Smartfren: Negosiasi Harga Sewa Infrastruktur MRT Jakarta Mendekati Titik Temu

Selasa, 9 April 2019 16:23 Reporter : Fauzan Jamaludin
Smartfren: Negosiasi Harga Sewa Infrastruktur MRT Jakarta Mendekati Titik Temu uji coba MRT untuk umum. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Smartfren telah melakukan uji coba jaringan di sepanjang layanan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dari Bundaran HI sampai dengan Lebak Bulus. Selagi melakukan uji coba ini, Smartfren juga tengah melakukan proses negosiasi harga untuk menyewa infrastruktur yang disediakan PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk (TBIG) di dalam tunnel.

"MRT Jakarta ini kan melewati tunnel yang bisa dipastikan, signal dari luar tidak bisa masuk. Kebetulan TBG telah menyiapkan antena-antena dan kita tinggal nyantel ke sana," jelas Deputy CEO of Commercial Smartfren, Djoko Tata Ibrahim kepada awak media usia menjajal layanan Smartfren di MRT Jakarta, Selasa (9/4).

"Mereka pun memberikan penawaran. Setelah kita perhitungkan biaya dan kenyamanan pelanggan, kita memutuskan untuk hadir di sini. Jadi saat ini masih dalam proses negosiasi," tambahnya.

Menurut Djoko, proses negosiasi telah dilakukan Smartfren dan TBG semenjak tiga bulan yang lalu. Diklaim dia, sudah mulai terlihat titik temu dari proses negosiasi tersebut. Proses uji coba ini dilakukan sampai pada akhirnya Smartfren dan TBG menyepakati biaya sewa dan tidak ada biaya yang dikeluarkan selama proses uji coba.

"Makanya, kita sudah mulai berani hadirlah di sini karena sudah mendekati deal lah," ungkap dia.

Sebagaimana diketahui, sejauh ini baru ada dua operator seluler yang hadir sepanjang jalur MRT Jakarta khususnya jalur bawah tanah. Dua operator seluler itu yakni Telkomsel dan Smartfren. Lantas, bagaimana dengan operator lainnya? Kata Djoko, itu tergantung dari kebijakan masing-masing operator seluler. Smartfren memilih ujicoba lebih dahulu, sebelum kesepakatan berlanjut.

"Masing-masing punya kebijakan berbeda-beda. Ada yang bilang, oke saya deal dulu terus coba, kalau kami coba dulu baru kemudian disepakati," terangnya.

Isu ini menjadi ramai manakala harga yang dipatok TBIG kepada operator seluler mahal. Presiden Director & CEO Indosat Ooredoo, Chris Kanter, menyebutkan untuk menyewa infrastruktur tersebut dibutuhkan duit sebesar Rp 600 juta per bulan. Padahal, melihat panjangnya jalur bawah tanah MRT Jakarta, seharusnya tidak semahal itu.

Sementara, dari pihak TBIG menyatakan bahwa untuk penerapan harga sewa infrastruktur di jaluar MRT Jakarta tiada bedanya dengan kawasan lainnya seperti bandara. [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Smartfren
  2. Telco
  3. MRT
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini