Ketika diplomasi digital jadi tools lindungi WNI di luar negeri

Jumat, 13 Juli 2018 16:48 Reporter : Syakur Usman
Ketika diplomasi digital jadi tools lindungi WNI di luar negeri digital diplomacy. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia menggiatkan berbagai kegiatan diplomasi melalui platform digital (Digital Diplomacy). Hal ini tidak saja dilakukan untuk mendukung kegiatan bidang ekonomi dan politik, tapi juga sebagai sarana untuk menjalin komunikasi dengan WNI di luar negeri.

Achmad Ramadhan, Direktorat Informasi dan Media Kemenlu, mengatakan belakangan ini praktik diplomasi digital tengah digencarkan. Paling anyar, pada pertengahan April lalu, Kemenlu memanfaatkan digital guna melindungi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri, yakni dengan meluncurkan platform aplikasi Safe Travel yang berbasis multi-platform. Pemanfaatan digital dilakukan sebelumnya melalui website dan media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Youtube.

Dia menjelaskan, tidak hanya dalam kondisi darurat, aplikasi tersebut dirancang dengan konsep aman dan menyenangkan, berisikan informasi praktis yang diperlukan WNI. Dalam aplikasi yang dapat diunduh gratis ini, WNI akan mendapatkan informasi lengkap mengenai berbagai negara di dunia, informasi kontak rerwakilan RI, hukum dan tata aturan yang berlaku di masing-masing negara, mata uang setempat, tempat ibadah, lokasi wisata, maupun informasi kuliner.

Fitur penting lainnya adalah tombol darurat (panic button). Dalam keadaan darurat, WNI yang berada di luar negeri dapat menggunakan fitur tombol darurat untuk mengirim foto, merekam video, menghubungi perwakilan RI terdekat, dan mengirim lokasi kejadian, ujar Achmad di Jakarta, JUmat (13/7).

Dari sisi ekonomi, lanjut dia, Indonesia juga bisa mensosialisasikan berbagai kegiatan seperti pameran di Luar Negeri. Komitmen Kemenlu dalam menggiatkan diplomasi digital kembali ditunjukkan lewat kegiatan edukatif berupa seminar bertajuk Diplomasi Digital yang digelar kemarin (12/7) di Gedung Kemenlu Jakarta. Pada seminar internasional itu, Kemenlu menggandeng Pulse Lab Jakarta dan DIPLOFoundation. Seminar dihadiri korps diplomatik, perwakilan Kementerian dan Lembaga, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi swasta.

Dibuka oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, dituturkan Project Manager-Asia DIPLOFoundation Shita Laksmi, seminar internasional ini juga menghadirkan sejumlah praktisi diplomasi sebagai pembicara. Di antaranya, Allaster Cox, Wakil Duta Besar Kedutaan Australia; Rasmus Abildgaard Kristensen, Duta Besar Kedutaan Denmark; Profesor Jovan Kurbalija, Direktur dan Pendiri DiploFoundation; dan Derval Usher, Kepala Pulse Lab Jakarta.

Seminar membahas pengalaman-pengalaman keberhasilan dan tantangan diplomasi digital, hingga pengaruh diplomasi digital pada kegiatan diplomatik. Termasuk, sejumlah diskusi contoh interaksi sehari-hari dan tantangan ke depan yang dihadapi diplomasi digital, papar Shita.

Pada kesempatan itu, Jovan Kurbalija, Direktur DiploFoundation, berbicara luas tentang berbagai pengalaman diplomasi digital yang memanfaatkan situs jejaring sosial. Di era digital, penggunaan media sosial untuk diplomasi telah menjadi kebutuhan. Hampir semua pemimpin global saat ini memiliki akun Facebook dan Twitter dan menggunakannya sebagai saluran diplomasi, katanya. [sya]

Topik berita Terkait:
  1. Kemenlu RI
  2. Digital
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini