KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Spek dan harga bukan jaminan produk flagship laris manis

Jumat, 21 April 2017 15:04 Reporter : Fauzan Jamaludin
Samsung Galaxy S8. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Belakangan ini, beberapa produsen smartphone berlomba-lomba meluncurkan produk flagshipnya di tanah air. Sebut saja Samsung S8, iPhone 7, LG G6, Huawei seri P, dan lain sebagainya. Sudah pasti, mereka bakal memerebutkan pasar yang lebih niche. Mencoba menggoda konsumen dengan sederet penawaran menarik dari sisi spesifikasi dan fitur-fitur yang mendukung.

Memang, di segmentasi ini tidak terlalu banyak produsen smartphone yang bermain. Hanya beberapa saja yang serius menggarap lahan ini. Lantas, bagaimana gambaran peta persaingannya? Pengamat Gadget Lucky Sebastian menyampaikan pendapatnya terkait persaingan smartphone flagship ini.

Menurutnya, saat produsen merilis sebuah produk premium, maka secara tidak langsung hal itu merupakan pertaruhan besar bagi nama brand itu sendiri. Sebab, tak mudah memperlakukan konsumen di segmentasi ini. Ada banyak hal yang dituntut yang ingin benar-benar diperhatikan mereka. Wajar, mereka berkantong tebal.

"Membangun penjualan seri flagship tidak mudah, karena harganya yang cenderung mahal, pembeli juga menuntut after sales yang lebih bagus dan premium. Ini salah satu faktor yang tidak mudah dipenuhi oleh berbagai brand di Indonesia," jelasnya saat dihubungi Merdeka.com melalui pesan singkat, Jumat (21/4).

Dia mencontohkan beberapa brand yang pernah merilis smartphone flagshipnya kemudian tiada kabar lagi. Salah satunya ada OnePlus. Kata dia, OnePlus berhasil berkibar namanya, sebagai Chinese brand dengan produk flagshipnya. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka pun 'tumbang'. Kemudian OPPO yang sempat mencoba peruntungan di produk flagship. Singkat kata, segment flagship mereka pun hanya untuk sesaat. Alhasil, OPPO pun berpaling ke pasar yang lebih gemuk.

"OPPO juga pernah mencoba bertarung di produk flagship di Indonesia, tetapi tidak bisa fight dengan brand-brand global. Walau sekarang OPPO sangat dikenal di Indonesia, tetapi produk yang mereka tawarkan hanya mid-range," terangnya.

Jadi, kata Lucky, brand-brand yang bertarung dengan spesifikasi dan harga murah saja belum tentu bisa mendapat tempat di pasar flagship Indonesia. Ramuan untuk jadi flagship yang digemari ini bukan sekedar spek dan harga.

"Pasar flagship ini cukup 'sempit' tetapi sangat berpengaruh. Bukan hanya sekadar spesifikasi atau value for money, tetapi memang banyak pertimbangan," ungkap dia.

Sederhananya, Lucky menjelaskan bahwa nama brand merupakan tolok ukur yang akan selalu dijadikan landasan konsumen untuk membawa pulang smartphone flagship. Sejauh ini, berdasarkan pengamatannya sejatinya hanya ada dua brand ponsel yang notabene merepresentasikan premium, yakni Samsung dan iPhone. Selain itu, hanya dianggap sebagai pemanis pasar saja.

"Sementara ini flagship dengan nama brand, hanya dua yang kuat, Samsung dan iPhone. Flagship Samsung terakhir menguasai 70 persen pasar smartphone flagship Indonesia. Tahun ini, iPhone resmi masuk Indonesia, tetapi sangat terlambat. Namun, kita masih menunggu next iPhone, apakah setelah resmi masuk Indonesia kembali setelah skema Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), bisa hadir tepat waktu, dan bersaing dengan Samsung?" papar dia. [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Smartphone

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.