Mengapa Hampir Tidak Ada Orang Barat Latah saat Kaget? Ini Jawabannya
Fenomena latah, yang umum di Asia Tenggara, nyaris tak ditemukan di Barat; perbedaan budaya, pemahaman medis, dan penelitian menjadi faktor kunci.
Apa itu latah dan bagaimana latah dimaknai secara budaya dan medis? Latah, merupakan reaksi spontan dan berlebihan terhadap kejutan yang ditandai dengan meniru kata atau gerakan, lebih sering dilaporkan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Namun, kondisi serupa, meski dengan nama dan manifestasi berbeda, ditemukan di berbagai budaya lain, termasuk budaya Barat. Keunikan ini memunculkan pertanyaan mengapa latah jarang ditemukan di negara-negara Barat.
Latah: Antara Budaya dan Neuropsikiatri
Latah, sering dianggap sebagai lelucon, sebenarnya adalah kondisi psikologis yang kompleks. Secara medis, latah dipandang sebagai respons tidak sadar terhadap rangsangan mendadak yang melibatkan sistem saraf pusat, terutama sirkuit otak yang mengatur refleks, emosi, dan kontrol impuls. Area otak seperti amigdala dan korteks prefrontal, yang bertanggung jawab atas pengolahan emosi dan pengambilan keputusan, diduga terlalu reaktif pada penderita latah.
Gangguan pada mekanisme kontrol inhibisi (penghambatan respons spontan) diduga menjadi penyebab utama sulitnya penderita latah menahan diri untuk tidak meniru atau merespons kejutan secara ekstrem. Ketidakseimbangan antara bagian otak yang merespons rangsangan dan bagian yang mengatur perilaku sadar menjadi faktor kunci dalam munculnya gejala latah.
Secara klinis, latah memiliki tiga bentuk utama: ekolalia (mengulang kata yang didengar), ekopraksia (menirukan gerakan orang lain), dan reaksi impulsif (misalnya berteriak atau bersumpah saat terkejut). Respons-respons ini muncul secara refleks, tanpa proses berpikir terlebih dahulu.
Latah: Gangguan Mental atau Bukan?
Latah tidak selalu dikategorikan sebagai gangguan mental. Namun, jika terjadi terus-menerus dan menyebabkan stres atau gangguan sosial, evaluasi medis dan psikologis diperlukan. Terapi perilaku kognitif (CBT), latihan pengendalian emosi, dan konseling dapat membantu mengendalikan respons spontan tersebut.
Peran Budaya dalam Fenomena Latah
Uniknya, latah hampir tidak ditemukan di negara-negara Barat. Hal ini menunjukkan peran penting budaya dan lingkungan sosial dalam muncul dan bertahannya gejala latah, meskipun akar responsnya bersumber dari sistem neuropsikiatrik. Di Asia Tenggara, respons latah diterima sebagai bagian dari reaksi sosial yang lumrah, bahkan kadang dianggap sebagai 'hiburan'.
Sebaliknya, di budaya Barat, reaksi berlebihan terhadap kejutan dianggap tidak lazim atau tidak pantas. Individu di Barat cenderung menahan atau menyembunyikan respons tersebut sejak kecil, sehingga memperkuat perbedaan dalam pelaporan dan pengamatan kasus latah.
Latah termasuk dalam kategori culture-bound syndrome, gangguan psikologis yang hanya muncul atau lebih umum dalam budaya tertentu. Budaya membentuk bagaimana individu mengekspresikan respons emosional atau kejutan. Dalam banyak kasus, respons latah yang terus-menerus dipertahankan oleh lingkungan yang menganggapnya lucu atau menghibur, sehingga memperkuat reaksi tersebut dalam jangka panjang.
Singkatnya, jarang ditemukannya kasus latah di budaya Barat bukanlah karena kekebalan terhadap kejutan, melainkan karena perbedaan budaya hingga penelitian yang terbatas. Kondisi yang mirip dengan latah mungkin ada di Barat, tetapi mungkin tidak dikenali atau dilaporkan dengan cara yang sama seperti di Asia Tenggara.