Mengapa larangan situs perselingkuhan Singapura masuk akal?

Sabtu, 2 November 2013 22:30 Reporter : Alvin Nouval
Mengapa larangan situs perselingkuhan Singapura masuk akal? Ashley Madison. ©2013 Telegraph.co.uk

Merdeka.com - Warga Singapura merasa gelisah dengan fakta bahwa Ashley Madison, sebuah situs yang diperuntukkan bagi orang yang sudah menikah untuk selingkuh, akan ‘diluncurkan’ di Singapura. Situs kontroversial asal Kanada ini juga menuai protes ketika diluncurkan di Hong Kong sebagai bagian dari ekspansinya ke Asia, termasuk ke Jepang dan India.

Di satu sisi, pihak oposisi di Singapura sedang gencar bertumbuh, dengan grup Facebook yang menarik lebih dari 20.000 ‘like’ sebagai petisi yang diajukan kepada pemerintah untuk memblokir situs tersebut. Mereka berpendapat bahwa situs ini bisa merusak pernikahan, menumbuhkan ketidakharmonisan sosial, dan pada akhirnya menciptakan Singapura yang ‘korup’.

Di sisi yang lain, beberapa orang berpendapat bahwa pemerintah tidak harus bertingkah seperti ‘pengasuh bayi’. Pemerintah harus percaya kepada warganya untuk membuat pilihan hidupnya masing-masing.

Bagaimanapun juga, kedua argumen tersebut terlalu menyederhanakan realitas.

Secara moral, kita setidaknya tahu bahwa situs seperti Ashley Madison perlu diragukan. Situs ini mempunyai potensi untuk menyebabkan kerusakan dengan membuat praktik perselingkuhan lebih mudah.

Meski Singapura didominasi oleh warga yang memilih monogami, tidak semua orang menganut paham tersebut. Bagi orang-orang ini, Ashley Madison bisa menjadi sarana yang positif untuk mengekspresikan seksualitas mereka.

Situasi ini menjadi semakin rumit dengan fakta bahwa berita tentang peluncuran situs ini telah menyebar luas di Singapura. Penyebaran artikel aslinya yang sensasional ikut andil dalam hal ini.

Hal ini membuat pemerintah berada dalam posisi yang aneh. Pemerintah telah menetapkan contoh bagi para pengirim petisi dengan memblokir beberapa situs—sebagian besar tentang pornografi—untuk konten yang dilarang. Tidak seperti China, Singapura membiarkan akses internetnya tanpa filter, dan hanya melarang beberapa situs sebagai ‘simbol’ untuk membatasi nilai-nilai dalam masyarakat. Apa yang diinginkan oleh pengirim petisi adalah bahwa Ashley Madison ditambahkan dalam daftar situs yang dilarang tersebut, permintaan yang cukup sederhana.

Dengan tekanan publik yang tinggi pada kasus ini, masyarakat konservatif mengharapkan pemerintah untuk segera menentukan sikap. Dari sisi pemerintah, larangan untuk situs ini menghabiskan biaya yang sedikit karena hanya bersifat simbolis, dan siapapun yang terhubung dengan jaringan virtual pribadi masih bisa mengakses situs ini jika mereka mau. Pengirim petisi juga akan puas, karena hal ini dapat memenuhi fantasi mereka tentang pernikahan yang terjaga oleh naungan sensor internet.

Pemerintah mungkin akan rugi jika tidak bertindak, karena masyarakat konservatif yang juga merupakan pemilik suara terbanyak, akan menganggap pemerintah lemah. Pemerintah juga termotivasi karena pernikahan adalah lembaga yang berusaha untuk dilestarikan di negara ini.

Jadi, larangan untuk situs ini masuk akal, meski dalam kenyataannya, dampak keputusan ini tidak begitu signifikan.

Jika pemerintah memutuskan untuk melarang situs ini, maka akan sangat berdampak pada masyarakat. Singapura sendiri sekarang sangat memperhatikan internet. Ada banyak sekali konten menyimpang di internet yang jika ingin diblokir semuanya, akan membutuhkan banyak waktu dan biaya. Pendirian Great Firewall di China menghabiskan biaya Rp 8,8 triliun, tidak termasuk biaya upgrade dan perekrutan dua juta karyawan untuk memonitor aktivitas internet.

Selanjutnya, orang-orang yang ingin melepaskan diri dari kehidupan pernikahannya yang membosankan masih bisa menemukan cara untuk selingkuh baik secara online maupun offline. Bahkan, banyak situs kencan di Singapura yang diperuntukkan untuk kaum lajang, seperti OkCupid.com memungkinkan pengguna untuk menunjukkan bahwa mereka sudah menikah.

Bisa dikatakan bahwa orang-orang yang sudah menikah telah melakukan praktik perselingkuhan ini jauh sebelum Ashley Madison muncul. Akar penyebabnya terletak pada lingkungan pernikahan itu sendiri dan konstruksi sosial di era kita. Berdasarkan sejarah dan kenyataan, monogami adalah paham yang tidak dipraktikkan secara benar.

Membesar-besarkan dampak yang bisa disebabkan Ashley Madison terhadap kerusakan hubungan pernikahan seolah hanya untuk mengalihkan isu. Lebih buruk lagi, para pengirim petisi tersebut telah menarik perhatian para calon pengguna dengan mengekspos keberadaan layanan perselingkuhan tersebut.

Artikel ini pertama kali muncul di Tech in Asia Indonesia [nvl]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. ID Tech In Asia
  3. Singapura
  4. Internet
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini