Startup harus bisa jadi problem solver

Selasa, 6 Juni 2017 12:54 Reporter : Fauzan Jamaludin
Startup harus bisa jadi problem solver GeekTalk Technologue. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Digitalisasi dan adopsi teknologi yang sedang berlangsung di Indonesia cukup mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosial masyarakat. Saat ini, layanan telekomunikasi di Indonesia sudah memiliki lebih dari 326 juta pelanggan. Akses internet di Indontesia sudah digunakan lebih dari 132 jutaan pelanggan dengan hampir 70 persen-nya diakses menggunakan perangkat mobile. Dari jumlah tersebut 5 juta di antara pelanggan internet itu sudah menikmati akses internet cepat melalui teknologi 4G.

Kondisi ini tak dipungkiri menjadi magnet bagi pelaku bisnis di bidang teknologi atau perusahaan rintisan yang biasa dikenal sebagai startup. Tren startup yang sedang tumbuh membuat tak sedikit pihak yang berbondong-bondong ikut masuk ke dalamnya. Sampai tahun 2016 disebutkan sudah ada sekitar 2.000 startup di Indonesia dengan berbagai kategori produk dan layanan.

Sayangnya, walaupun infrastruktur digitalisasi sudah dibangun, tetapi penghuni ekosistem startup digital cenderung seragam. Para pendiri maupun pendukung startup terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta lebih memilih untuk menggarap sektor yang jelas hijau. Kesannya, mereka jadi seperti profit oriented, bukannya menjadi problem solver di tengah masyarakat dengan bermacam-macam permasalahan yang sebenarnya amat potensial jika digarap.

Walau tumbuh di semua lini bidang, namun e-commerce dan online marketplace masih mendominasi arus bisnis di industri startup teknologi. Padahal, masih banyak kategori lain yang memerlukan sentuhan teknologi dan memberi peluang lebih besar bagi pelakunya untuk mengembangkan diri, ujar Denny Mahardy, Founder Technologue.id.

Padahal, lanjut Denny, bila dilihat secara mendalam kondisi geografis Indonesia dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang ke Merauke, dari Miangas sampai ke Rote bisa menjadi masalah sekaligus peluang.

Hal yang sama juga dirasakan oleh akselerator asal Silicon Valley, Plug and Play. Akseslerator yang belum lama ini membuka kantor di Indonesia tersebut telah bekerja sama dengan Gan Kapital, Plug and Play hadir membawa misi untuk membangun suatu ekosistem yang dapat mendukung perkembangan startup digital di Indonesia.

Melalui program akselerasi yang diadopsi dari kantor pusat Plug and Play di Silicon Valley, Plug and Play Indonesia siap memberikan berbagai dukungan untuk startup terpilih, mulai dari finansial, bimbingan ahli dari berbagai bidang, logistik seperti ruang kerja dan bantuan hukum, dan yang tidak kalah penting yaitu hubungan ke korporasi yang diharapkan dapat bermitra dengan startup.

"Plug and Play Indonesia siap membantu startup dari berbagai bidang dengan teknologi yang mampu menjawab permasalahan di masyarakat masa kini, seperti contohnya saja kami memilih Otospektor, platform yang memudahkan masyarakat melakukan proses jual beli kendaraan bekas dengan lebih terjamin, atau seperti Karta yang menyediakan pilihan terjangkau bagi usaha kecil dan menengah yang ingin beriklan" ujar Wesley Harjono selaku Presiden Direktur Plug and Play Indonesia.

"Pada akhirnya, Plug and Play Indonesia ingin menjadi fasilitator yang melahirkan terobosan di masyarakat," tambahnya. [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Digital Startup
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini