Gejala Utama Jika Terpapar Virus Corona Varian Delta, Vaksin Masih Bisa Melindungi?

Kamis, 17 Juni 2021 09:40 Reporter : Kurnia Azizah
Gejala Utama Jika Terpapar Virus Corona Varian Delta, Vaksin Masih Bisa Melindungi? ilustrasi varian Covid. Unsplash ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Wabah Covid-19 masih harus diwaspadai. Sejumlah negara di dunia telah melaporkan adanya penemuan mutasi dari virus Corona SARS-CoV-2. Termasuk di Indonesia. Sejumlah kasus ditemukan terinfeksi Covid-19 varian baru di berbagai daerah.

Baru-baru ini muncul varian Delta alias B1617.2, yang sudah bermutasi lagi menjadi 'Delta Plus' atau AY.1. Kemudian ada varian Alfa Corona B117, varian Delta B16172 dan varian Beta Corona B1351.

Mutasi virus ini cukup mengejutkan para ahli lantaran bermutasi dengan cepat dari yang dibayangkan. Para ilmuwan masih berusaha mencari cara untuk memusnahkan sebelum bermutasi lagi.

Simak ulasan informasinya berikut ini.

2 dari 6 halaman

Varian Baru Covid-19 Didominasi Delta

Mutasinya virus corona menciptakan varian baru yang semakin diwaspadai di Indonesia. Terlapor adanya varian Alfa Corona B117, varian Delta B16172 dan varian Beta Corona B1351.

Kementerian Kesehatan melaporkan DKI Jakarta memiliki 48 kasus varian baru Covid-19. Terdiri dari ketiga varian tersebut.

Dari 48 kasus, yang paling mendominasi ialah B16172 Delta sebanyak 20 kasus. Selanjutnya disusul B117 Alfa sebanyak 24 kasus dan B1351 Beta ada 4 kasus.

"Datanya benar, konfirm," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi kepada merdeka.com, Senin (14/6).

ilustrasi virus corona
©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Selain DKI Jakarta, 11 provinsi lain di Tanah Air pun mengonfirmasi terpapar varian baru Covid-19. Di antaranya Jawa Tengah mencapai 76 kasus. Yang paling mendominasi B16172 Delta sebanyak 75 kasus, kemudian B117 Alfa 1 kasus.

Kemudian, Sumatera Selatan menemukan 4 kasus. Tiga di antaranya kasus varian B16172 Delta dan sisanya B117 Alfa.

Selanjutnya, Kalimantan Timur mengonfirmasi adanya 3 kasus varian B16172 Delta dan Kalimantan Tengah 3 kasus varian yang sama. Sementara Jawa Timur memiliki 2 kasus.

Berikutnya, Jawa Barat juga menemukan 2 kasus varian B117 Alfa, Sumatera Utara 2 kasus varian B117 Alfa, Kalimantan Selatan 1 kasus varian B117 Alfa, Bali 1 kasus varian B117 Alfa, Riau 1 kasus varian B117 Alfa dan Kepulauan Riau 1 kasus varian B117 Alfa.

3 dari 6 halaman

Risiko Varian Baru

Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban menjelaskan bahaya dari varian Covid-19 B1617.2 asal India atau Delta.

Ia menyebut, orang yang terpapar akan memiliki risiko masuk rumah sakit dua kali lipat dari yang terjangkit varian B117 Alfa asal Inggris.

"Analisis di The Lancet menunjukkan bahwa risiko masuk rumah sakit dua kali lipat pada mereka yang memiliki varian Delta dibandingkan dengan Alfa (Inggris). Risiko juga meningkat pada mereka yang memiliki komorbid," terangnya melalui akun Twitter @ProfesorZubairi, Rabu (16/6).

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi ini mengatakan varian Covid-19 Delta memiliki karakteristik lebih cepat menular. Hal itu dipengaruhi oleh mutasi yang dimiliki varian Delta.

"Varian ini memiliki mutasi yang membantunya menyebar sekaligus menghindari sistem imunitas secara parsial," kata Prof Zubairi.

4 dari 6 halaman

Gejala dan Kekuatan Vaksin

sandiaga uno disuntik vaksin covid 19Sandiaga Uno disuntik vaksin Covid-19 ©2021 Merdeka.com

Berdasarkan studi, menurut Prof Zubairi gejala yang muncul pada orang yang terjangkit varian Covid-19 Delta berbeda dengan virus awal. Gejala Covid-19 yang semula ada demam, batuk dan hilang penciuman.

Sementara gejala saat terpapar varian Covid-19 Delta ialah sakit kepala, tenggorokan dan pilek.

"Seperti kena flu berat," imbuhnya.

Kendati demikian, lanjut Prof Zubairi, sejumlah vaksin masih bisa melindungi manusia dari varian Covid-19 Delta. Studi di Inggris menunjukkan, vaksin Pfizer-BioNTech bisa memberikan perlindungan hingga 96 persen dari Delta. Kemudian vaksin AstraZeneca memberikan perlindungan sampai 92 persen.

Ia berharap Indonesia tidak dilanda lonjakan varian Covid-19 Delta seperti yang terjadi di India. Meskipun, fenomena kenaikan kasus Covid-19 terjadi di sejumlah daerah.

Guna mencegah tsunami Covid-19 varian baru, masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama. Kata Prof Zubairi, pemerintah harus tegas melakukan monitoring dan evaluasi penanganan kasus Covid-19 secara berkala. Sedangkan masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Mari kita bahu membahu melewati keadaan ini. Tetap pakai masker dan berjarak," pungkasnya.

5 dari 6 halaman

Pemerintah Lakukan Penelusuran

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyampaikan otoritas mengenai masih dilakukannya penelusuran asal mula kemunculan varian Delta (B 1617.2). Yang banyak ditemukan di daerah Kudus, Jawa Tengah dan Bangkalan, Jawa Timur.

"Sejauh ini, penelusuran terkait asal datangnya virus tersebut masih terus dilakukan agar dapat diketahui dari mana asalnya," kata Prof Wiku dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (16/6).

Ia menambahkan untuk memetakan persebaran virus ini, penelitian terus dilakukan melalui metode Whole Genome Sequencing (WGS) atau surveilans. Meski belum menjangkau seluruh wilayah Nusantara.

"Penelitian memerlukan WGS atau sampel yang jumlahnya lebih besar. Suatu saat nanti, kita bisa menelusuri dari mana virus tersebut berasal, dari mana masuknya dan menyebar ke mana saja," ujarnya.

6 dari 6 halaman

Peluang Virus Bermutasi Masih Ada

juru bicara satgas covid 19 wiku adisasmitoJuru bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito ©2021 Merdeka.com

Wiku mengungkapkan bahwa varian baru dari suatu virus muncul karena upayanya untuk bertahan hidup. Proses mutasi akan berlangsung terus-menerus jika potensi penularan tersedia.

Oleh karena itu, apabila penularan masih berlangsung di tengah-tengah masyarakat, maka peluang virus Covid-19 untuk bermutasi masih ada.

Terkait dengan vaksin yang diberikan kepada masyarakat saat ini, Prof Wiku memastikan memiliki efektivitas tinggi. Karena efikasinya di atas 50 persen dalam melindungi warga dari penularan.

Meski demikian, penelitian lebih lanjut terkait hal ini masih terus dijalankan. Guna memastikan bahwa vaksin yang digunakan ialah jenis vaksin yang efektif.

"Vaksinasi yang dilakukan harus betul-betul bisa memberikan proteksi kolektif atau herd immunity dari masyarakat yang diberi vaksin," papar Wiku. [kur]

Baca juga:
Data WNA di Indonesia Positif Covid-19 Per 17 Juni 2021
Penyelenggaraan Pendidikan Selama Pandemi Tetap Prioritaskan Kesehatan & Keselamatan
Pakar Yakin Vaksin Mampu Beri Perlindungan dari Paparan Covid-19 Varian Delta
Klaster Covid-19 Mulai Banyak Ditemukan di Perkampungan Garut, Bupati Ungkap Pemicu
Varian Delta Bisa Segera Jadi Virus Corona Dominan dan Ancaman Baru Sistem Kesehatan
Tutup Celah Varian Delta Menyebar di Indonesia

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini