Susahnya membuat mobil otomatis lebih manusiawi

Jumat, 12 Januari 2018 14:58 Reporter : Indra Cahya
Alasan mengapa mobil otomatis masih sulit diterapkan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Mobil otomatis adalah teknologi yang sepertinya akan jadi perjalanan yang sangat-sangat panjang. Tak perlu memikirkan bagaimana jalanan, infrastruktur, dan dukungan pemerintah soal mobil masa depan ini. Saat ini. mobil otomatis itu sendiri pun masih belum sempurna.

Dimulai dari sensor lingkungan sekitar yang harus dimiliki mobil untuk bisa berjalan sebagaimana dikemudikan manusia. Untuk ini, harus ada sensor LIDAR yang membutuhkan perangkat-perangkat besar dan juga kamera yang harus berjumlah banyak agar bisa menyorot segala arah dan kejauhan.

Soal sensor ini pun sudah makin canggih seiring waktu, karena berbagai perusahaan seperti Nvidia dan juga Aptiv (yang dulu bernama Delphi) mampu membuat chip yang lebih kecil bentuknya dan mobil otomatis tak akan jadi seperti mobil robot, namun seperti mobil biasa. Hal ini sudah diperlihatkan Aptiv dengan yang bekerja sama dengan startup taksi online Lyft, untuk mencanangkan proyek taksi otomatis pada CES 2018 minggu ini.

Toyota pun juga ikut terjun ke platform mobil otomatis ketika di CES 2018, memperkenalkan software bernama Platform 3.0 yang hanya butuh sensor kecil di bagian atas sedannya.

Namun satu hal yang membuat mobil otomatis tetap sulit, meski secara bentuk, mobil otomatis akan terlihat seperti mobil biasa yang diimpikan konsumen. Hal tersebut adalah cara menyetir layaknya manusia.

Hal ini mungkin akan mudah dicapai jika mobil otomatis hanya perlu berkendara di tol, karena rintangan di tol tak cukup banyak. Namun di jalanan kota, atau bahkan kampung, sangat dipengaruhi oleh cara berkendara pengguna jalan tersebut dan juga budaya lokalnya. Hal ini yang sebenarnya membuat ada banyak sekali gaya mengemudi di tiap orang. Tentu gaya mengemudi orang Jakarta dan orang Malang akan berbeda karena faktor ini.

Hal ini yang sulit masuk di platform mobil otomatis. Bayangkan jika mobil otomatis harus berkendara di cuaca yang tak menentu yang licin atau banjir terguyur hujan. Bayangkan jika mobil otomatis harus mengarungi jalanan penuh lubang. bayangkan mobil otomatis harus menaklukkan perempatan yang ramai dan tak teratur. Bayangkan jika mobil otomatis harus mengalah kepada ambulans.

Berbagai hal inilah yang membuat mobil otomatis harus manusiawi. Dalam hal ini, banyak sifat dan kecerdasan emosi manusia yang harus diadaptasi oleh sebuah software dari mobil otomatis dan menerapkannya di jalan.

Meski demikian, hal ini masih diupayakan oleh para pengembang mobil otomatis. Seperti Aptiv yang memberi platform ke pengemudi untuk memilih karater. Mulai dari mode "membosankan" yang membuat mobil otomatis akan berkendara dengan pelan, serta mode "agresif" ketika Anda butuh ngebut, dan sebagainya. Tujuannya hanyalah membuat mobil otomatis berjalan seperti mobil yang dikendarai manusia, namun tanpa kecelakaan.

Namun meski teknologi ini sudah di depan mata, langkah selanjutnya adalah meyakinkan konsumen kalau 'robot' yang mengemudikan mobil otomatis ini juga manusiawi, dan tak perlu ada yang ditakutkan.

Masih lama? [idc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini