Melihat Pembuatan Peraga Anatomi Tubuh Manusia di Depok

Selasa, 27 April 2021 12:15 Reporter : Ibrahim Hasan
Melihat Pembuatan Peraga Anatomi Tubuh Manusia di Depok Pembuatan Peraga Anatomi Tubuh Manusia. ©2021 Merdeka.com/Ahmad Soleh

Merdeka.com - Tulang belulang berserakan di setiap sudut ruangan. Mulai dari tengkorak, tulang rusuk, tulang kaki dan tangan lengkap bergelantungan. Bahkan organ dalam manusia terlihat menganga. Itulah pemandangan yang nampak pada sebuah industri rumahan pembuat peraga tubuh manusia. Tepatnya di Jalan Pendidikan, Cinangka, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Tempat ini memproduksi berbagai macam anatomi struktur tubuh manusia.

Saking banyaknya potongan tubuh manusia, membuat penampakannya bak rumah jagal. Namun jauh dari itu, berbagai jenis anatomi tubuh manusia dibuat dari fiberglass. Tujuan pembuatannya juga sangat mulia, sebagai bahan edukasi masyarakat. Dengan adanya alat peraga, semua orang tahu di mana letak sebenarnya organ tubuh berada.

Pekerjaan ini dibutuhkan ketelitian yang tinggi. Tidak sedikit jumlah organ tubuh manusia. Sehingga para pembuat peraga organ tubuh harus jeli.

pembuatan peraga anatomi tubuh manusia

©2021 Merdeka.com/Ahmad Soleh

Untuk membuat kerangka tubuh manusia, setidaknya butuh waktu 2 hari. Proses pembuatannya memang sederhana. Hanya dengan bahan buatan fiberglass yang dicetak hingga membentuk tulang. Proses yang memakan pikiran dan tenaga adalah finishing tulang belulang. Bayangkan, kurang dari 206 tulang penyusun tubuh manusia harus mereka poles dan rangkai, membentuk sebuah anatomi tubuh yang utuh.

Tulang yang telah terbentuk dari cetakan fiber kemudian dihaluskan. Tepian yang tidak rata karena bekas cetakan dibuang. Penggunaan cetakan fiber bertujuan agar bentuk dan ukuran sama persis dengan aslinya. Tiap sudut dan lekukan tulang harus diperhatikan. Mengingat, agar orang yang melihatnya benar-benar paham gambaran tulang dan organ dalam tubuh mereka.

Sedangkan anatomi organ manusia, mereka bisa membuat dalam dua cara. Terdiri dari berbagai organ dijadikan satu, dan yang sudah jadi satu tubuh. Proses tersulit adalah cara pertama. Mereka harus membuat setiap organ dengan detail. Berbeda dengan organ yang sudah melekat, mereka hanya memainkan cat warna kala finishing.

pembuatan peraga anatomi tubuh manusia

©2021 Merdeka.com/Ahmad Soleh

Proses rumit selanjutnya ialah proses dempul. Proses ini akan menyamarkan setiap cacat kala pencetakan. Lubang, goresan pada tulang menjadi halus setelah proses dempul. Sesekali bagian tulang harus diangin-anginkan agar cepat kering. Proses pembuatan tiap bagian tulang diringkas. Setiap sendi tidak serta merta diproduksi. Melainkan dijadikan satu bagian seperti telapak tangan, telapak kaki, tulang rusuk lengkap hingga pinggul.

Setelah dikira sudah rata, masuk ke tahap pengecatan. Setiap bagian organ harus dicat dengan komposisi warna tertentu. Warna organ disamakan persis dengan aslinya. Jantung misalnya, harus berwarna merah diselimuti dengan jalur pembuluh darahnya. Berbeda dengan tulang, biasanya hanya menggunakan warna krem dan dinominasi warna putih tulang.

pembuatan peraga anatomi tubuh manusia

©2021 Merdeka.com/Ahmad Soleh

Pengecatan harus dilakukan oleh orang yang berpengalaman. Detail warna sangat mempengaruhi tampak organ. Mulai dari rambut, otak, wajah, organ dada dan perut, hingga anggota gerak. Semuanya di-finishing dengan rapi sesuai wujud asli.

Tempat produksi ini tetap ada meskipun perkembangan teknologi meringkas segalanya. Pembelajaran dapat dengan mudah melalui visualisasi, tanpa menggunakan peraga. Namun, kesan menggunakan peraga akan lebih tergambar. Semua orang bisa mengingat, menunjuk, bahkan memegang berbagai contoh organ secara langsung. Ukurannya pun juga sama persis dengan aslinya.

pembuatan peraga anatomi tubuh manusia

©2021 Merdeka.com/Ahmad Soleh

Alat peraga anatomi manusia ini dapat dikunjungi hanya dengan 30 menit perjalanan dari Kota Depok. Tak hanya paket lengkap, para pembuat anatomi ini juga bisa mengerjakan beberapa organ saja. Tentunya tarifnya akan berbeda, dimulai Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta.

Pemasarannya juga beragam, mulai dari lokal hingga luar kota. Dulunya banyak sekolah yang memesan alat peraga mereka. Namun saat pandemi, pemasaran mereka cenderung sepi. Mereka memutar otak dengan menawarkan ke berbagai situs market place. Dengan harapan mampu mendongkrak dan memperluas penjualan mereka. [Ibr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Picture First
  3. Depok
  4. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini