4 Produk impor ini buat tenaga kerja Indonesia terkena PHK

Senin, 7 April 2014 06:32 Reporter : Novita Intan Sari
4 Produk impor ini buat tenaga kerja Indonesia terkena PHK Ilustrasi Ekspor Impor. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Ekonomi Indonesia disebut sudah tidak berdaulat. Pasar Tanah Air kini lebih banyak dibanjiri barang impor dibandingkan produk anak negeri.

Fenomena tersebut tentunya bukan tanpa dampak. Industri dalam negeri, akibat serbuan barang impor, menjadi kalah bersaing.

Imbasnya para industri ini harus melakukan relaksasi demi menekan beban biaya operasional. Cara yang paling sering ditempuh ialah memecat karyawan.

Pemerintah bertindak anomali pada fenomena banjir impor ini. Di satu sisi, berusaha mencegah agar perusahaan tidak memecat karyawannya. Namun, di sisi lain, justru memberi izin barang impor terus menyerbu Indonesia.

Seperti belum lama ini, dalam menghadapi melambatnya perekonomian nasional, pemerintah telah memastikan akan memberikan insentif bagi industri padat karya. Bentuknya berupa pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) badan.

Kebijakan ini ditujukan agar perusahaan padat karya tidak terbebani dan bisa tetap menjalankan aktivitas bisnisnya di tengah gejolak ekonomi nasional.

"Ada insentif sehingga biaya operasional jadi lebih kecil. Dengan begitu, perusahaan dapat profit yang lebih besar dan bisa ekspansi," ujar Menteri Keuangan Chatib Basri di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.

Chatib menegaskan, pemberian insentif tersebut bertujuan untuk mencegah perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Ini sesuai instruksi Presiden SBY agar pengusaha tidak dengan mudah memecat karyawannya.

Akan tetapi, sebagai contoh komoditas pangan, importasi sepanjang pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) justru terus mengalami peningkatan sejak dia pertama kali menjabat pada 2004 hingga 2013, jelang setahun sebelum lengser.

Menurut data yang dikutip merdeka.com dari laporan Pencapaian Kinerja Pembangunan Periode Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I dan KIB II terbitan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), catatan importasi bahan pangan utama sepanjang KIB II meningkat lebih besar dibanding dengan KIB I.

Importasi beras sejak 2004 hingga 2013 mengalami fluktuasi. Pada 2004, impor beras sebanyak 236 ribu ton, lantas, saat 2006 jumlah impor beras naik menjadi 438 ribu ton dan mencapai 1,4 juta ton pada 2007.

Sempat menurun dua tahun, tren impor beras kembali naik mulai tahun 2010, 2011, dan 2012 menjadi masing-masing sebesar 687 ribu ton, 2,7 juta ton serta 1,7 juta ton.

Impor komoditas cabai juga mengalami tren yang meningkat sejak tahun 2004 hingga 2013. Tahun 2004, impor cabai sebesar 7 ribu ton dan menurun menjadi 6 ribu ton pada tahun 2005.

Namun demikian, mulai tahun 2006, tren importasi cabai selalu meningkat dari 9 ribu ton berturut-turut menjadi 11 ribu ton, 14 ribu ton, 16 ribu ton, 18 ribu ton, 24,4 ribu ton, dan baru menurun di tahun 2012 serta 2013 menjadi masing-masing 17 ribu ton dan 12 ribu ton.

Sementara importasi daging sapi antara tahun 2004 hingga 2010 mengalami kenaikan berturut-turut sebesar 11 ribu ton, 19 ribu ton, 24 ribu ton, 39 ribu ton, 45,6 ribu ton, 67 ribu ton, dan 90 ribu ton.

Lalu barang impor apa saja yang sampai menyebabkan industri dalam negeri harus melakukan pemecatan karyawan karena kerap kalah bersaing? Berikut merdeka.com merangkumnya.

1 dari 4 halaman

Tepung terigu

Terigu.. ?2012 Merdeka.com

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menyatakan mulai Mei hingga Desember 2014 akan membatasi izin impor tepung terigu dengan menggunakan sistem kuota. Kebijakan ini bertujuan agar industri tepung terigu di dalam negeri tidak terganggu oleh serbuan produk impor.

"Impor tepung terigu akan dibatasi. Besarannya 441.141 ton dimulai periode 4 Mei hingga 4 Desember 2014," ungkap Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi, di Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Bachrul sedikit bercerita mengenai latar belakang kebijakan ini. Menurut Bachrul, dulu impor terigu tidak diatur dan membuat industri dalam negeri mengurangi karyawannya atau lay off.

Pada masa itu, pemerintah mengenakan bea masuk 20 persen untuk melindungi industri dalam negeri. Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMPTS) terigu impor sebesar 20 persen ini dulu berlaku sejak tanggal 5 Desember 2012 dan selesai pada pertengahan tahun lalu.

"Kalau nanti impornya melewati batas yang ditentukan, akan dikenakan tarif bea masuk. Ini latar belakangnya dulu ada industri kita lay off (tutup). Kita lindungi industri dalam negeri," jelasnya.

2 dari 4 halaman

Kedelai

kedelai. ?2012 Merdeka.com/arie basuki

Awal September, Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengakui, pihaknya terpaksa memecat karyawan. Ini lantaran produsen tahu-tempe tidak sanggup menahan pembengkakan biaya produksi lantaran harga kedelai melambung.

"Kami sudah pasti tidak tahan, sepanjang sejarah inilah harga kedelai yang tertingi. Kami sedih, menderita. Sekarang sudah ribuan pengrajin mengurangi produksi, dan menghentikan karyawannya," ucap Aip di Gedung Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Jakarta.

Melambungnya harga karena selama ini Indonesia selalu diserbu oleh kedelai impor. Hal ini membuat saat negara asal impor mengalami gangguan pasokan maka akan berdampak pada Indonesia.

Kedelai impor juga membuat produsen dalam negeri kalah bersaing. Implikasinya hasil produksi lokal selalu tidak mampu memenuhi besaran permintaan.

3 dari 4 halaman

Buah

Pasar Tradisional. ?2013 Merdeka.com

Sama seperti kedelai, ketergantungan pasar Indonesia terhadap buah impor membuat sejumlah pekerja harus mengalami pemecatan saat terjadi gangguan pasokan.

Asosiasi Pedagang Pasar Induk Kramat Jati mencatat akibat gangguan pasokan, pada medio Maret tahun lalu, memaksa pedagang harus memecat puluhan karyawannya.

"Yang kami sesalkan sudah empat bulan di Pasar Induk 90 persen kosong buah, saya berhentikan anak buah saya sudah banyak," ujar perwakilan pedagang Kramat Jati Ahmad Widodo.

Bagi pedagang buah di pasar, realitasnya pasokan buah dalam negeri selalu musiman. Itu sebabnya, pedagang berpaling pada buah impor.

Runtuhnya pasokan buah lokal diyakini karena serbuan produk impor. Sehingga pedagang pun harus menyesuaikan keadaan.

4 dari 4 halaman

Makanan dan minuman

Supermarket. REUTERS/Enny Nuraheni

Pada 2010, Apindo mencatat sebanyak 15 perusahaan di Bekasi, Jawa Barat akan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 30.000 buruh.

Salah satu alasannya ialah tak bisa bersaingnya bahan baku lokal dengan produk China. Produk China dijual lebih murah.

"Paling banyak perusahaan makanan minuman," kata Ketua Apindo Bekasi, Purnomo Narmiadi kala itu.

Tak mampu bersaingnya produk Indonesia membuat sejumlah perusahaan melakukan efisiensi karena pendapatan tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. [bim]

Baca juga:
Hadapi pasar bebas ASEAN, balai latihan kerja perlu diperkuat
BI: Konsumen prediksi kenaikan harga muncul 3 bulan ke depan
DPR soroti urgensi pemindahan pengetahuan saat pasar bebas ASEAN
Jelang pasar bebas ASEAN, tenaga kerja Indonesia masih rapuh
Kemiskinan diprediksi sulit hilang dari Indonesia

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini