Literasi internet paling perlu masuk sekolah

Jumat, 18 Desember 2015 08:58 Reporter : Fauzan Jamaludin
Literasi internet paling perlu masuk sekolah ilustrasi internet. © lynn-library.libguides.com

Merdeka.com - Berdasarkan catatan ICT Watch, literasi digital atau internet diyakini penting untuk diberikan kepada para siswa.

Sebanyak 73 persen dari 165 responden Bapak/Ibu guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA se-Jabodetabek, Sukabumi dan Cilegon menyatakan bahwa materi literasi digital atau Internet 'sangat perlu' diberikan kepada siswa. Sedangkan 26 persen menyatakan 'perlu' dan hanya 1 persen yang menyatakan 'belum perlu' bagi para siswa. Lalu bagaimana sebaiknya materi literasi digital atau Internet diposisikan dalam kegiatan belajar mengajar?

"Masuk kurikulum!", demikian jawab 52 persen responden. 29 persen lainnya memilih menjadi 'materi khusus guru BK', 18 persen memilih menjadi kegiatan 'ekstra-kurikuler', dan hanya 1 persen berpendapat bahwa literasi digital/Internet belumlah perlu ada di materi dalam lingkup sekolah.

Data di atas merupakan hasil jajak pendapat sederhana yang dilakukan ICT Watch terhadap 165 (seratus enam puluh lima) Bapak/Ibu Guru BK ketika mengikuti pelatihan kompetensi, salah satunya tentang Internet Sehat (internetsehat.id), yang difasilitasi Universitas Pancasila, 8 Desember 2015 lalu. Walau sudah dipastikan literasi digital atau Internet perlu bagi siswa, ternyata kegiatan penyampaian materi tersebut di sekolah-sekolah tidak lah memadai.

40 Persen responden menyatakan 'tidak pernah' ada kegiatan workshop atau seminar tentang literasi digital atau Internet di sekolah untuk siswa dan 52 persen responden menyatakan hanya 'sesekali/insidentil'.

Hanya 7 persen yang menyatakan 'rutin/berkala', dan 1 persen lainnya 'tidak tahu'. Padahal 88 persen responden menegaskan bahwa 'ada cukup banyak' pelajaran atau tugas sekolah yang menganjurkan siswa untuk mencari jawaban di Internet! 12 persen lainnya menyatakan 'hanya sedikit' dan tidak ada yang menjawab 'tidak ada' atau 'tidak tahu'.

Kemudian ketika ditanyakan seberapa sering terjadi kasus di sekolah yang terkait dengan penggunaan Internet oleh siswa, 16 persen menyatakan 'cukup sering', 53 persen responden menyatakan 'sesekali', 21 persen 'jarang' dan hanya 10 persen yang menyatakan 'tidak pernah'.

Lantas menurut responden, resiko apa yang paling sering dihadapi murid ketika menggunakan Internet? 35 persen adalah kecanduan (Internet), 29 persen adalah terpapar konten negatif, 22 persen cyberbully, 10 persen pelanggaran privasi dan 4 persen predator (pedofil) online. [bbo]

Topik berita Terkait:
  1. Internet
  2. Internet Indonesia
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini