Literasi Asuransi Rendah, Tokio Marine Life Indonesia Kembangkan Aplikasi AMS

Sabtu, 1 Mei 2021 13:14 Reporter : Syakur Usman
Literasi Asuransi Rendah, Tokio Marine Life Indonesia Kembangkan Aplikasi AMS Webinar asuransi dari Tokio Marine Life Insurance Indonesia. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Kala pandemi, perusahaan asuransi umum asal Jepang, Tokio Marine Life Insurance Indonesia, berinovasi dengan mengembangkan aplikasi bernama Activity Management System (AMS). Aplikasi ini untuk mendukung penjualan Non Face to Face (NF2F).

Aplikasi AMS NF2F ini menjadikan para tenaga pemasar Tokio marine Life Insurance Indonesia dapat membantu masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan asuransinya tanpa risiko tertular virus Covid-19. Aplikasi ini juga mendukung para tenaga pemasar Tokio Marine Life Insurance Indonesia dalam mencapai targetnya. Mulai dari memantau aktivitas penjualan, melakukan pengisian SPAJ secara daring, proses approval di underwriting hingga polis terbit dan diterima nasabah.

Muhammad Irsan, Head of Agency Training & Manpower Development, PT Tokio Marine Life Insurance Indonesia, mengatakan harapannya melalui AMS NF2F ini, para tenaga pemasar tetap semangat untuk mencapai target dan calon nasabah pun merasa lebih aman serta nyaman berinteraksi dengan agen walau di masa pandemi.

Tokio Marine Life Insurance Indonesia pun tanpa henti terus berjuang melakukan literasi finansial kepada masyarakat di masa pandemi ini.

“Tokio Marine Life Insurance Indonesia juga secara rutin melakukan literasi finansial, seperti acara hari ini yang juga merupakan bagian dari program literasi finansial kami,” ujar Irsan dalam webinar Tokio Marine Life Insurance Indonesia: Bijak Memilih Asuransi Yang Tepat dan Aman, baru-baru ini.

Tingkat literasi asuransi di Indonesia memang masih rendah. Kondisi ini menyebabkan munculnya berbagai keluhan tentang produk asuransi yang terkait dengan investasi.

Survei Nasional Literasi Keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)2019 menyebutkan tingkat literasi keuangan di Indonesia khususnya di sektor asuransi jiwa masih rendah. Persisnya, Indeks Literasi Asuransi hanya 19,4 persen, lebih rendah dari Indeks Literasi Perbankan yang 36,12 persen.

Data OJK juga menunjukkan hingga Juli 2020, penetrasi asuransi jiwa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia hanya 1,1 persen. Artinya, jumlah penduduk Indonesia yang memiliki polis asuransi jiwa baru 17,4 juta orang atau 16 orang per satu polis.

Kata Irsan, perusahaan asuransi juga seharusnya memastikan bahwa para tenaga pemasarnya telah tersertifikasi dan memiliki pengetahuan produk yang baik sehingga mampu memasarkan seluruh produk yang dijual sesuai aturan yang berlaku.

"Di Tokio Marine Life Insurance Indonesia, kami mempunyai program pelatihan berkala untuk para tenaga pemasar. Bahkan kami secara khusus juga mengundang trainer profesional untuk memberikan program pelatihan yang komprehensif sebagai bekal para tenaga pemasar kami agar mereka dapat menjual produk dengan cara yang benar,” ucapnya.

Kenali Produk Investasi dan Risikonya

Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Financial Planning Standards Board Indonesia (LSP FPSB) Tri Djoko Santoso, mengungkapkan polis asuransi jiwa memiliki fungsi utama proteksi keuangan menyeluruh, yaitu melindungi keuangan keluarga karena hilang atau berkurangnya penghasilan (income protection) dan kekayaan (wealth protection) seorang pencari nafkah atau pemilik kekayaan, karena sebab meninggal, kecelakaan, sakit dan cacat.

“Dalam perencanaan keuangan, polis asuransi jiwa memiliki peran sangat penting bagi keluarga dari sejak seorang mulai bekerja (income and debt protection), menikah, memiliki anak sampai meninggal (warisan),” ujar Tri Djoko.

Karena itu, lanjut dia, polis asuransi jiwa dikemas dalam bentuk premi proteksi saja dan premi proteksi plus nilai tunai (tabungan atau investasi) untuk tujuan dan manfaat keuangan yang berbeda.

Perlu diingat, seiring waktu, premi proteksi asuransi akan terus meningkat seiring bertambahnya usia, inflasi, dan jenis proteksi. Premi nilai tunai salah satunya, bermanfaat untuk membantu membayar kenaikan premi asuransi, selain itu, premi nilai tunai dapat memberi manfaat-manfaat tabungan dan investasi lainnya.

Senior Vice President PT Schroders Investment Management Indonesia Adrian Maulana menambahkan dalam hal berinvestasi, calon investor atau pemegang polis harus lebih dulu mengenal produk investasi dan profil risiko dari nasabah.

“Sebabnya, tingkat risiko dari setiap jenis instrumen investasi itu berbeda-beda dan disesuaikan dengan profil risiko nasabah. Di sisi lain, peran perusahaan asuransi juga perlu untuk memberikan edukasi kepada calon investor atau pemegang polis, karena mereka mempunyai hak untuk berinvestasi sesuai dengan profil risikonya. Kedua unsur ini sangat penting agar tidak muncul dispute di kemudian hari,” jelas Adrian dalam sesi webinarnya. [sya]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini