tempat yang memiliki akses aliran listrik dan jaringan internet. Sehingga mereka bisa melakukan aktivitas seperti biasa. "Sepertinya kemarin karena mati listrik mereka jadi hijrah ke hotel, karena mungkin butuh kenyamanan seperti AC, charge HP dan lain lain. Mostly orang Depok dan sekitarnya," ucapnya.

3 dari 5 halaman

Pengusaha Ritel

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicolas Mandey mengatakan potensi kerugian material anggota Aprindo akibat listrik yang padam sejak Minggu (4/8) ditaksir lebih dari Rp 200 miliar pada 82 pusat perbelanjaan dan 2.500 lebih toko ritel modern swa kelola di Jakarta.

"Potensi kehilangan penjualan terlihat betul, karena masyarakat akhirnya enggan atau membatalkan keinginan berbelanja mereka," kata Roy.

Roy menambahkan, biaya operasional juga ikut membengkak, karena beberapa gerai menggunakan genset diesel agar tetap bisa melayani masyarakat. "Demi kenyamanan konsumen, kami menggunakan genset diesel berbahan bakar solar yang tentu berimbas pada naiknya biaya operasional, dan itu seharusnya tidak perlu kami keluarkan," lanjutnya.

4 dari 5 halaman

Pengusaha Besar dan UKM

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengatakan, ketergantungan dunia usaha dan pelayanan publik terhadap listrik sangatlah besar. Menurut Sarman, kerugian yang dialami oleh pengusaha sangat besar akibat padamnya listrik. Selain itu, masalah ini juga berdampak pada banyaknya pesanan barang dan jasa yang tidak terlayani.

Industri Kecil Menengah (IKM) sangat terpukul dengan mati lampu yang cukup lama ini seperti industri kuliner, konveksi, restoran, cafe, catering, transportasi online, SPBU, bengkel, mebel, dan usaha lainnya.

Sedangkan pelayanan publik di Jakarta hampir lumpuh seperti MRT, Commuter Line, ATM, pelayanan pintu tol, jaringan komunikasi, pelayanan kesehatan dan lalu lintas dan lain lain akibat mati lampu.

"Kita agak sulit menghitung angka kerugian akan tetapi jika dilihat dari banyaknya sektor usaha dan pelayanan publik yang terimbas maka bisa mencapai triliunan rupiah. Kejadian ini juga akan berdampak pada ketidakpercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia jika kondisi pelayanan energi listrik seperti ini," jelas dia.

5 dari 5 halaman

Industri Petrokimia

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiyono, mengatakan total kerugian industri petrokimia mencapai USD 25 juta atau setara Rp 375 miliar akibat listrik padam sejak Minggu (4/8). Hingga Agustus 2019, industri petrokimia telah mengalami pemadaman mesin mendadak sebanyak enam kali akibat gangguan listrik.

"Kami terpaksa emergency shut down semua. Untuk seluruh industri petrokimia di Banten dan Jawa Barat terkena semua tanpa terkecuali," kata Fajar.

Fajar menambahkan, hingga Agustus 2019, industri petrokimia telah mengalami pemadaman mesin mendadak sebanyak enam kali akibat gangguan listrik. Pada 2018 hal tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Sementara pada 2017 tidak terjadi pemadaman mesin mendadak karena pasokan listrik yang lancar.

"Kalau enam kali padam berarti kerugian USD 25 juta dikalikan enam," jelas Fajar.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini