Menristekdikti: Indonesia butuh banyak technopreneur!

Senin, 14 November 2016 12:15 Reporter : Fauzan Jamaludin
Menristekdikti: Indonesia butuh banyak technopreneur! ilustrasi technopreneur. © taringa.net

Merdeka.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir mengatakan, penerapan industri berbasis teknologi mutlak diperlukan. Perguruan tinggi kedepan harus bisa menyiapkan sumberdaya yang berkualitas. Tiga puluh tahun kedepan, Nasir menyebutkan Indonesia akan memasuki era bonus demografi atau Millenium Development Goals (MDG) dimana jumlah angkatan kerja akan semakin banyak.

Maka dari itu, perguruan tinggi harus dikelola dengan maksimal untuk menghasilkan tenaga kerja yang baik. Supaya semua lulusannya nanti memiliki kompetensi pada bidangnya masing-masing.

"Permasalahan yang masih dihadapi Indonesia adalah bagaimana cara meningkatkan nilai tambah untuk daya saing good and services," ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (14/11).

Dikatakannya, pihaknya menilai salah satu solusinya dapat melalui program technopreneurship. Namun sayangnya prosentase wirausaha Indonesia masih berada di angka 0,43 persen dari total usia produktif angkatan kerja. Angka ini jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Thailand (3 persen), Malaysia (5 persen) dan Singapura (7,2 persen).

Nasir menyebutkan problem lainnya yang kerap dihadapi perguruan tinggi juga berada pada para dosennya.

"Nanti kalau yang vokasi kami create 50% dari universitas, 50% lagi dari industri. Tapi bagaimana jika dosen tersebut pendidikannya masih S1, D4 dan sebagainya? Nah kita akan gunakan kualifikasi kompetensi nasional, kita lihat ada di level berapa dosen tersebut," imbuhnya.

Nasir berharap paling tidak wirausahawan (technopreneur) Indonesia mencapai angka 2 persen dari total angkatan kerja. Akan lebih baik lagi apabila wirausaha ini berbasiskan teknologi (iptek). Untuk itu Nasir juga mendorong agar perguruan tinggi swasta semakin banyak yang memiliki akreditasi A.

"Maka saya melalui Dirjen Kelembagaan jika ada wilayah yang akreditasi B nya gemuk, itu agar didorong dan didukung supaya jadi A," tambahnya. [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Digital Startup
  2. Kemenristek
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini