4 Cerita miris pedagang Glodok, jual kios hingga untung pas-pasan

Rabu, 19 Juli 2017 06:00 Reporter : Saugy Riyandi
4 Cerita miris pedagang Glodok, jual kios hingga untung pas-pasan Glodok Sepi. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Kios-kios di pusat penjualan barang elektronik, Pasar Glodok mulai banyak yang tutup. Toko elektronik yang buka pun tidak sebanding dengan jumlah pembeli yang datang.

"Lagi sepi bang. Sudah hampir dua bulan belakangan ini sepi," ujar pedagang laptop Yono di Pasar Glodok, Taman Sari, Jakarta, Sabtu (15/7).

"Tidak tahu juga (kenapa pengunjung sepi). Ya mungkin karena ada yang jualan online itu ya, jadi semuanya pada lari ke online," kata Yono.

Pantauan merdeka.com, suasana yang lebih lengang lagi akan terlihat bila pengunjung beranjak ke lantai yang lebih tinggi. Jumlah deretan toko yang ditutup makin banyak di tiap lantai.

Hal ini menyebabkan lingkungan sekitar menjadi kotor dan tidak terawat. Lorong depan toko yang tutup tampak tidak dibersihkan. Hal ini nyata dengan banyaknya puntung rokok dan bungkusan makanan ringan yang dibuang begitu saja.

Selain itu, tumpukan kardus barang elektronik yang memenuhi lorong serta minimnya penerangan pun menambah kesan tak terawat sehingga membuat pengunjung enggan lewat.

Di lantai 5 Pasar Glodok, kondisi cukup miris. Banyak toko tutup dan pengunjung tak banyak yang datang. Cuma suara pedagang yang ngobrol satu sama lain atau menyapa satu atau pengunjung yang lewat.

"Kalau yang ini setahu saya bukan pada tutup, tapi sejak saya mulai di sini memang belum pernah buka," kata penjual game, Chandra.

"Ya seperti saya bilang tadi. Teknologi sudah pada ketinggalan mungkin cari usaha lain, buka toko lain kali. Kalau jual kayak suku cadang, alat-alatnya itu tidak bakal bertahan. Kalau buka sih tidak ada, banyaknya yang tutup," tambahnya.

Namun, ada cerita yang lebih miris lagi dari para pedagang. Berikut ceritanya seperti dirangkum merdeka.com:

1 dari 4 halaman

Beli kios Rp 70 juta, jual Rp 15 juta

Pasar Glodok sepi. ©2017 merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Pusat penjualan barang elektronik, Pasar Glodok, kini sepi pengunjung. Jarang sekali ada transaksi jual beli antara pedagang dan pembeli di pasar tersebut.

Kondisi ini membuat para pedagang menjual lapak atau kiosnya ke penjual lain. Bahkan, pedagang rela jual murah karena tidak ada lagi keuntungan yang didapat dari kios tersebut.

Pedagang elektronik, Marvi (50) mengaku harus gulung tikar karena sepinya pengunjung Pasar Glodok. Dia pun turut menjual kiosnya ke pedagang lain seharga Rp 15 juta.

"Sepi, pemasukan sedikit. Daripada rugi jadi dijual saja. Saya beli kios Rp 70 juta tapi saya jual 15 juta," ujarnya kepada merdeka.com di Jakarta, Selasa (18/7).

2 dari 4 halaman

Hanya menutup kebutuhan sehari-hari

Pasar Glodok sepi. ©2017 merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Pedagang elektronik, Lili (42) menegaskan, sepinya pengunjung sudah terasa semenjak setahun terakhir. Lili pun bercerita pemasukannya saat ini hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.

"Omzet berkurang jauh, dulu uang pemasukan bersih bisa disisihkan sebagian untuk disimpan. Kalau sekarang uang masuk buat bayar sewa dan hanya untuk makan sehari-hari," kata Lili.

3 dari 4 halaman

Kios dijadikan gudang

Glodok Sepi. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Pasar Glodok pusat penjualan barang elektronik tampak sepi pengunjung. Tak hanya itu, suasana lengang juga diakibatkan banyaknya toko elektronik yang ditutup.

Beberapa pedagang mengaku sudah cukup banyak rekan mereka sesama pedagang yang menutup toko dan pindah ke tempat lain. Ada pula yang menjadikan toko yang tutup sebagai gudang.

"Banyak yang tutup. Sudah pindah. Ada juga yang dijadiin gudang saja sama pemiliknya. Jadi tokonya di sebelah, gudangnya di sebelah," kata Sugeng, pemilik reparasi Handy Talkie kepada merdeka.com, di Pasar Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, Sabtu (15/7).

Selain dijadikan gudang oleh pemiliknya, toko yang tutup juga disewakan oleh pemilik sebelumnya. Di beberapa sisi pasar, tampak berapa toko yang tutup, disertakan pesan singkat 'disewakan' lengkap dengan nomor kontak pemilik sebelumnya.

"Yang itu sudah tutup. Pindah dia ke Kalimalang. Kayaknya masih punya dia, hanya disewakan. Tuh nomor hp-nya masih ada," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Pecat pegawainya

Glodok Sepi. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Sepinya pengunjung di Pasar Glodok, Jakarta, membuat pedagang harus memutar otak untuk mencari jalan keluar agar dapat menjalankan usahanya tanpa rugi. Sebagian pedagang memilih untuk mengurangi pegawainya dan menjalankan usaha sendiri.

Pedagang elektronik, Lili (42) mengaku pengurangan pegawai untuk meminimalisir pengeluarannya. Awalnya, dia memiliki satu orang pegawai, namun karena sepi akhirnya dia memberhentikan pegawai tersebut,

"Dari pada mikirin gaji pegawai, apalagi kondisinya seperti ini transaksi tidak banyak. Jadi lebih baik jaga sendiri," katanya kepada merdeka.com, Selasa (18/7).

Pedagang lainnya, Rini (39), juga mengalami hal yang sama. Dia mengaku pendapatannya turun hampir 60 persen, sehingga tidak dapat membayar pegawai.

"Dulu pegawai sampai lima orang, soalnya kalau lagi ramai suka ribet. Pendapatan per hari biasanya paling banyak Rp 500.000, kalau sekarang untung-untungan tidak menentu. Jadi pegawai sekarang hanya dua orang," jelas Rini.

Rini menegaskan sepinya pembeli dan turunnya omzet disebabkan maraknya perdagangan online yang sedang terjadi.

"Karena sekarang sudah canggih, semuanya sudah bisa di akses dari internet. Pembelian dan pembayaran sudah otomatis. Jadi tidak perlu jalan-jalan ke sini," pungkasnya. [sau]

Baca juga:
Cerita pedagang Glodok beli kios Rp 70 juta, dijual hanya Rp 15 juta
Demi bertahan hidup, Pedagang Glodok pecat para pegawainya
Manajer soal Pasar Glodok sepi: 2-3 Bulan lagi kembali seperti biasa
Manajer Pasar Glodok: Dari 1.880, 564 kios saat ini tutup

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini