5 Sumber Penyebab Resesi Ekonomi Bisa Muncul di Indonesia

Kamis, 7 November 2019 15:14 Reporter : Merdeka
5 Sumber Penyebab Resesi Ekonomi Bisa Muncul di Indonesia diskusi Antisipasi Resiko Resesi. ©2019 Liputan6.com/Athika Rahma

Merdeka.com - Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2019 mengalami perlambatan menjadi 5,02 persen. Jumlah ini turun dari kuartal sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,05 persen.

Secara keseluruhan, hal ini menjadi gambaran resiko resesi ekonomi yang harus segera diantisipasi. Setidaknya, ada 5 sumber potensi resesi bagi Indonesia.

"Ada 5 sektor, yaitu sektor perdagangan, sektor energi, perlambatan ekonomi China, lonjakan utang pemerintah dan resiko sektor keuangan," ujar Peneliti Indef, Abdul Manap Pulungan, dalam diskusi Antisipasi Resiko Resesi: Respon Kinerja Ekonomi Triwulan III 2019 di Jakarta, Kamis (7/11).

Pertama, sektor perdagangan. Seperti yang diketahui, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China menyebabkan prospek ekonomi dunia melambat. Kedua negara menguasai sekitar 35 persen ekonomi dunia, sehingga mau tidak mau, negara berkembang seperti Indonesia akan terdampak.

Kedua, sektor energi. Harga minyak dunia jenis WTI dan Brent diprediksi menurun pada 2020. Tentu hal ini menyebabkan permintaan terhadap energi melambat. "Selain itu, hal ini juga sangat erat kaitannya dengan faktor geopolitik," ujar Abdul.

Ketiga, perlambatan ekonomi China. Pada 2010, ekonomi China tumbuh 10 persen namun melambat hingga 6,2 persen pada 2019 (kuartal III) sedangkan PDB China sendiri mencakup 19 persen PDB dunia.

Keempat, lonjakan utang. Di beberapa negara, rasio utang pemerintah terhadap PDB semakin meningkat. Sedangkan, di Indonesia rasionya masih di bawah 30 persen. "Namun demikian, utang tidak akan aman kalau penerimaan pajaknya tidak sustainable," imbuhnya.

Dan kelima, resiko sektor keuangan, yang ditandai dengan mulai membanjirnya obligasi China dan potensi krisis AS. Yield obligasi jangka panjang lebih rendah dari yield obligasi jangka pendek. Ditambah, impeachment (resiko politik) Trump yang semakin nyata.

1 dari 2 halaman

3 Fokus Pembenahan Pemerintah

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menyebut terdapat tiga hal yang kini menjadi fokus perhatian pemerintah untuk menangkal dampak dari resesi perekonomian global. Salah satunya yakni menjaga aliran modal asing tetap masuk.

"Pertama tentu lewat aliran modal masuk. Aliran modal masuk sangat penting kalau terjadi gerakan cepat pasti akan pengaruh," kata dia dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu (6/11).

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satunya memang dipengaruhi oleh aliran modal yang bersifat portofolio. Oleh karenanya, di tengah gejolak perekonomian dunia, aliran modal tetap menjadi fokus utama yang diperhatikan oleh pemerintah.

Kedua yakni investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Menurutnya, ini penting diperhatikan agar bagaimana investasi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dari suatu negara untuk menanamkan modalnya dengan jangka waktu panjang tetap masuk di Tanah Air.

"Pekerjaan rumah kita adalah bagaimana sudah masuk, dia nyaman di Indonesia. Kita bicara iklim investasinya, sedianya infrastruktur, adanya regulasi yang baik, dan mendukung iklim investasi itu sendiri," kata dia.

Terakhir adalah jalur perdagangan. Di tengah kondisi ketegangan antara Amerika Serikat dan China jalur perdagangan Indonesia menjadi terdampak. Salah satunya ditandai oleh angka ekspor Indonesia yang terus melemah.

"Kalau pertumbuhan negara maju menurun pasti permintaan akan ekspor dari Indonesia menurun. Ini yang kami lihat di beberapa triwulan terakhir. Ekspor kita flat," ujarnya

"Tiga jalur ini kita perhatian dengan serius karena dampaknya kepada perekonomian domestik," sambungnya.

2 dari 2 halaman

Sri Mulyani: Ekonomi Dunia Masuk Kategori Resesi

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa ekonomi dunia saat ini tengah masuk ke dalam kategori resesi di 2019. Hal itu tercermin dari proyeksi International Monetary Fund atau IMF yang kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3 persen.

Ini menjadi keempat kalinya IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019, dari proyeksi semula yang disampaikan pada April sebesar 3,2 persen.

"Menurut IMF, 3 persen masuk kategori resesi dunia, meski resesi ekonomi masing-masing negara disebutnya kalau pertumbuhan ekonominya dua kali kontraksi," kata dia di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (4/11).

Sri Mulyani menjelaskan, kondisi resesi yang terjadi itu tidak lepas dari persoalan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kondisi itu membuat volume perdagangan dunia tumbuh hanya mencapai sekitar 1,1 persen. Angka itu menjadi terendah sejak krisis 2008-2009.

"Ini adalah pertumbuhan perdagangan global terlemah sejak krisis 10 tahun lalu. Risiko global yang perlu kita waspadai adalah perang dagang," imbuh dia.

Kendati begitu, Bendahara Negara ini masih optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh dikisaran atas lima persen. Angka tersebut lebih baik ketimbang pertumbuhan negara-negara maju maupun emerging market lainnya.

"Indonesia masih stabil di atas 5 persen, Singapura sempat negatif growth dan terakhir diperkirakan 0,1 persen. Vietnman masih cukup tinggi, Eropa, Inggris, Jepang, India bahkan merosot dikisaran 5 persen. Thailand, Filipian terpengaruh juga. Jadi itu perlu kita waspadai," pungkasnya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Sektor Pariwisata Bisa Jadi Tonggak Pemerintah Lawan Resesi Global
Hadapi Resesi, Pemerintah Diminta Perhatikan 2 Hal Ini
Jokowi: Hampir Semua Negara Pertumbuhan Ekonominya Turun, Kita Masih Diberi 5 Persen
Presiden Jokowi: Kita Harus Hati-Hati, Ada Negara yang Sudah dan Menuju Resesi
Pemerintah Akui Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tertekan Dampak Resesi Dunia
Pemerintah Yakinkan Komposisi APBN Mampu Jaga Pertumbuhan Ekonomi di 5 Persen

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini