2020, Kartu Multi Trip KRL Bisa Dipakai untuk MRT

Senin, 2 Desember 2019 15:24 Reporter : Anisyah Al Faqir
2020, Kartu Multi Trip KRL Bisa Dipakai untuk MRT Jumpa pers terkait penentuan harga tiket KRL Terintegrasi MRT. ©2019 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) telah melakukan integrasi ticketing Mass Rapid Transportation (MRT) dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Nantinya, dua moda transportasi massal ini akan memiliki tiket yang sama.

"Sekarang sudah terintegrasi antar moda yang satu dengan yang lainnya," kata Kepala BPTJ Bambang Prihartono di Jakarta, Senin (2/12).

Dia menjelaskan, tiket terintegrasi ini sudah mendapat restu dari Bank Indonesia pada 14 November lalu, sehingga akan memudahkan masyarakat dalam menggunakan transportasi massal.

Saat ini, prosesnya sudah berjalan secara teknis di lapangan. Menurutnya, PT KCI sudah siap melakukan integrasi, namun masih ada kendala dari MRT dalam pemasangan alat. Diperkirakan integrasi ini bisa mulai diterapkan pada awal tahun 2020.

"Insya Allah nanti kuartal pertama tahun 2020 bisa digunakan," ujar Bambang.

Jika ini sudah berjalan, masyarakat tak perlu repot dalam membeli kartu saat berpindah moda transportasi, khususnya antara MRT dan KRL. Sebab, keduanya sudah terintegrasi. Tidak berhenti di situ, BPTJ juga bakal melakukan hal serupa terhadap moda transportasi lainnya yang belum terintegrasi.

1 dari 1 halaman

MRT Jakarta Siap IPO di 2022

PT MRT Jakarta mempersiapkan diri untuk melantai perdana di Bursa Efek Indonesia atau initial public offering (IPO) pada 2022, apabila perusahaan mampu menjaga kinerja positif. Salah satunya bisa membayarkan dividen kepada pemegang saham di 2021.

"Pada 2021 komitmen kami mulai membayar dividen, kami akan lihat, kami akan bagi mana dana pengembangan, mana dana dividen sehingga kalau tiga tahun (2019-2021) ini berturut-turut dijaga keuangan kami seperti ini, pada 2022 kami mengusulkan IPO," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar di Jakarta, dikutip Antara, Rabu (27/11).

William menyebutkan, pada tahun pertama pengoperasian MRT, yakni sejak April hingga Desember 2019, pihaknya optimistis membukukan laba bersih Rp60-70 miliar dari pendapatan Rp1 triliun dan pengeluaran biaya operasional Rp940 miliar.

Pendapatan itu ditopang paling besar yakni dari non tiket (non-farebox) Rp225 miliar, sementara tiket (farebox) Rp180 miliar. Dari pendapatan non tiket itu, kontribusi paling besar yakni periklanan 55 persen, hak penamaan stasiun (naming rights) 33 persen, telekomunikasi dua persen dan retail serta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) satu persen.

Dia mengatakan, apabila pendapatan dari non tiket ini terus ditingkatkan, pendapatan dan laba akan terdongkrak sebagaimana yang ditargetkan, yakni laba bersih Rp200-250 miliar pada 2021 dan Rp300-350 miliar pada 2022. [azz]

Baca juga:
MRT Jakarta Siap Melantai di Bursa Saham di 2022
Tahun Pertama Operasi, Laba MRT Jakarta Ditarget Tembus Rp70 Miliar
Antara Trotoar & Rangsangan buat Warga Ibu Kota Beralih ke Transportasi Publik
Beroperasi Sejak Maret 2019, Intip Sumber Pendapatan MRT Jakarta
Pembangunan MRT Bundaran HI-Ancol Timur Ditargetkan Rampung 2024
Pemerintah Bakal Bangun MRT Cikarang-Balaraja, Target Selesai 2026

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini