KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Penelitian: Putus cinta buat wanita sakit sementara, pria selamanya

Sabtu, 8 Agustus 2015 06:06 Reporter : Bramy Biantoro
ilustrasi putus cinta. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/slysun

Merdeka.com - Banyak orang yang mengatakan bila pasca putus dari hubungan percintaan, seorang wanita akan terlihat lebih menderita dan patah hati ketimbang pria. Namun, berdasarkan hasil penelitian Universitas Binghamton, Amerika, yang terjadi justru sebaliknya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Craig Morris dari universitas tersebut, putus cinta memang bisa membuat seorang wanita merasakan rasa sakit emosional yang lebih parah dari pada pria. Tetapi, sifatnya ternyata hanya sementara.

Penelitian yang diikuti oleh 5.000 orang lebih dari 96 negara itu juga mengungkapkan bila wanita lebih sering merasakan efek negatif pasca putus. Hal itu terlihat secara emosional dan jasmaniah.

Akan tetapi, setelah memasuki masa-masa sulit itu wanita bisa pulih baik emosi dan jasmani secara utuh. Bahkan, mereka bisa berkembang menjadi lebih dewasa dan kuat.

Menariknya, resiko putus cinta, terlebih bagi mereka yang telah mengandung atau melahirkan anak juga ikut mempengaruhi pola evolusi wanita, membuat mereka lebih bisa menyeleksi calon pasangan yang lebih baik dari generasi ke generasi.

"Sederhananya, wanita bisa berevolusi dengan lebih baik ketimbang pria setelah putus hubungan," ujar Craig Morris, Daily Mail (07/08).

Di sisi lain, evolusi pria membuat mereka lebih peduli tentang kompetisi mendapat perhatian dari wanita ketimbang terus 'galau' setelah putus. Oleh sebab itu, meskipun kehilangan sosok wanita pendamping yang sangat 'berkualitas' dan dicintai, mereka mungkin akan terlihat biasa.

"Pria akan merasa sangat kehilangan dalam waktu yang lama, namun rasa kehilangan itu akan memudar saat dirinya merasa harus 'berkompetisi' lagi untuk mendapatkan pendamping lain," lanjut Craig.

Celakanya, penelitian itu menunjukkan bila seorang pria tidak akan pernah bisa benar-benar sembuh dari rasa sakit patah hati selamanya. Tidak seperti wanita yang bisa berevolusi secara mental dan pikiran, pria hanya akan 'move-on' saja tanpa ada 'closure' atau jawaban pasti yang bisa menutup rasa kehilangan mereka.

"Pria memang harus segera mencari pengganti setelah kehilangan, tetapi hal terburuknya, mereka masih terus berpikir bahwa wanita yang sudah hilang tidak akan pernah tergantikan," kata Craig.

Peneliti Universitas Binghamton itu juga mengatakan bila putus cinta dan patah hati penting bagi manusia, sebagai pengalaman berharga. Sebab rata-rata akan mengalaminya minimal tiga kali sebelum umur 30 tahun.

Putus cinta yang benar-benar 'membekas' juga dikatakan bisa menurunkan kualitas kehidupan manusia dalam kurun waktu mingguan sampai bulanan.

Apakah Anda juga mengalami hal yang sama? [bbo]

Topik berita Terkait:
  1. Penelitian
  2. Penelitian Ilmiah
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.