Bacaan Niat Puasa Ganti Puasa Ramadhan, Lengkap dengan Tata Caranya
Merdeka.com - Terdapat niat puasa ganti puasa Ramadhan. Seperti diketahui, puasa Ramadhan 1442 H tinggal beberapa hari lagi. Sebagian besar wanita tentu telah meninggalkan puasa Ramadhan selama beberapa hari. Sudah menjadi rahasia umum, para wanita akan mengalami masa menstruasi atau haid setiap bulannya.
Saat masa itu tiba, mereka dilarang untuk mengerjakan sholat dan puasa Ramadhan. Sehingga para wanita akan memiliki utang puasa yang wajib diganti setelah bulan suci Ramadhan selesai. Tak hanya wanita saja, ada juga orang juga bisa memiliki utang puasa karena alasan tertentu. Tentu saja mereka juga harus membayarnya di kemudian hari.
Lantas bagaimana niat puasa ganti puasa Ramadhan? Melansir dari NU Online, Rabu (5/5), simak ulasan informasinya berikut ini.
Niat Puasa Ganti Puasa Ramadhan
Umat Islam tampaknya harus mengetahui niat puasa ganti puasa Ramadhan. Setiap orang tidak akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Meski sudah mempersiapkan untuk berpuasa sebulan, namun hal itu bisa gagal jika terjadi suatu hal. Tentu saja mereka harus membayar utang puasa yang ditinggalkannya tersebut.
Untuk itu, niat puasa ganti puasa Ramadhan juga harus diketahui oleh seluruh umat Islam. Menurut mahzab Syafi'i, niat puasa ganti puasa Ramadhan ini diketahui perlu dilakukan di malam sebelum berpuasa. Anjuran melakukan niat puasa mengganti puasa Ramadhan di malam hari itu juga berdasar pada hadits Rasulullah SAW.
“Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.”

©AFP
Dengan demikian, setiap orang yang ingin mengganti puasa Ramadhan harus melakukan niat pada malam hari sebelum berpuasa. Baik itu pada wanita yang alami haid, nifas, hingga umat Islam lainnya yang tak bisa berpuasa sebulan penuh.
Adapun niat puasa ganti puasa Ramadhan adalah sebagai berikut:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”
Apa Harus Dilakukan Berurutan?
Setelah mengetahui niat puasa ganti puasa Ramadhan, kalian juga harus mengetahui beberapa aturan yang perlu diperhatikan. Salah satunya yang kerap dipertanyakan oleh masyarakat yaitu apakah mengganti puasa Ramadhan harus dilakukan secara berurutan.Secara umum sudah dijelaskan pada QS. Al Baqarah ayat 184, qada puasa Ramadhan wajib dilaksanakan sebanyak hari yang ditinggalkan. Sedangkan aturan soal wajib tidaknya membayar puasa secara berurutan, terdapat dua pendapat yang berbeda. Pertama, sebagian ulama menyatakan hari puasa yang ditinggalkan secara berurutan harus diganti secara berurutan pula. Sementara pendapat kedua, qada puasa tidak wajib dilakukan secara berurutan. Hal ini karena tidak ada satu dalil yang menyatakan secara pasti terkait hal tersebut. Jika berdasarkan QS Al Baqarah ayat 184, dipahami qada puasa harus diganti sesuai jumlah yang ditinggalkan saja. Dan tidak ada penjelasan lain selain itu. Akan tetapi, terdapat penjelasan Rasulullah SAW yang bisa dijadikan pedoman."Qadha' (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan. " (HR. Daruquthni, dari Ibnu 'Umar)
Qada Puasa Tertunda hingga Ramadhan Lagi
Sudah mengetahui niat puasa ganti puasa Ramadhan, kini saat memahami pertanyaan yang kerap ditanyakan lainnya. Sebagian dari kalian tentu pernah bertanya bagaimana jika qada puasa tertunda hingga Ramadhan berikutnya. Terdapat berbagai macam alasan yang menyebabkan seseorang tidak sempat mengganti utang puasa. Misalnya seperti bersikap apatis, gegabah atau sengaja melakukannya.
©Shutterstock.com
Dalam hal ini, puasa yang ditunda hingga Ramadhan berikutnya dan tanpa alasan yang sah maka hukumnya haram atau berdosa. Sedangkan, jika tertunda akibat udzur yang selalu menghalanginya, maka hukumnya tidak berdosa. Untuk kewajiban fidyah, terdapat dua pendapat berbeda. Pertama menyebutkan, penundaan qada puasa hingga Ramadhan berikutnya tidak diwajibkan membayar fidyah. Baik itu karena alasan udzur ataupun tidak. Pendapat kedua menyebutkan, penundaan qada puasa hingga Ramadhan berikutnya terdapat rincian hukum secara khusus. Jika penangguhan tersebut karena udzur, maka tidak diwajibkan membayar fidyah. Sedangkan, jika penangguhan tanpa udzur, maka kalian wajib membayar fidyah.
Lupa Berapa Hari Tidak Berpuasa
Ada aturan lain yang harus diperhatikan oleh Umat Islam. Hal ini terkait dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Tak sedikit dari kalian yang terkadang lupa jumlah hari yang ditinggalkan saat puasa Ramadhan. Pada kondisi ini, disarankan untuk menentukan hari yang paling maksimal. Karena kelebihan qada puasa dinilai lebih baik dibanding kurang. Kelebihan qada puasa bisa menjadi ibadah sunah tersendiri. Bahkan bisa menambah amalan baik dan pahala kalian Ini juga bisa menjadi solusi terbaik saat lupa atau tidak mengetahui jumlah puasa Ramadhan yang telah ditinggalkan pada tahun sebelumnya.
(mdk/tan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya