3 Bukti Kinerja Ekonomi Indonesia Tetap Kinclong Meski Dihantam Badai Pandemi

Selasa, 7 Desember 2021 08:30 Reporter : Idris Rusadi Putra
3 Bukti Kinerja Ekonomi Indonesia Tetap Kinclong Meski Dihantam Badai Pandemi pertumbuhan ekonomi. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersyukur pergerakan ekonomi saat ini sudah mulai membaik. Situasi ini berbanding terbalik dengan masa-masa awal pandemi Covid-19, di mana pertumbuhan ekonomi nasional terperosok ke lubang resesi.

"Ekonomi kita Alhamdulillah mulai kelihatan naiknya. Kita ingat di 2020 ekonomi kita minus 2,19 persen di kuartal IV. Kemudian di kuartal I 2021 kita sudah minus 0,74 persen, artinya ada kenaikan-kenaikan," ujarnya dalam sesi pengarahan kepada Kepala Kesatuan Wilayah 2021 di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/12).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun melompat ke angka 7,07 persen pada kuartal II 2021. Itu bisa terjadi lantaran pandemi Covid-19 lebih terkendali, sehingga laju mobilitas pun naik.

Namun, pertumbuhan ekonomi kembali merosot pada kisaran 3,51 persen di kuartal III 2021, karena pemerintah kala itu menerapkan kebijakan PPKM Darurat akibat penyebaran varian delta yang mengganas.

Oleh karenanya, Jokowi menekankan pengendalian Covid-19 jadi kunci utama agar ekonomi bisa lanjut bergerak naik hingga 2022 mendatang.

Namun demikian, kondisi ekonomi Indonesia cukup membanggakan di tengah pandemi. Berikut detailnya:

2 dari 4 halaman

Rasio Utang Rendah

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu menyebut bahwa kenaikan rasio utang Indonesia relatif kecil dibanding negara lain saat pandemi melanda.

"Kenaikan rasio utang kita selama pandemi itu hanya sekitar 10 persen dari produk domestik bruto (PDB), yakni dari kisaran 30 persen terhadap PDB di 2019 menjadi sekitar 40 persen PDB pada 2021," kata Febrio di Jakarta, Senin (6/12).

Dia menyebutkan, rasio utang di banyak negara selama pandemi melonjak lebih tinggi dari level Indonesia, misalnya rasio utang Argentina yang naik 50 persen PDB, China hingga 40 persen PDB, begitu pula dengan rasio utang Brasil dan Turki. Maka dari itu, rasio utang Indonesia saat ini relatif aman dan tidak ada masalah selama pandemi, maupun selama bertahun-tahun lamanya sebelum pandemi melanda.

Febrio menjelaskan, rasio utang Indonesia selalu aman lantaran selama ini, khususnya sejak 2016 defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selalu di bawah tiga persen PDB dan cenderung lebih sering di bawah dua persen PDB. "Jadi fiskal kita sangat disiplin, itulah yang membuat rasio utang kita terhadap PDB sangat rendah di kisaran 30 persen sebelum pandemi, tepatnya di tahun 2019," ucap dia.

Menurut dia, level tersebut merupakan salah satu rasio utang terendah di dunia, apalagi untuk negara dengan perekonomian terbesar ke-16 dunia, seperti Indonesia.

Adapun rata-rata utang negara-negara maju pada saat itu sudah berada di atas 80 persen PDB, bahkan terdapat beberapa negara yang memiliki rasio utang di atas level 100 persen dari PDB.

"Itu yang membuat kita sangat aman ketika kita menghadapi pandemi. Saat kita menghadapi tantangan pandemi, kami sadar negara harus hadir sehingga harus melebarkan defisit. Dalam konteks ini, fiskal harus hadir dengan sangat kuat makanya kami sebut APBN itu sebagai instrumen countercyclical," kata Febrio.

3 dari 4 halaman

Nilai Tukar Rupiah Terbaik di Asia

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo menyebut bahwa Rupiah saat ini menjadi salah satu mata uang terbaik di Asia, khususnya di antara negara-negara emerging Asia.

"Jauh di bawah kita ada Thailand, Malaysia, hingga Singapura yang memiliki depresiasi nilai tukarnya hingga belasan persen, sedangkan kita hanya di kisaran 1,3 persen sampai 1,6 persen," kata Dody di Jakarta, Senin (6/12).

Dengan demikian, dia berharap perubahan nilai tukar Rupiah yang signifikan tidak terjadi dan bank sentral bisa terus menjaga stabilisasi mata uang Garuda.

Selama ini, Indonesia bisa menunjukkan kepada pasar bahwa seluruh pihak bisa menstabilkan nilai tukar Rupiah. "Jangan dilihat dari levelnya dulu di Rp13.000 sekarang di Rp14.000, tetapi tolong lihat volatilitas dan dari sisi pergerakan nilai tukar Rupiah," kata Dody.

Maka dari itu, stabilnya nilai tukar Rupiah saat ini bisa menahan inflasi domestik tak melonjak terlalu tinggi seperti di negara-negara lain.

Selain itu, pasokan barang di Tanah Air juga mampu menutupi permintaan yang meningkat setelah pandemi mereda akibat membaiknya mobilitas dan kegiatan ekonomi, sehingga inflasi bisa terjaga.

Dody pun berpendapat inflasi turut bisa terjaga karena produsen di dalam negeri mampu menahan lonjakan harga komoditas domestik, sehingga tidak terefleksikan kepada harga konsumen. “Dengan demikian, ini strategi kami tanpa harus mengubah kebijakan suku bunga acuan dalam menjaga inflasi, tetapi tetap dilakukan secara cermat," katanya.

4 dari 4 halaman

Ekonomi Sejajar China

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu membeberkan asal usul Indonesia masuk dalam anggota negara G20. Salah satunya karena Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi strategis. Dalam 20 tahun terakhir hingga sebelum pandemi, pertumbuhan ekonomi nasional selalu berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global.

BACA JUGA:
{news_title}

"Perekonomian Indonesia dalam 20 tahu terakhir tidak pernah di bawah perekonomian global," kata Febrio dalam webinar Presidensi G20: Manfaat Bagi Indonesia dan Dunia, Jakarta, Senin (6/12).

Dia melanjutkan, forum G20 merupakan 20 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Saat ini posisi Indonesia berada di urutan ke-16 berdasarkan PDB (Pendapatan Domestik Bruto).

Meski begitu, posisi Indonesia telah sejajar dengan China dan India yang pertumbuhan ekonomi negaranya selalu di atas rata-rata perekonomian global. Sementara negara-negara maju lainnya biasanya memiliki tren yang fluktuatif.

BACA JUGA:
{news_title}

"Kalau negara lain silih berganti, kadang melebihi rata-rata perekonomian global atau sebaliknya. Tetapi mereka lebih sering di bawah rata-rata perekonomian global,” katanya.

Untuk itu, China, India dan Indonesia menjadi tiga negara yang memimpin dengan perekonomian global. Khususnya Indonesia yang dalam 15 tahun terakhir yang memiliki pertumbuhan di kisaran 5 persen hingga 6 persen. "Indonesia, China dan India ini leader perekonomian global karena pertumbuhan ekonomi mereka bisa 2-3 persen," kata dia mengakhiri. [idr]

Baca juga:
Komisi XI: Ekonomi Indonesia Berada Pada Zona Positif di 2021
Pemda Diminta Perkuat Permodalan BPR Genjot Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Pemerintah Klaim Presidensi G20 Indonesia 2022 Bantu Serap 33.000 Tenaga Kerja
Presiden Jokowi Beberkan 3 Hal Penting dalam Pembangunan Ekonomi Bali
Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Sektor Properti Diprediksi Terus Tumbuh di 2022
Jokowi: Pengendalian Covid-19 Jadi Kunci Utama Ekonomi Bisa Bergerak Naik di 2022

BACA JUGA:
{news_title}

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini