Perjuangan Marie WNA Perancis, Bertahan dari Ban Bekas di Pulau Samosir

Senin, 3 Mei 2021 15:20 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Perjuangan Marie WNA Perancis, Bertahan dari Ban Bekas di Pulau Samosir Perjuangan Marie WNA Perancis. ©2021 Merdeka.com/Refinaldi Setiawan

Merdeka.com - Wanita dengan rambut berkepang ini seperti tak berkedip, ia sangat fokus. Tangannya sibuk bermain dengan alat-alat yang di hadapannya. Gunting, lem, tang, manik-manik tak bisa jauh-jauh dari hadapannya. Dari ban bekas, wanita asal Prancis ini akan menghasilkan aksesoris yang menawan.

Wanita itu bernama Marie di Marie. Wanita yang akrab disapa Marie ini sudah setahun lebih tidak kembali di negeri tempat asalnya. Pandemi Corona Covid-19 yang melanda sejak Maret 2020 membuat Ia mau tak mau, rela tak rela harus menunda kepulangannya. Marie pun terjebak dan harus tinggal di Tanah Air, tepatnya di Tuktuk Siadong, Pulau Samosir.

Marie bertahan dari bekas, ban usang pun menjadi sumber Ia bisa menyambung hidup. Mendulang rupiah di tengah terhimpitnya keadaan.

perjuangan marie wna perancis
©2021 Merdeka.com/Refinaldi Setiawan

Warga Tuktuk Siadong yang mengetahui Marie tak bisa kembali pulang pun membantu. Warga memberi rumah singgah untuk Marie. Rumah dengan dinding berwarna biru, bertuliskan Mari di Marie di pintu masuknya. Dengan jendela luas yang langsung bisa menilik ke dalam.

Meski terlihat sederhana, namun rumah singgah ini punya pemandangan yang menawan. Dari dalam rumah, ia bisa melihat birunya laut. Warga TukTuk Siadong bagi Marie adalah keluarganya, ia juga menyebut rumah adalah keluarganya. Tempat bernaung, berbagi keluh kesah dan menjadi sumber hidupnya.

perjuangan marie wna perancis
©2021 Merdeka.com/Refinaldi Setiawan

Marie tak hanya tinggal diam di rumah itu. Tak ada pemasukan, Ia memutar otak. Mencari sesuatu yang bisa ia kerjakan dan menghasilkan rupiah. Ban bekas adalah jawabannya.

Barang yang mudah dicari, mudah dibentuk polanya sekaligus bisa memanfaatkan limbah ada. Dalam rumah itu, wanita sederhana ini membuat kerajinan tangan. Ban bekas bak barang berharga bagi Marie. Wanita tangguh ini tak pernah lelah mencari ban bekas setiap harinya.

Dari ban yang tak lagi terpakai, Ia sulap menjadi aksesoris yang memukau. Ban-ban bekas ini gambar terlebih dahulu polanya. Ia susun dan ia tambahkan pernak-pernik. Kalung, gelang, cincin sampai anting bisa ia produksi.

perjuangan marie wna perancis
©2021 Merdeka.com/Refinaldi Setiawan

Anting harganya 25-30rb tergantung ukuran, kalung 50rb. Aksesoris dari ban bekas ini nantinya akan dijual ke toko souvenir. Terbuat dari ban bekas, aksesoris ini tentu saja tahan air. Perhiasan handmade buatan Marie ini juga awet karena terbuat dari ban bekas.

Saat dipakai, aksesoris ban bekas berwarna hitam ini nampak menumbuhkan kesan gotik. Kalung, gelang cincin sampai anting ini semakin menarik dengan tambahan bulu-bulu cantik atau pernak-pernik manik-manik. Tak kalah dari aksesoris lainnya.

perjuangan marie wna perancis

©2021 Merdeka.com/Refinaldi Setiawan

Prancis menerapkan lockdown ketat sejak pandemi Corona. Pada awal bulan April 2021 lalu, Prancis kembali menerapkan penguncian wilayah. Dalam beberapa pekan terakhir, Prancis mengalami peningkatan infeksi Covid-19. Khawatir dengan gelombang ketiga, Prancis memilih lockdown.

Wanita berambut pirang ini mengumpulkan rupiah demi rupiah. Sabar menanti waktu. Sambil berharap segera pulang ketika pandemi usai. [Tys]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Picture First
  3. Sumut
  4. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini