The NextDev 2018 Semarang, tiga startup ini tawarkan bisnis pengelolaan sampah

Kamis, 21 Juni 2018 07:00 Reporter : Zaki
The NextDev 2018 Semarang, tiga startup ini tawarkan bisnis pengelolaan sampah The NextDev Semarang, tiga startup ini sama-sama tawarkan bisnis pengelolaan sampah. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sampah rupanya menjadi masalah menarik bagi perusahaan rintisan (startup) di Jawa Tengah. Meski terkesan bisnis remeh-temeh, rupanya sampah dipandang memiliki potensi atau peluang dari bisnis digital yang bisa dikembangkan secara masif di kemudian hari.

Tidak percaya? Lihat saja tiga startup asal Jawa Tengah yang menjadi peserta The NextDev 2018 Talent Scouting seri kedua di semarang pada Mei lalu. Tercatat ada tiga startup yang sama-sama ingin mengelola sampah di kotanya sekaligus menawarkan dampak sosialnya kepada masyarakat.

©2018 Merdeka.com

Yuk, kita mengenal lebih dekat tiga startup Semarang yang sama-sama menyodorkan solusi sosial masalah sampah:

1. Litterasi.com

Startup asal Temanggung ini menawarkan pengelolaan sampah dengan cara unik, yakni menukarkan sampah sekolah dengan buku. Buku tersebut nanti bisa dimanfaatkan untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah. Didirikan oleh Yanuar Jaka Permana dan Palupi Ika Wardani, Litterasi.com cenderung menyasar sekolah untuk mendapatkan sampahnya. Sampah tersebut memiliki poin yang bisa ditukar dengan buku, jika jumlah poinnya sudah memenuhi. Misalnya, sampah kardus bekas memiliki 2.000 poin per kilogram, koran bekas 2.200 poin per kilogram, sampah botol plastik 3.000 per kilogram, gelas plastik 2.000 per kilogram, dan kertas HVS bekas 2.500 per kilogram. Sementara satu buku minimal harus ditebus dengan 30 ribu poin, misalnya.

Menurut Yanuar, aplikasinya memfasilitasi sekolah menukarkan sampahnya dengan buku baru untuk perpustakaan, sehingga sekolah menjadi sekolah yang peduli lingkungan, sekaligus literasi. Cara kerjanya simpel, pihak sekolah memanggil penjemput sampah melalui aplikasi Litterasi.com, supaya sampah segera diambil. Setelah sampah sekolah diambil, sekolah akan mendapat poin yang tercatat di aplikasi. Poin yang dikumpulkan bisa digunakan untuk membeli buku yang dibutuhkan. Semua proses tersebut dilakukan melalui aplikasi Litterasi.com.

2. Sampahmuda.com

Sesuai namanya, pengelolaan masalah sampah secara digital ini dilakukan para mahasiswa, antara lain Reanes Putra, sang CEO. Menurut Reanes, Sampahmuda adalah platform digital pengelolaan sampah, yang menghubungkan para penimbul sampah dengan pengelola sampah dan pabrik daur ulang sampah. Saat ini Sampahmuda.com telah mengelola sampah sebanyak 42 ton di enam desa dan tujuh pabrik, seperti yang dipresentasikan saat tampil sebagai peserta The NextDev Talent Scouting Semarang.

Reanes mengungkapkan jika target pasarnya adalah mahasiswa dan perusahaan pengelola sampah. Dari mereka lah, Sampahmuda.com mendapat komisi untuk mendanai operasional startup-nya. Sampahmuda juga bekerja sama dengan beberapa lembaga sosial untuk mendukung misi sosialnya, antara lain Yayasan Pertamina.

Seperti startup sampah lainnya, lewat aplikasi, Sampahmuda.com juga menggunakan sistem poin. Jadi sampah Anda akan dihargai dengan poin. Semakin berat sampah Anda, semakin banyak poin yang Anda kumpulkan. Nah, poin yang dikumpulkan tersebut dapat Anda gunakan untuk belanja produk-produk menarik di Trashpoint. Seperti untuk belanja pulsa telepon seluler, isi Go-Pay, membayar tagihan lisytik PLN, bahkan mebayar zakat.

3. Moretrash

Aplikasi digital pengelolaan sampah yang tak kalah menarik adalah Moretrash. Devid, sang pendiri, mengungkapkan startup-nya khusus menyasarkan kampus dan mahasiswa dengan menawarkan solusi pengelolaan sampah.

"Mahasiswa tingkat akhir atau sedang menyusun skripsi biasanya memiliki sampah lebih banyak dari mahasiswa non-tingkat akhir. Apalagi mereka biasanya harus keluar dari kampus segera sehingga mesti bersih-bersih," ujar Denis yang mengaku mengembangkan aplikasi ini terinspirasi saudaranya asal Solo yang terjun di bisnis sampah.

Untuk memasarkan jasanya, Moretrash menggunakan aplikasi percakapan LINE. Saat ini jumlah ordernya mencapai 100 order, dengan target pendapatan usaha di tahun pertama Rp 460 juta! Wow, tapi begitulah keyakinan Devid saat tampil di The NextDev Talent Scouting 2018 di Semarang, Mei lalu. Lebih jauh, Devid mengungkapkan jika pendapatan usahanya berasal dari komisi yang ditetapkan sebesar 20 persen dari setiap kurir sampah yang dikirim.

Cukup menarik bila ternyata sampah bisa menjadi peluang usaha yang potensial bagi startup. Selain menawarkan solusi pengelolaan sampah secara digital, masalah lingkungan juga menjadi lebih baik karena sampah dikelola dengan benar pula. Bagaimana dengan Anda, tertarik juga membangun startup pengelolaan sampah di kotamu?

Segera matangkan konsepnya dan sertakan dalam event pengembangan startup terbaik di Indonesia, The NextDev 2018. Info lebih lanjut, klik di sini! [aki]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini