Pavel Durov sebut Hacker Tiongkok Dalang di Balik Serangan Telegram

Senin, 17 Juni 2019 10:26 Reporter : Fauzan Jamaludin
Pavel Durov sebut Hacker Tiongkok Dalang di Balik Serangan Telegram Telegram App. © Tchapps.com

Merdeka.com - Telegram disebut-sebut menjadi target serangan siber. Kabar tersebut pun ditanggapi pendiri sekaligus CEO Telegram. Dilaporkan Reuters, Senin (17/6), Pavel Durov justru menuding jika Tiongkok adalah dalang di balik serangan siber tersebut.

Ia mengungkapkan hal itu melalui akun Twitternya @durov. Dalam cuitannya itu, ia menyebut bahwa aplikasi perpesanan besutannya itu diserang oleh hacker yang terafiliasi oleh negara Tiongkok.

Menurut Durov, Telegram menghadapi serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang cukup kuat, di mana alamat IP penyerang berasal dari Tiongkok.

Durov juga menyebut, serangan DDoS itu bertepatan dengan pecahnya aksi protes di Hong Kong, terkait dengan RUU ekstradisi.

Serangan DDoS tersebut melibatkan pengiriman serangan tertarget, sehingga membuat terjadinya gangguan terhadap sebagian atau seluruh layanan Telegram.

Sebelumnya, ratusan ribu pengunjuk rasa di Hong Kong menentang undang-undang ekstradisi yang memungkinkan orang-orang di Hong Kong diekstradisi ke Tiongkok jika dianggap melakukan pelanggaran.

Pemerintah Tiongkok mengecam aksi protes tersebut dan menyebut, para demonstran dimotivasi oleh kekuatan dari luar. Aksi protes pun dianggap bisa merusak stabilitas sosial di Hong Kong.

Sementara itu, saat dimintai konfirmasi, pengawas kebijakan siber di Tiongkok Cyberspace Administration of China (CAC) belum memberikan jawaban.

Di sisi lain, juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Geng Shuang menyebut, pihaknya tidak mengetahui apapun terkait tudingan Durov.

Sekadar informasi, Telegram dan aplikasi chatting terenkripsi lainnya cukup populer bagi demonstran untuk berkoordinasi, tanpa ketahuan oleh aparat.

Terkait serangan yang bertepatan dengan aksi protes warga Hong Kong, Durov menambahkan, kasus serangan serupa pernah dihadapi oleh Telegram. Oleh karena itu, dia menyebut, kasus serangan siber terhadap Telegram ini bukanlah pengecualian.

Sebelumnya, aplikasi lain juga diblokir di Tiongkok selama gerakan politik di Hong Kong. Pada 2014 pula, Tiongkok memutuskan akses ke aplikasi berbagi foto Instagram di mainland Tiongkok.

Pejabat Tiongkok pun kerap membantah tudingan atas serangan siber yang didalangi oleh pemerintahnya. Ia bahkan mengatakan bahwa Tiongkok justru menjadi pihak yang sering jadi korban serangan siber pihak lain. [faz]

Topik berita Terkait:
  1. Telegram
  2. Hacker
  3. China
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini