Menilik Quran Braille Produksi Taman Tunanetra di Tangerang

Rabu, 21 April 2021 16:00 Reporter : Ibrahim Hasan
Menilik Quran Braille Produksi Taman Tunanetra di Tangerang Quran Braille. ©2021 Merdeka.com/Rahmat Dian Prasanto

Merdeka.com - Berisikan wahyu, Al-Quran diturunkan dalam huruf arab. Namun berbeda dengan Quran yang dicetak Yayasan Raudlatul Makfufin, Quran ini dengan huruf braille yang membantu tunanetra membaca. Raudlatul Makfufin dalam bahasa Indonesia berarti Taman Tunanetra.

Ide ini berangkat dari sebuah keprihatinan sang pendiri, Ustaz Sholeh terhadap teman tunanetranya. Ia pun membuat Al-Quran dengan huruf braille. Sejak tahun 2000 hingga saat ini, lembaran kertas putih polos bertekstur berhasil diproduksi. Tekstur khas tersebut berisikan kalam ilahi yang bisa dilantunkan kaum tunanetra.

Yayasan di Desa Buaran, Serpong, Tangerang Selatan ini mengelola pesantren. Tiap sore para santri pesantren ini hilir mudik menuju masjid. Mereka dengan semangat memperdalam ilmu agama dengan membaca Al-Quran braille.

quran braille

©2021 Merdeka.com/Rahmat Dian Prasanto

Saat berdiri, tahun 1980an yayasan ini belum mempunyai Al-Quran braille. Dulunya yayasan ini hanya dipinjami satu Al-Quran braille dari Departemen Agama untuk belajar secara bergantian. Tahun 1994 keoptimisan Ustaz Sholeh pun terus terlihat. Bersama yayasan, mereka membentuk tim yang membuat file master Al-Quran braille.

Berselang 5 tahun, file data Al-Quran braille telah rampung. Pada tahun 2000, produk Al-Quran Braille berbasis komputerisasi diresmikan untuk pertama kali. Produksi huruf braille berbeda dengan percetakan menggunakan printer dengan tinta. Huruf braile berupa tulisan timbul yang menonjolkan kertas cetakan.

Pembuatannya harus menggunakan cetakan huruf braille khusus. Saat ini, Yayasan Raudlatul Makfufin memiliki data entry yang berasal dari aplikasi komputer. Pengoperasiannya lebih mudah dan ringkas layaknya mencetak naskah dari printer biasa.

quran braille

©2021 Merdeka.com/Rahmat Dian Prasanto

Namun, bukan orang biasa yang mampu memeriksa kebenarannya. Hanya orang paham tulisan braille lah yang mampu memeriksa hasil cetakannya. Tulisan dalam wujud tonjolan di atas kertas ini juga harus diperiksa hasil cetakannya. Sehingga keaslian lafalz Al-Quran akan selalu terjaga di setiap lembarnya.

Tidak sembarang kertas bisa digunakan untuk mencetak Al-Quran huruf braille. Aksara braille hanya bisa dicetak menggunakan kertas braillon. Nampak seperti kertas biasa. Bedanya ialah pada berat, ketebalan dan ukuran kertasnya. Harga bahan baku kertas braillon pun terpaut lebih mahal dari kertas tulis pada umumnya.

quran braille

©2021 Merdeka.com/Rahmat Dian Prasanto

Satu rim kertas braillon bisa didapatkan dengan harga Rp 500 ribu. Sedangkan satu rim braillon hanya bisa mencetak 2 juz Al-Quran braile. Proses mencetak satu juz dalam satu jilid. Bisa dibayangkan Al-Quran lengkap terdiri dari 30 jilid buku yang lumayan tebal. Tak ayal, proses pengemasannya harus membutuhkan kardus berdimensi 40x60 cm.

Al-Quran braille mereka sudah dikaji kebenaran lafalz dan isinya oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Setiap harinya Taman Tunanetra mampu memproduksi 3 set Al-Quran braille. Satu set Al-Quran braille tanpa terjemah dijual dengan Rp 1.2 juta. Sedangkan Rp 2.2 juta dengan terjemah bahasa Indonesia huruf braille.

Pemasarannya pun juga tersebar luas, dari luar kota, luar pulau hingga mancanegara. Distribusinya bahkan mencapai ke pelosok daerah yang sulit dijangkau. Semuanya adalah upaya komponen pesantren untuk memenuhi kebutuhan Al-Quran bagi penyandang Tunanetra.

quran braille

©2021 Merdeka.com/Rahmat Dian Prasanto

Begitupula para santri yang berada di Taman Tunanetra. Setiap harinya para santri rajin membaca Al-Quran dalam aksara braille. Santri di Yayasan Raudlatul Makfufin merupakan santri disabilitas penyandang tunanetra. Meski dengan keterbatasan, para santri tak patah semangat membaca dan mempelajari Al-Quran.

Dengan Al-Quran braille, para santri bahkan mampu menghafal Al-Quran. Para santri berasal dari berbagai daerah. Masa belajar mereka juga bervariasi antara 3 hingga 6 bulan. Tujuannya ialah bersama-sama mempelajari dan memperdalam kalam ilahi. [Ibr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Picture First
  3. Alquran
  4. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini