4 Fakta baru larangan gesek kartu ATM dan kredit di mesin kasir

Rabu, 6 September 2017 08:00 Reporter : Saugy Riyandi
4 Fakta baru larangan gesek kartu ATM dan kredit di mesin kasir Ilustrasi ATM dan kartu Kredit. Ilustrasi shutterstock.com

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) melarang dilakukannya penggesekan ganda (double swipe) dalam transaksi nontunai. Dalam setiap transaksi, kartu hanya boleh digesek sekali di mesin Electronic Data Capture (EDC), dan tidak dilakukan penggesekan lainnya, termasuk di mesin kasir.

Pelarangan penggesekan ganda tersebut bertujuan untuk melindungi masyarakat dari pencurian data dan informasi kartu. "Pengaturan mengenai penggesekan ganda kartu nontunai telah tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran," tulis BI dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (5/9).

Pada Pasal 34 huruf b, Bank Indonesia melarang penyelenggara jasa sistem pembayaran menyalahgunakan data dan informasi nasabah maupun data dan informasi transaksi pembayaran selain untuk tujuan transaksi pemrosesan pembayaran. Tercakup di dalamnya adalah larangan pengambilan data melalui mesin kasir di pedagang.

Salah satu pihak dalam pemrosesan transaksi pembayaran adalah acquirer, yaitu bank atau lembaga yang bekerjasama dengan pedagang, yang dapat memproses data alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) yang diterbitkan oleh pihak lain. Untuk mendukung perlindungan data masyarakat, acquirer wajib memastikan kepatuhan pedagang terhadap larangan penggesekan ganda.

"Acquirer juga diharapkan mengambil tindakan tegas, antara lain dengan menghentikan kerja sama dengan pedagang yang masih melakukan praktik penggesekan ganda. Untuk kepentingan rekonsiliasi transaksi pembayaran, pedagang dan acquirer diharapkan dapat menggunakan metode lain yang tidak melibatkan penggesekan ganda."

Masyarakat pun dapat berkontribusi menghindari praktik penggesekan ganda dengan senantiasa menjaga kehati-hatian dalam transaksi nontunai, dan tidak mengizinkan pedagang melakukan penggesekan ganda. Apabila masyarakat mengetahui atau mengalami praktik penggesekan ganda, masyarakat dapat melaporkan ke Bank Indonesia Contact Center (BICARA) 131, dengan menyebutkan nama pedagang dan nama bank pengelola yang dapat dilihat di stiker mesin EDC.

Larangan ini menimbulkan pro dan kontra. Padahal, aturan ini membuat kerahasiaan data nasabah dapat terjaga. Berikut pro dan kontra atas larangan ini.

1 dari 4 halaman

Harus dilakukan untuk pembukuan perusahaan ritel

Ilustrasi ATM dan kartu Kredit. Ilustrasi shutterstock.com

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mande mengungkapkan alasan perlunya penggesekan (swipe) kartu di mesin kasir saat pembayaran non tunai. Hal ini bertujuan untuk memudahkan laporan keuangan.

Saat transaksi terjadi, lanjutnya, kasir yang melayani pembeli dengan pembayaran non tunai tentu membutuhkan bukti pembayaran tersebut. Salah satunya dengan cara tempel (tapping) atau gesek (swipe) kartu yang digunakan pembeli supaya datanya terbaca dan terdata.

"Kaitannya dengan sistem pembayaran yang dilakukan. Sebagai bukti. Kalau digesek di kasir itu sebagai bukti bahwa berbelanjanya lewat kartu," ujar Roy kepada merdeka.com, Selasa (5/9).

Roy menambahkan, pada umumnya laporan keuangan dibedakan berdasarkan cara pembayaran konsumen. Menurutnya, berbeda apabila konsumen melakukan pembayaran secara tunai.

"Membayar yang dengan tunai dipisahkan karena kan pelaporannya beda. Kalau kartu kredit kan itu kan enggak langsung masuk ke rekening perusahaan, harus beberapa hari baru banknya transfer. Kalau tunai kan langsung," katanya.

Meski demikian, Roy menyatakan proses gesek kartu di mesin kasir memang cukup satu kali saja. Dua kali gesek, katanya, hanya dilakukan untuk pegawai baru yang belum mengerti pembukuan.

"Dua kali gesek itu kan sebenarnya enggak seharusnya demikian. SOP kan itu sekali," jelasnya.

Jika sistem dua kali gesek kartu saat pembayaran dilarang, Roy menilai hal tersebut butuh proses sosialisasi. "Kan berarti perlu ada semacam penyesuaian lagi. Nah penyesuaian itu tentu kan ada proses waktu lagi," pungkasnya.

Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) melarang dilakukannya penggesekan ganda (double swipe) dalam transaksi nontunai. Dalam setiap transaksi, kartuhanya boleh digesek sekali di mesin Electronic Data Capture (EDC), dan tidak dilakukan penggesekan lainnya, termasuk di mesin kasir.

Pelarangan penggesekan ganda tersebut bertujuan untuk melindungi masyarakat dari pencurian data dan informasi kartu. "Pengaturan mengenai penggesekan ganda kartu nontunai telah tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran," tulis BI dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (5/9).

2 dari 4 halaman

Konsumen lapor jika kartu ATM digesek dua kali

Agus Martowardojo. ©2017 Merdeka.com/anggun

Bank Indonesia telah melarang penggesekan ganda di mesin Electronic Data Capture (EDC) dan kasir. BI pun akan melakukan pengawasan kepada penerbit kartu dan merchant untuk penggesekan ganda.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengatakan konsumen harus menolak apabila pegawai perusahaan ritel melakukan dua kali gesek kartu. Apabila memaksa, Agus mengimbau konsumen diminta untuk melaporkan ke Bank Indonesia.

"Laporkan ke BI biar diambil tindakan. BI akan menegur langsung merchantnya. Kalau sampai terjadi hal seperti itu betul-betul si mitra dari pada merchant harus mengambil tindakan," katanya, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (5/9).

Agus mengatakan, hal tersebut menjadi perhatian BI dalam rangka melindungi konsumen. Sebab, ketika penggesekan ganda secara otomatis identitas konsumen akan tersalin di komputer kasir.

"Konsumen harus melihat jika sudah digesek di EDC mesti menolak dengan tegas jika ada kasir yang melakukan gesek ganda," pungkasnya.

3 dari 4 halaman

Belum ada laporan pencurian data nasabah

Indomaret. ©2015 merdeka.com/darmadi sasongko

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey mengatakan selama ini pihaknya belum mendapat laporan adanya pencurian data pembeli yang melakukan pembayaran non tunai. Penggesekan kartu di mesin kasir dinilai berpotensi mencuri data pembeli.

"Kalau di anggota perusahaan ritel, kami selama ini tidak ada keluhan ya dari para konsumen untuk masalah itu. Jadi apa yang dibilang pencurian data atau apa segala di anggota-anggota kita tuh belum pernah ada saya mendapatkan laporan itu," ujar Roy kepada merdeka.com, Selasa (5/9).

Akan tetapi, Roy tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi di perusahaan ritel yang tidak terdaftar di asosiasi pengusaha. Saat ini, lanjutnya, masih cukup banyak retail yang tidak terdaftar di asosiasi, terutama yang berada di daerah.

"Beberapa di daerah atau di pusat belanja daerah itu kadang kala mereka juga tidak masuk ke asosiasi. Jadi mereka tidak tau mengenai perkembangan peraturan-peraturan," ujarnya.

Roy menambahkan para pengusaha ritel belum mendapatkan laporan penyalahgunaan data nasabah dari gesek kartu di mesin kasir. Namun, apabila BI menilai gesek kartu di mesin kasir berpotensi membahayakan data nasabah maka aturan ini harus didukung.

"Tapi kalau BI melihat bahwa ini adalah sesuatu yang bisa menggelapkan data ya pelajari lah tentang hal tersebut karena selama ini kita belum ada dapat laporan mengenai konsumen yang merasa dirugikan dengan swipe itu. Jadi secara prinsip apa yang diatur oleh pemerintah termasuk rencana ini supaya kartu tidak digesekkan dan lain sebagainya ya tentunya pasti maksud dan tujuannya baik," pungkasnya.

Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) melarang dilakukannya penggesekan ganda (double swipe) dalam transaksi nontunai. Dalam setiap transaksi, kartuhanya boleh digesek sekali di mesin Electronic Data Capture (EDC), dan tidak dilakukan penggesekan lainnya, termasuk di mesin kasir.

Pelarangan penggesekan ganda tersebut bertujuan untuk melindungi masyarakat dari pencurian data dan informasi kartu. "Pengaturan mengenai penggesekan ganda kartu nontunai telah tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran," tulis BI dalam keterangan tertulisnya diJakarta, Selasa (5/9).

4 dari 4 halaman

Aturan ini kurangi penyalahgunaan data nasabah

Ilustrasi ATM dan kartu Kredit. Ilustrasi shutterstock.com

Bank Indonesia (BI) melarang penggesekan ganda atau double swipe dalam transaksi non tunai. Dalam setiap transaksi, kartu hanya boleh digesek sekali di mesin Electronic Data Capture (EDC), dan tidak dilakukan penggesekan lainnya, termasuk di mesin kasir.

Pengamat Perbankan, David Sumual menanggapi positif kebijakan ini. Menurutnya, data nasabah sudah seharusnya dilindungi dari segala macam kemungkinan untuk disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Sebenarnya sudah lama usulan karena data yang digesek EDC itu, di mesin kasir itu kan bisa direkam disitu. Sudah cukup banyak kasusnya di mana ketika ditelusuri oleh pihak kepolisian, data dipakai untuk bobol ATM kan. Dan datanya itu didapat dari kasirnya," katanya.

Namun, keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada keterlibatan semua pihak, seperti bank, pedagang dan masyarakat, maka diperlukan sosialisasi lebih jauh dan intensif, sehingga masyarakat sungguh sadar akan penting keamanan data.

"Harus ada partisipasi semua pihak. Dari perbankan dan juga masyarakat. Perlu ada sosialisasi juga. Kalau dari sisi regulasi sudah ada peraturan dari Bank Indonesia," jelas David.

"Untuk masyarakat, pengamanan dalam bertransaksi itu diikuti semuanya. Itu semua dalam rangka pengamanan. Terus kalau bertransaksi di internet. Kalau ada transaksi yang mencurigakan biasanya dari perbankan juga memberi peringatan. Harap dipatuhi," pungkasnya.

[sau]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini