Cara Cegah Penularan COVID-19: Periksa, Lacak, Karantina, & Isolasi

Senin, 31 Mei 2021 14:25 Reporter : Khulafa Pinta Winastya
Cara Cegah Penularan COVID-19: Periksa, Lacak, Karantina, & Isolasi Ilustrasi Covid-19. Liputan6 ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Total kasus infeksi Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia pada hari Minggu, (30/5/2021) telah mencapai angka 169.776.398 kasus, berdasarkan data dari Johns Hopkins University.

Ancaman varian baru virus SARS-CoV-2 membutuhkan respons cepat untuk mencegah penularan berkelanjutan. Untuk itu, perlu adanya langkah-langkah strategis untuk mempercepat pencegahan dan pengendalian virus.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas pemeriksaan, pelacakan, karantina, dan isolasi kasus COVID-19. Rangkaian penanggulangan tersebut bisa berhasil jika dilakukan secara disiplin oleh seluruh lapisan masyarakat.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, menetapkan pedoman pemeriksaan, pelacakan, karantina, dan isolasi melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor Hk.01.07/Menkes/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, dan Isolasi dalam Rangka Percepatan Pencegahan Dan Pengendalian COVID-19.

1. Pemeriksaan

Disebutkan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk mendiagnosis virus melalui uji laboratorium.

2. Pelacakan

Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mencari dan memantau kontak erat dari kasus konfirmasi atau kasus probable.

3. Karantina

Karantina sebagai upaya memisahkan seseorang yang terpapar COVID-19 (baik dari riwayat kontak atau riwayat bepergian ke wilayah yang telah terjadi transmisi komunitas) meskipun belum menunjukkan gejala apapun atau sedang dalam masa inkubasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko penularan.

4. Isolasi

Kemudian isolasi adalah upaya memisahkan seseorang yang membutuhkan perawatan COVID-19 atau seseorang terkonfirmasi COVID19, dari orang yang sehat yang bertujuan untuk mengurangi risiko penularan.

Proses pemeriksaan biasanya dilakukan berdasarkan kriteria wilayah akses dan kecepatan pemeriksaan Nucleic Acid Amplification Test (NAAT). Dalam hal deteksi COVID-19, pemeriksaan laboratorium diprioritaskan untuk kasus suspek, kontak erat, tenaga kesehatan, dan masyarakat yang tinggal di fasilitas tertutup serta memiliki risiko penularan tinggi.

Selanjutnya, pelacakan dilakukan oleh Puskesmas dan jejaringnya terhadap kontak erat dari kasus konfirmasi positif COVID-19. Jika seseorang diidentifikasi memiliki kriteria kasus suspek yang tidak memerlukan perawatan Rumah Sakit maka ia harus menjalani karantina.

Karantina harus dimulai segera setelah seseorang diinformasikan tentang statusnya sebagai seorang kontak erat, idealnya dalam waktu tidak lebih dari 24 jam sejak seseorang diidentifikasi sebagai kontak erat dan dalam waktu tidak lebih dari 48 jam sejak kasus indeks terkonfirmasi.

Seseorang dinyatakan selesai karantina apabila exit test pada hari kelima memberikan hasil negatif. Jika exit test positif, maka orang tersebut dinyatakan sebagai kasus terkonfirmasi COVID-19 dan harus menjalani isolasi.

Kriteria seseorang selesai lakukan isolasi dan sembuh pada kasus terkonfirmasi COVID-19 menggunakan gejala sebagai patokan utama. Adapun pihak yang berwenang untuk menerbitkan surat pernyataan bahwa seseorang wajib memulai atau telah menyelesaikan karantina atau isolasi ialah puskesmas setempat yang melakukan pemantauan atau pihak rumah sakit yang melakukan perawatan. [khu]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini