Pemerintah Target Integrasi PeduliLindungi dengan Arab Saudi & Negara Lain Akhir 2021

Kamis, 16 Desember 2021 11:15 Reporter : Titah Mranani
Pemerintah Target Integrasi PeduliLindungi dengan Arab Saudi & Negara Lain Akhir 2021 Aplikasi PeduliLindungi. © Fimela.com

Merdeka.com - Mendekati akhir 2021, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menargetkan aplikasi PeduliLindungi akan terintegrasi dengan aplikasi di Arab Saudi dan negara-negara Asia lain. Dengan terintegrasinya aplikasi PeduliLindungi ini akan memudahkan sistem protokol kesehatan bagi jamaah Indonesia yang sedang menjalankan ibadah haji dan umrah.

"Mudah-mudahan akhir tahun ini, kami akan menetapkan kesepakatan dengan Arab Saudi dan juga negara-negara Asia untuk menyelaraskan aplikasi kami (PeduliLindungi)," ungkap Budi Gunadi dalam pidato acara "Health Business Gathering 2021" di Mulia Resort, Kabupaten Badung, Bali, seperti yang dikutip dari Liputan6.com.

Pengintegrasian aplikasi PeduliLindungi dengan aplikasi prokes dari berbagai negara lain untuk mewujudkan standar protokol kesehatan global. Hal ini juga menjadi salah satu topik yang akan disuarakan Indonesia dalam Presidensi G20 pada 2022 mendatang.

Saat ini, Kemenkes juga masih terus membahas panduan standar ptokes global dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Digital European Union (EU) COVID-19 Certificate, dan International Civil Aviation Organization (ICAO).

"Kami sedang berbicara dengan EU dan juga International Civil Aviation Organization (ICAO) untuk mengatur standar protokol kesehatan," ujar BGS.

Menkes melihat standar protokol kesehatan global perlu dibangun. Dalam hal ini, ketika pergi ke negara lain, standar protokol kesehatan cukup dengan kelengkapan dokumen yang sudah terintegrasi lewat aplikasi prokes masing-masing negara, sehingga tinggal diverifikasi di negara tujuan.

"Kita harus menyelaraskan standar protokol Kesehatan global. Jika pergi ke Tiongkok, misalnya, ada persyaratan vaksinasi yang harus diunduh lewat aplikasi tertentu. Jika Anda pergi ke India, berbeda juga protokolnya," jelas Budi Gunadi Sadikin.

"Lain juga kalau kita pergi ke Roma, Italia. Padahal, jika kita belajar dari keimigrasian, hanya ada satu dokumen standar yang disebut paspor, dan proses keimigrasiannya sama. Itu adalah sesuatu yang ingin kami lakukan," lanjutnya.

Budi menekankan terkait standar protokol kesehatan ini tidak hanya diterapkan di negara maju, tetapi juga negara berkembang.

"Kami percaya pada prinsip ekuitas, perangkat lunak, dan perangkat keras, serta kemampuan manufaktur perlu disebarkan secara global. Tidak akan cukup hanya terjadi di negara-negara maju. Itu harus dibangun di negara-negara berkembang," tutupnya.

Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono [ttm]

Baca juga:
Ini Syarat dan Cara Melindungi Keluarga Saat Liburan Selama Nataru
Menko Luhut: Penggunaan PeduliLindungi di Jawa-Bali Turun 74 Persen
Sandiaga Uno Beberkan Kendala Penggunaan Aplikasi PeduliLindungi
DIY Maksimalkan Aplikasi PeduliLindungi untuk Wisatawan di Libur Natal dan Tahun Baru
Luhut: Aplikasi PeduliLindungi Berkembang Pesat, Telah Digunakan 170 Juta Kali
Anies Ingatkan Pengelola Gedung Tertib Gunakan Aplikasi Pedulilindungi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini