Paket internet unlimited harus fair ke pelanggan

Jumat, 5 Februari 2016 19:27 Reporter : Fauzan Jamaludin
Operator seluler. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Chief Executive Officer (CEO) Bolt! Dicky Moechtar, berpendapat bahwa penawaran paket internet unlimited yang dilakukan oleh operator selular (wireless) dianggap terlalu memaksakan. Penggunaan paket internet unlimited itu cenderung lebih cocok digunakan bagi operator yang melayani jasa internet menggunakan fiber optik. Alasannya, kata dia, keterbatasan alokasi frekuensi. Misalnya Bolt!.

Alokasi frekuensi yang digunakannya sangat terbatas yakni hanya 15Mhz saja atau setara dengan kecepatannya 150 Mbps. Untuk operator berbasis wireless seperti dia, alokasi frekuensi yang kecil itu akan berpengaruh juga pada kecepatan. Berbeda dengan yang murni menggunakan fiber optik, bisa mencapai 1000 Mbps.

"Yang berbasis kabel itu bisa unlimited karena kapasitasnya lebar bisa sampai 1000-an Mbps. Itu seperti First Media, Link Net, Biznet, dan lain sebagainya. Jangan dibandingkan dengan wireless atau frekuensi seperti kita. Kalau dipaksain sih bisa juga tapi pasti ada batasnya," kata dia belum lama ini.

Pendapat Dicky, senada dengan Heru Sutadi, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute. Kata Heru, paket unlimited yang ditawarkan oleh operator terkadang ada imbas tertentu kepada pelanggan. Misalnya saja, ketika mencapai kuota tertentu, maka kecepatan internet akan dikurangi. Hal itu diakui Heru, sering dialaminya.

"Saya pakai operator seluler cukup dirugikan ketika menggunakan kuota saja, karena setelah itu saya kena GPRS. Dan GPRS kan sangat mahal, bayangin dengerin lagu saja 25MB yang biasa sekitar Rp 25 ribu, yang HD 125 MB Rp 125 ribu, maka saya minta unlimited, meski jika pada kuota tertentu kecepatannya diturunkan," ujarnya.

Ia pun merasa, seharusnya operator memberikan penjelasan dulu kepada pelanggan mengenai paket unlimited itu. Sehingga pelanggan tidak merasa dirugikan.

"Saya pikir ini lebih fair, sepanjang pengguna tahu kalau misalnya, sampai sekian GB kuota tercapai, kecepatan diturunkan. Hal ini juga berlaku bagi internet rumahan," lanjut dia.

"Istilah (unlimited – red) yang pas memang sulit dicari ya, karena benar memang unlimited secara volume, tapi ada ketentuan penurunan kecepatan setelah volume tertentu dilampaui. Unlimited bersyarat tepatnya, unlimited* di mana *syarat dan ketentuan berlaku. Nah syarat dan ketentuan berlaku ini yang harus fair juga bagi pengguna," imbuhnya.

Hal tersebut, kata Heru juga seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi regulator untuk menentukan batas kuota pada unlimited sebelum kecepatannya berkurang. Namun, juga jangan terlalu rendah karena akan merugikan konsumen.

"Begitu juga perubahan kecepatan, antara masih masuk kuota dengan setelah kuota unlimited terlampaui, gap nya juga tidak boleh terlalu jauh," terangnya. [gni]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.