Ini Momen TNI Berdebat Sengit dengan China di Laut Natuna, Seru Bikin Deg-degan

Jumat, 10 Januari 2020 08:13 Reporter : Khulafa Pinta Winastya
Ini Momen TNI Berdebat Sengit dengan China di Laut Natuna, Seru Bikin Deg-degan BAKAMLA Usir Coast Guard China. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Akhir tahun 2019 Indonesia kembali bersengketa dengan China perihal Laut Natuna. Sebenarnya ini bukanlah konflik yang baru, sejak dulu kepemilikan perairan di kepulauan Natuna memang selalu diklaim oleh China. Meski Indonesia sudah menegaskan hak kedaulatan dan hak ekonomi Natuna yang dilindungi oleh prinsip hukum Internasional termasuk UNCLOS 1982.

Perseteruan dipicu karena berlayarnya kapal Coast Guard China di perairan Natuna dan memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia tanpa izin. Bahkan, berdasarkan kesaksian beberapa nelayan Natuna, mereka sempat beberapa kali diusir oleh kapal coast guard China saat sedang mencari ikan.

Belakangan ini tersebar sebuah video yang merekam proses saat TNI mengusir kapal coast guard China di perairan Natuna dilansir dari unggahan video Instagram @makassar__iinfo. Berikut ulasannya:

1 dari 7 halaman

Kapal China Terlihat Memasuki Wilayah Indonesia

Dalam video tersebut diperlihatkan saat kapal China memasuki wilayah perairan Indonesia di Natuna. Petugas TNI yang sedang melakukan patroli dengan kapal KRI langsung mengusirnya

"Polisi perairan China, Pak menurut informasi anda berada di perairan Indonesia, tolong pergi dan kembali ke wilayah teritorial anda" perintah salah satu petugas TNI lewat komunikasi radio.

Petugas coast guard China justru mengatakan jika mereka berada di wilayah perairan China.

2 dari 7 halaman

TNI Menjelaskan Titik Koordinat

Karena China terus menyangkal bahwa mereka benar berada di wilayah perairannya maka petugas TNI menjelaskan titik koordinat dengan jelas .

"Anda berada pada posisi kosong lima derajat, 27 menit 367 detik ke Utara, 109 derajat ke 9 menit 023 detik ke Timur, dan itu masih masuk teritorial Indonesia." ucap petugas TNI.

China Mengaku Memiliki Kedaulatan di Wilayah Tersebut

3 dari 7 halaman

China Mengaku Memiliki Kedaulatan

Pihak Coast Guard China mengaku bahwa mereka memiliki hak kedaulatan atas perairan tersebut.

"..Kami masih berada di laut China Selatan. Tiongkok memiliki kedaulatan penuh untuk berada di sini" jawab petugas China.

4 dari 7 halaman

TNI Tetap Mengusir Coast Guard China

Meski China mengatakan memiliki hak kedaulatan, BAKAMLA tetap meminta China meninggalkan wilayah tersebut. Hal ini dikarenakan berdasarkan titik koordinat wilayah teritorial tersebut masih milik Indonesia.

"Saya perintahkan anda untuk menyingkir dari teritorial kami, pergi" ucap petugas TNI.

Petugas TNI berkali-kali memerintahkan kapal coast guard China untuk pergi. Meski pihak China mengatakan jika kapal tersebut sudah tidak mengangkut pekerja untuk mengambil ikan, namun pihak TNI tetap meminta mereka untuk meninggalkan wilayah tersebut

5 dari 7 halaman

TNI Berusaha Menghalangi Pergerakan Kapal China

Kapal KRI dari petugas TNI akhirnya maju dan berusaha menghalangi pergerakan kapal China tersebut.

6 dari 7 halaman

Nelayan Indonesia Pernah Diusir Coast Guard China

Dedi salah seorang nelayan dari Natuna menceritakan saat dirinya sedang memancing ikan di perairan Natuna Utara pada tanggal 26 Oktober 2019 lalu, kemudian diusir oleh kapal Coast Guard dari China. Dalam video amatir yang direkam oleh Dedi, terlihat saat ini menunjukkan alat penunjuk koordinat yang menunjukkan bahwa dirinya masih berada di wilayah perairan Indonesia.

"Iya diusir oleh coast guard China, dia mengempet kapal saya jadi saya minggir saya lari dengan pelan saja," kata Dedi dilansir dari Youtube @Najwa Shihab

"Tadi pak Dedi menunjukkan titik koordinat, jadi pak Dedi yakin masih ada di wilayah kita?" tanya Najwa.

Dedi pun menjawab dengan tegas bahwa ia yakin masih berada di wilayah perairan Indonesia berdasarkan titik koordinat.

7 dari 7 halaman

Keberadaan Kapal China di Natuna

Dedi juga menceritakan bahwa pada tanggal 23 Desember lalu, dirinya sempat dikejar oleh nelayan asing karena mereka akan memasang pukat harimau.

"Ini kan musim Utara ikan mau makan lagi ramai-nya, jadi inilah lagi merajalela nelayan-nelayan asing," kata Dedi.

Dedi juga mengungkapkan bahwa sekitar tahun 2000an awal memang banyak nelayan asing yang masuk ke Natuna, lalu pada tahun 2017-2018 sudah berkurang. Di tahun 2019 ini mulai berdatangan kembali kapal-kapal tersebut. [khu]

Baca juga:
Prabowo Mau Bangun Pangkalan Militer di Natuna
Prabowo: China Harus Izin Kalau Mau Eksploitasi Ikan dan Mineral di Natuna
BKPM Pastikan Ketegangan di Laut Natuna Tak Ganggu Investasi China di Indonesia
Airlangga Soal Hubungan Indonesia-China: Sudah Tidak Panas
Cara Susi 'Tenggelamkan Kapal' Perlu Dipertahankan Atasi Sengketa Natuna

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini