Otak, Organ Manusia Paling Misterius

Rabu, 5 Desember 2018 16:33 Reporter : Indra Cahya
Otak, Organ Manusia Paling Misterius Ilustrasi otak. ©shutterstock.com/Andrea Danti

Merdeka.com - Otak adalah pusat organ dari tubuh kita, dan merupakan organ yang sangatlah rumit. Bahkan, para ilmuwan pun masih belum mengungkap organ ini secara keseluruhan.

Penelitian terkini menunjukkan adanya peta baru yang memiliki 100 area di otak. Area tersebut belum pernah dilaporkan dalam penelitian manapun sebelumnya.

Area baru itu sesungguhnya berkaitan dengan semua indera, gerak, dan beberapa fungsi lain, seperti pemecahan masalah dan mengatur emosi. Area ini dikenal sebagai korteks serebral yang letaknya di lapisan luar jaringan saraf otak.

Dikutip dari India Times via Tekno Liputan6.com, profesor neurosains dan psikologi Universitas Yale, David McCormick, menyontoh sederhana dari area otak ini, yaitu menganggapnya selembar pizza besar dan kardus yang melindunginya.

Kembali ke dalam otak, saat ini para ilmuwan sedang mengumpulkan data untuk membantu mengidentifikasikan area baru ini. Ketebalan cortex ini, misalnya, memiliki ukuran yang variatif. Di beberapa tempat, area ini memiliki ketebalan 1 milimeter dan yang lain, setebal 4,5 milimeter.

Saat ini, penelitian mengenai aliran sinyal ke otak menggunakan teknik FMRI. Teknik ini menggunakan citra dari aliran darah di otak dan menambahkan informasi mengenai isolasi lemak di area sekitar saraf otak. Dengan metode ini, para peneliti dapat membagi otak manusia menjadi 180 area kortikal, termasuk 97 area yang baru ditemukan.

Salah satu daerah ini, misalnya, alur besar yang disebut POS2 yang tepat di depan korteks visual, merupakan bagian dari otak yang memungkinkan manusia untuk melihat.

Dari pembagian ini, para ilmuwan dapat memanfaatkannya untuk upaya penelitian yang akan datang. Salah satunya artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.

Dari pengembangan tersebut, para peneliti melatih algoritma pembelajaran mesin untuk dapat mengidentifikasi manusia hanya dari sidik jari. Peneliti menggunakan algoritma ini untuk menemukan area yang sama dengan subjek penelitian mereka sendiri. Saat ini, algoritma ini sudah 96,6 persen akurat, meski sistemnya masih dianggap belum cukup baik.

Sumber: Dream.co.id & Liputan6.com [idc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini