Usai Tersangka, Terungkap Fakta-fakta Bohong FS Soal Eksekusi Brigadir J

Jumat, 12 Agustus 2022 07:59 Reporter : Tantiya Nimas Nuraini
Usai Tersangka, Terungkap Fakta-fakta Bohong FS Soal Eksekusi Brigadir J Irjen Sambo Datangi Komnas HAM. ©2021 Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Irjen Ferdy Sambo telah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus kematian Brigadir J alias Nofriansyah Yoshua Hutabarat. Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8).

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, fakta-fakta baru mulai muncul ke permukaan. Khususnya kebohongan Ferdy Sambo terkait eksekusi Brigadir J di Jalan Saguling III, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Adapun fakta-fakta bohong Ferdy Sambo mengenai eksekusi kematian Brigadir J adalah sebagai berikut.

2 dari 5 halaman

Ada Baku Tembak

Kuasa Hukum Keluarga Brigadir J, Kamarudin Simanjuntak menyampaikan bahwa pihaknya yakin tidak ada baku tembak dalam kasus kematian Brigadir J di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. Dia juga menyatakan pelaku yang menewaskan Brigadir J bukan lah Bharada E.

"Tidak ada baku tembak, ini murni pembunuhan berencana," tutur Kamarudin kepada Liputan6.com, Sabtu (6/8).

Lebih lanjut, Kamarudin menyatakan, Brigadir J mengalami penyiksaan sebelum tewas dihujani timah panas. Terlebih, dia menyebut pelakunya bukan Bharada E.

"Pelakunya bukan Barada E," tegasnya.

Kamarudin menyampaikan, pelaku dalam kasus kematian Brigadir J lebih dari satu orang. Dia pun sudah mengantongi nama-nama terduga pelaku dalam perkara tersebut.

"Lebih dari satu orang," ungkapnya.

Menurutnya, pihaknya sudah membeberkan dugaan pelaku lain dalam kasus kematian Brigadir J ke penyidik. Meski begitu, dia masih enggan membeberkan identitas ataupun inisial para terduga pelaku.

"Sudah kami serahkan kepada penyidik," tutup Kamarudin.

3 dari 5 halaman

Tidak Berada di Lokasi Penembakan

Ketika terjadi kasus dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir J kepada Istrinya di rumah dinasnya di Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) lalu, posisi Kadiv Propam Polri, Irjen Pol Ferdy Sambo dikabarkan sedang melakukan test PCR Covid.

Alhasil, Ferdy yang saat itu datang ke rumah karena dikabarkan melalui telepon istrinya pun disebut tak ada di lokasi. Ketika insiden baku tembak berlangsung antara Brigadir J dengan Bharada E yang berujung tewasnya Brigadir J.

"Pada saat kejadian, Kadiv Propam tidak ada di rumah karena sedang PCR test," ungkap Karopenmas Divhumas Mabes Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, Senin (11/7).

Ramadhan mengatakan bahwa Irjen Ferdy Sambo baru mengetahui insiden baku tembak ini setelah ditelepon oleh istrinya yang histeris akibat kasus ini.

"Kadiv Propam pulang ke rumah karena dihubungi istrinya yang histeris. Kadiv Propam sampai di rumah dan mendapati Brigadir J sudah meninggal dunia," tutur Ramadhan.

Atas kejadian tersebut, Irjen Ferdy Sambo langsung menghubungi Kapolres Jakarta Selatan. Hingga akhirnya dilakukan oleh TKP oleh Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan.

"Sehingga Kadiv Propam langsung menghubungi Kapolres dan selanjutnya dilaksanakan olah TKP," pungkasnya.

4 dari 5 halaman

Pengakuan Kebohongan Eksekusi

Usai ditetapkan sebagai tersangka, fakta-fakta baru mulai muncul ke permukaan. Khususnya kebohongan Ferdy Sambo terkait eksekusi Brigadir J di Jalan Saguling III, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Ferdy Sambo juga mengakui telah memberikan keterangan informasi yang keliru atas kematian sang ajudan. Pengakuan tersebut tertulis dalam secarik kertas berisi sejumlah pesan khusus yang ditulisnya dari balik tahanan khusus Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Hal tersebut disampaikan oleh hukum Ferdy Sambo dan istrinya PC, Arman Hanis di kediaman pribadi jenderal polisi bintang dua tersebut di Jalan Saguling III, Duren Tiga Barat, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (11/8) malam.

"Saya menyampaikan pesan dari pak FS. Pesan dari pak FS untuk seluruh masyarakat," kata Arman.

5 dari 5 halaman

Berikut isi pesan khusus dari Ferdy Sambo:

Izinkan saya sebagai manusia yang tidak lepas dari kekhilafan secara tulus meminta maaf dan memohon maaf sebesar-besarnya khususnya kepada rekan sejawat Polri beserta keluarga serta masyarakat luas yang terdampak akibat perbuatan saya yang memberikan informasi yang tidak benar serta memicu polemik dalam pusaran kasus Duren Tiga yang menimpa saya dan keluarga.

Saya akan patuh pada setiap proses hukum saat ini yang sedang berjalan dan nantinya di pengadilan akan saya pertanggungjawabkan.

Saya adalah kepala keluarga dan murni niat saya untuk menjaga dan melindungi marwah dan kehormatan keluarga yang sangat saya cintai.

Kepada institusi yang saya banggakan, Polri, dan khususnya kepada bapak Kapolri yang sangat saya hormati, saya memohon maaf dan secara khusus kepada sejawat Polri yang memperoleh dampak langsung dari kasus ini saya memohon maaf, sekali lagi saya memohon maaf akibat timbulnya beragam penafsiran serta penyampaian informasi yang tidak jujur dan mencederai kepercayaan publik kepada institusi Polri.

Izinkan saya bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah saya perbuat sesuai hukum yang berlaku.

[tan]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini