Mengapa Zoom Jadi Aplikasi yang Rentan Risiko Pembobolan Privasi?

Selasa, 7 April 2020 08:10 Reporter : Indra Cahya
Mengapa Zoom Jadi Aplikasi yang Rentan Risiko Pembobolan Privasi? Ilustrasi Aplikasi Zoom. ©2020 REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Merdeka.com - Aplikasi Zoom kini sedang populer. Ini adalah aplikasi video konferensi yang namanya melambung semenjak anjuran physical distancing sehingga masyarakat beraktivitas dari rumah.

Tak cuma untuk bekerja, Zoom bahkan digunakan untuk konser online, pesta digital, hingga pernikahan online.

Permasalahannya, Zoom saat ini sedang dirundung risiko keamanan dan privasi. Mulai disadari bahwa layanan Zoom yang sempat gratis diduga datang dengan 'barter' terhadap data pribadi pengguna.

Permasalahan pertama datang dari mudahnya pengguna untuk mengakses sebuah konferensi di Zoom. Hal ini merupakan celah di mana sistem Zoom yang memberi ID kode akses yang dibuat acak, serta tidak adanya password untuk masuk.

Hal ini kerap 'mengundang' orang yang masuk ke panggilan Zoom yang tak seharusnya miliknya lewat sebuah kode akses, lalu menyiarkan konten sensitif seperti pornografi. Hal ini diberi istilah yakni 'Zoombombing.'

Melansir The Verge, sebuah tool sederhana yang dikembangkan oleh para pakar keamanan, dapat dengan mudah menemukan ID akses terhadap 100 konferensi di Zoom dalan satu jam. Sementara, penggunaan password tidak diaktifkan secara default. Sehingga, konferensi Zoom cukup mudah dibobol.

1 dari 3 halaman

Risiko Lebih Besar

Zoom tak memiliki risiko di sekadar Zoombombing. The Verge melaporkan bahwa Zoom memiliki permasalahan dengan pengaturan "Direktori Perusahaan" yang dapat membocorkan email dan foto pengguna.

Selain itu ditemukan bahwa panggilan video di aplikasi tersebut tidak dienkripsi end-to-end seperti yang diklaim oleh Zoom.

Akhirnya setelah temuan ini, Zoom menyebut bakal merilis fitur baru dan akan berfokus pada perbaikan privasi dan masalah keamanan dalam 90 hari ke depan.

2 dari 3 halaman

Pengiriman Data ke Facebook

Sebelumnya, Zoom akhirnya menggulirkan update di versi iOS untuk menghapus kode yang membuat Zoom mengirimkan data-data pengguna ke Facebook.

Langkah update ini dilakukan setelah adanya analisis dari Motherboard terhadap aplikasi Zoom yang ternyata mengirimkan berbagai informasi ke Facebook.

Adapun informasi yang dikirimkan mulai dari zona waktu, kota, sampai ke detail perangkat yang digunakan si pengguna, bahkan jika si pengguna tak memiliki akun Facebook sekali pun.

Parahnya, pengiriman data ke Facebook ini tidak dijelaskan di kebijakan privasi Zoom.

Zoom sendiri baru-baru ini menyadari bahwa SDK Facebook mengumpulkan data perangkat yang sebenarnya tidak diperlukan.

Dalam pernyataan selanjutnya, pihak Zoom menyebutkan, data-data yang dikumpulkan oleh SDK Facebook tidak termasuk data atau informasi pengguna.

"Data yang dikumpulkan antara lain tipe OS smartphone dan versinya, zona waktu perangkat, perangkat OS, model dan operator perangkat, ukuran layar, core prosesor, dan ukuran memori," kata Zoom.

3 dari 3 halaman

Pengguna Harian Meningkat

Meski demikian, Zoom menemui kesuksesan di tengan pandemi ini. Eric Yuan, pendiri sekaligus CEO Zoom mengatakan bahwa wabah virus corona yang berdampak secara global berpengaruh positif terhadap pengguna aktif harian layanan aplikasi tersebut.

Kata dia, pengguna aktif harian Zoom kini mencapai 200 juta. Angka itu meningkat signifikan, tepatnya 20 kali lipat dalam kurun waktu sekitar tiga bulan sejak akhir 2019.

"Pada akhir Desember tahun lalu, angka tertinggi peserta konferensi harian, baik gratis maupun berbayar, yang berlangusung di Zoom adalah sekitar 10 juta," ujar dia dikutip dari Reuters.

Cakupan pengguna Zoom sangat beragam. Mulai dari lembaga pendidikan, korporasi, organisasi hingga partai politik. Mereka, di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini, melakukan segala aktivitas dari rumah dan Zoom merupakan salah satu aplikasi yang menjadi penghubung mereka. [idc]

Baca juga:
Telkom University-LIPI Ciptakan Robot AUMR Pertama di Indonesia untuk Lawan Corona
Hati-Hati! Aplikasi untuk Rapat Virtual Berpotensi Diretas Hacker, Ini Faktanya
SuperSIM, Teknologi Baru Yang Padukan Kartu SIM dan Kartu Memori Jadi Satu
Capcom Tunda Uji Coba Beta Resident Evil Resistance
HP Perkenalkan Headset VR Baru, Digarap Bersama Dengan Microsoft dan Valve

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Teknologi
  3. Media Sosial
  4. Virus Corona
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini