Studi Sebut Streaming Pornografi Tak Ramah Lingkungan

Selasa, 16 Juli 2019 10:53 Reporter : Indra Cahya
Studi Sebut Streaming Pornografi Tak Ramah Lingkungan Ilustrasi Video Porno. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Streaming video porno secara online ternyata tak ramah lingkungan. Bagaimana tidak, ternyata produksi jumlah karbon dioksida dari industri pornografi setara dengan polusi di satu negara Belgia.

Hal ini bukan bualan semata, pasalnya ini adalah hasil penelitian dari pusat studi Prancis The Shift Project.

Mengutip laman The Independent via Liputan6.com, para peneliti menemukan dampak lain dari streaming video. Di mana, secara keseluruhan, video streaming menciptakan 300 juta ton karbon dioksida tiap tahunnya. Menurut hasil studi, sepertiga dari karbon dioksida itu didapatkan dari streaming video konten pornografi.

Penelitian ini dipimpin oleh seorang insinyur bernama Maxine Efoui-Hess yang ahli dalam bidang permodelan komputer. Ia menemukan, konsumsi energi dari teknologi digital meningkat sembilan persen per tahunnya. Padahal, enam puluh persen aliran data dunia berasal dari streaming video online.

Para peneliti menilai, sektor digital perlu diteliti lebih cermat mengingat saat ini ada kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi global.

"Dampak lingkungan langsung ataupun tidak langsung terkait penggunaan teknologi digital kian meningkat dengan cepat," kata peneliti.

Yang mencengangkan, secara total, teknologi digital memancarkan empat persen emisi gas rumah kaca yang lebih besar dibandingkan penerbangan sipil.

Pergerakan orang membuat video yang berkualitas tinggi diperkirakan mendorong emisi dua kali lipat ketimbang sekarang. Industri pornografi pun adalah yang sangat bergantung kepada pemasaran online, berbeda dengan film dan televisi yang masih memiliki platform berkarya konvensional.

Ilmuwan dari University of Bristol Chris Preist mengatakan, "Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya penyedia layanan digital untuk berpikir lebih hati-hati mengenai dampak dari layanan yang mereka hadirkan."

Preist lebih lanjut mengatakan, bagi individu, mereka tak perlu sering-sering mengganti perangkatnya dan merasa cukup dengan memiliki sedikit perangkat.

"Individu juga harusnya tidak menuntut koneksi internet seluler berkualitas tinggi di manapun, mungkin itu tindakan kecil yang bisa dilakukan oleh individu sebagai pengguna teknologi," kata Preist.

Para peneliti tersebut menyusun lalu lintas video global dengan melihat laporan 2018 yang dipublikasikan Cisco dan Sandvine. Mereka kemudian menghitung berapa banyak listrik yang dibutuhkan untuk menggerakkan lalu lintas video tersebut.

Para peneliti pun memberi rekomendasi, yakni dengan mengurangi pemutaran video secara otomatis atau mentransmisikan video tinggi ketika tidak diperlukan.

Misalnya, mereka menyebut, penyebaran teknologi resolusi tinggi 8K bisa menjadi pemborosan, padahal video berkualitas rendah saja sudah cukup.

"Dari sudut pandang perubahan iklim dan batasan lingkungan, tantangannya bukan melawan pornografi atau membatasi pengobatan jauh, Netflix, atau email. Tantangan sebenarnya adalah menghindari konsumsi berlebihan dan yang dianggap kurang penting," ungkapnya.

Sumber: Tekno Liputan6.com
Reporter: Agustin Setyo Wardani [idc]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini