Masyarakat anggap tarif Telkomsel kemahalan? Padahal ini faktanya

Jumat, 28 April 2017 16:01 Reporter : Indra Cahya
Masyarakat anggap tarif Telkomsel kemahalan? Padahal ini faktanya Ilustrasi operator seluler. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Website Telkomsel diretas oleh hacker pagi ini, Jumat (28/4). Parahnya, sang peretas menggunakan kata-kata yang cukup kasar untuk menyampaikan keluh kesahnya.

Keluh kesahnya? Soal paket kuota internet dari Telkomsel yang harganya terlalu mahal.

Pertanyaannya, apakah tarif layanan Telkomsel memang mahal? Jawabannya bisa iya, dan bisa tidak. Jika hal ini dibandingkan dengan tarif layanan operator seluler di Indonesia, maka jawabnya adalah iya, Telkomsel memang menawarkan banderol harga yang mahal. Namun Jika perspektifnya diubah menjadi tarif layanan operator secara global, jawabannya tidak.

Benar, mengutip pendapat dari Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, Muhammad Ridwan Efendi, tarif layanan operator di Indonesia adalah salah satu yang termurah di dunia.

"Kita masih termurah di dunia sesudah India," ungkapnya melalui pesan singkat pada Merdeka.com.

Mahal itu wajar

Adapun Telkomsel yang memasang banderol 'mahal' untuk layanannya, menurut Ridwan itu adalah sesuatu yang sangat wajar. Hal ini dikarenakan Telkomsel ingin mengurangi 'celah' antara ongkos produksi dan pendapatan. Bahkan, menurut Ridwan, tarif paket data retail masih di bawah ongkos produksi.

"Perlu disadari saat ini tarif paket data retail kebanyakan masih di bawah ongkos produksi. Saat ini terbukti efek gunting itu, di mana trafik data melesat semakin tinggi, sementara revenue operator datar-datar saja," ungkap Ridwan.

Efek gunting sendiri merupakan tanda yang jelas atas melesatnya trafik yang tidak diikuti oleh pemasukan yang setimpal dari ongkos produksi yang digunakan untuk investasi ke berbagai penyokong jasa data seluler. Telkomsel sendiri ingin mengurangi celah tersebut dengan memberi tarif yang agak mahal, dengan diselingi berbagai konten hiburan sebagai bonus.

Subsidi silang

Perlu diketahui, menurut Ridwan, operator seluler di Indonesia membanderol harga paket layanan telekomunikasi dengan harga murah, karena harga tersebut telah disubsidi dari pendapatan voice. Ini yang membuat harga tarif layanan di negara kita jadi salah satu yang termurah di dunia. Permasalahannya, hal ini tidak adil dari sisi kerakyatan.

"Semua operator sekarang ini mensubsidi harga paket data dari revenue voice. Dari sisi kerakyatan ini sangat tidak adil, revenue voice kebanyakan berasal dari masyarakat menengah ke bawah, sementara pemakai data adalah masyarakat menengah ke atas," ungkap Ridwan.

Hal ini cukup masuk akal, pasalnya untuk mengakomodir kebutuhan data seluler dari masyarakat yang notabene kelas menengah, Telkomsel berinvestasi besar dengan melaksanakan pembangunan sekitar 25,000 BTS baru sepanjang 2016, yang mana 92 persen di antaranya merupakan BTS 3G/4G. Total, Telkomsel memiliki BTS sekitar 137,000 unit, dengan komposisi BTS 3G/4G sebesar 61 persen. Tentu semua itu adalah investasi yang tidak sedikit. Mau tidak mau, Telkomsel harus membanderol sedikit lebih mahal agar efek gunting tak terjadi secara signifikan. [idc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini