Rusia Akhirnya Buka Blokir Telegram Setelah 2 Tahun

Selasa, 30 Juni 2020 17:50 Reporter : Indra Cahya
Rusia Akhirnya Buka Blokir Telegram Setelah 2 Tahun Telegram App. © Tchapps.com

Merdeka.com - Pasca lebih dari dua tahun diblokir, pemerintah Rusia akhirnya memulihkan akses terhadap layanan perpesanan asli negaranya yakni Telegram.

Para pengguna smartphone di Rusia pun bisa memakai layanan Telegram kembali.

Pengawas komunikasi Rusia Roskomnadzor menyebut, pemerintah membuka akses Telegram lantaran pendiri Telegram Pavel Durov siap bekerja sama dengan pemerintah untuk memerangi terorisme dan ekstremisme di platform-nya.

"Roskomnadzor menghentikan tuntutannya untuk membatasi akses Telegram, dalam perjanjian dengan kantor kejaksaan umum Rusia," kata perwakilan lembaga tersebut, sebagaimana dikutip dari The Verge via Tekno Liputan6.com.

Pengadilan Rusia sendiri mengeluarkan perintah pemblokiran Telegram pada April 2018. Rusia memblokir Telegram karena pengelola aplikasi menolak untuk menyerahkan kunci enkripsi alias berbagi data pengguna dengan Roskomnadzor.

Karena sifatnya yang dianggap aman dan privat, Telegram jadi sebuah platform yang banyak digunakan oleh pelaku dan organisasi terorisme.

1 dari 2 halaman

Tak Mau Ada Jalur Belakang

Penolakan Telegram menyediakan kunci enkripsi dianggap melanggar hukum antiterorisme Rusia. Padahal hukum tersebut mengharuskan layanan pesan untuk memberikan akses kepada pemerintah untuk mendekripsi pesan.

Dalam penolakannya memberikan kunci enkripsi ke Rusia, CEO Telegram Pavel Durov menyebut, privasi bukanlah barang dagangan. Hak asasi manusia, menurut Durov, tidak bisa dikompromikan hanya karena ketakutan atau ketamakan pihak tertentu.

Larangan beroperasinya Telegram di Rusia sebagian besar tidak efektif karena banyak masyarakat memakai VPN. Akibatnya Rusia memblokir 15,8 juta IP di platform cloud Amazon dan Google.

Tak hanya itu, Rusia juga memblokir layanan VPN yang memungkinkan pengguna mengakses Telegram.

2 dari 2 halaman

Tingkatkan Tool Pendeteksi Konten Terorisme

Baru pada awal bulan ini, Durov menyebut, pemerintah Rusia harus membuka blokir Telegram.

"Pemerintah Rusia harus membuka blokir Telegram dan memperbolehkan pengguna di Rusia mengakses layanan Telegram dengan lebih nyaman," katanya.

Menurut Durov, perusahaan telah meningkatkan tool untuk mendeteksi dan menghapus konten-konten ekstrimisme di platform mereka.

Telegram sendiri telah memiliki 400 juta pengguna aktif di seluruh dunia terhitung April lalu. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu 2 tahun.

Sumber: Liputan6.com
Reporter: Agustin Setyo Wardani [idc]

Baca juga:
Lakukan Brand Refresh, Waze Kini Tampilkan Mood Pengendara di Aplikasi
India Blokir TikTok dan Beberapa Aplikasi Asal Tiongkok, Mengapa?
Media Sosial Buatan Anak Bangsa Ini Klaim Bisa Bersaing di Tingkat Global
Rilis Single Baru, Blackpink Pecahkan Rekor View Youtube
Facebook Uji Coba Dark Mode di Aplikasi Mobile
Pemboikotan Facebook Ad Kini Makin Meluas, Ini Merek yang Turut Serta!
Facebook Akan Beri Anda Notifikasi Sebelum Membagi Artikel Lawas

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Media Sosial
  3. Telegram
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini