Lingkungan online Indonesia miliki risiko merek tertinggi di Asia Tenggara

Kamis, 26 April 2018 12:00 Reporter : Syakur Usman
Internet. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Integral Ad Science (IAS), perusahaan pengukuran industri periklanan berbasis di New York, melaporkan lingkungan online atau daring (dalam jaringan) Indonesia memiliki risiko merek yang tinggi, yakni 9,1 persen, berdasarkan hasil pengukuran semester II tahun lalu.

Bahkan Indonesia lebih tinggi dibandingkan kawasan Asia Tenggara yang berada di 3,5 persen dan patokan global yang 7,9 persen.

Sebagai perbandingan, risiko merek di semua jenis pembelian di Asia Tenggara, Hong Kong, dan Taiwan adalah 3,5 persen, lebih rendah dari patokan global yang 7,9 persen. Sementara Thailand memiliki risiko keamanan merek sebesar 8,6 persen, risiko merek tertinggi kedua di Asia Tenggara, setelah Indonesia.

Niall Hogan, Direktur Pelaksana Asia Tenggara, Ilmu Pengetahuan Iklan Terpadu IAS, mengatakan laporan ini menunjukkan pentingnya bagi pengiklan, pembeli, dan penjual media digital untuk melihat kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) di tingkat negara.

"Tampilan keamanan merek secara keseluruhan relatif rendah di level 3,5 persen di semua wilayah, tapi mencapai puncaknya di Indonesia sebesar 9,1 persen," kata Hogan, dalam keterangan pers di Jakarta, kemarin (25/4).

Brand Risk Online 2018 Merdeka.com


Kata dia, semakin tinggi risiko merek, menunjukkan masih banyak tayangan iklan online yang ditampilkan bersama konten yang menghadirkan risiko terhadap keamanan merek, seperti konten dewasa dan alkohol. Selain itu, konten-konten yang kaya terhadap perkataan yang mendorong kebencian, unduhan ilegal, obat-obatan terlarang, bahasa kasar dan kekerasan, juga merupakan jenis konten yang menimbulkan risiko bagi keamanan merek.

Singapura dan Malaysia dilaporkan memiliki lingkungan daring paling aman, dengan hanya 2,5 persen dan 2,2 persen dari iklan yang ditampilkan bersama konten yang berisiko. Lebih lanjut dijelaskan pula, visibilitas iklan online (keterlihatan iklan) di Asia Tenggara, Hong Kong, dan Taiwan adalah 58,9 persen, lebih tinggi dari patokan global yang 55,8 persen.

Sementara Indonesia, pada semester dua tahun lalu memiliki visibilitas iklan online sebesar 53,2 persen. Ini mengindikasikan kinerja yang lebih rendah daripada Asia Tenggara dan rata-rata global. [ara]

Topik berita Terkait:
  1. Internet
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini