Kepemilikan Frekuensi Pasca Konsolidasi, Menkominfo sebut Tak Perlu Dikhawatirkan

Jumat, 3 Mei 2019 08:05 Reporter : Fauzan Jamaludin
Kepemilikan Frekuensi Pasca Konsolidasi, Menkominfo sebut Tak Perlu Dikhawatirkan BTS 4G. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) berharap agar operator seluler dapat melakukan konsolidasi. Tujuannya agar industri telekomunikasi tumbuh sehat. Namun di sisi lain, beberapa operator seluler masih mempertimbangkan hal tersebut.

Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah soal frekuensi perusahaan yang diakuisisi atau merger. Maklum, frekuensi merupakan sumber daya yang dimiliki oleh operator seluler untuk meningkatkan layanannya.

"Salah satu isu adalah soal frekuensi. Bagaimana terkait dengan itu. Jangan sampai konsolidasi ini menimbulkan penumpukan frekuensi pada satu operator seluler saja," ungkap Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah belum lama ini.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara mengatakan persoalan kepemilikan frekuensi akan ditarik atau tidak setelah perusahaan melakukan konsolidasi memang belum diputuskan. Sejauh ini masih terus dibahas.

Hanya saja, kata dia, frekuensi tidak usah dijadikan fokus oleh operator seluler untuk melakukan konsolidasi. Sebab, sumber daya frekuensi itu masih tersedia.

"Kalau secara strategis, frekuensi tidak harus jadi fokus lagi. Sekarang itu jadi isu, karena kekhawatiran bahwa frekuensi itu terbatas. Saya yakin itu tidak akan terjadi (frekuensi terbatas)," kata Rudiantara saat acara diskusi Indonesia Technology Forum di Jakarta, Kamis (2/5).

Menurutnya, pemerintah sedang menyiapkan frekuensi mulai dari 5 tahun sampai dengan 10 tahun mendatang. Misalnya, 700 Mhz bisa digunakan untuk operator seluler tetapi harus merivisi Undang Undang Penyiaran. Selain itu juga, ada 150 Mhz atau golden frekuensi yang saat ini masih dipakai oleh satelit dan berakhir pada 2024.

"Jadi tak perlu khawatir. Mungkin Kemkominfo dulunya tidak terbuka soal frekuensi ini, jadi ada perasaan jangan-jangan nanti saya gak dapat frekuensi. Tapi kan sekarang sudah semakin terbuka. Kita itu butuh 300 Mhz bandwidth dalam waktu 10 tahun ke depan," jelasnya.

Menyiapkan Skema

Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Ismail, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan 3 skema kepemilikan frekuensi yang nantinya memungkinkan agar operator seluler mau melakukan konsolidasi. Namun, 3 opsi skema ini masih menjadi pembahasan secara terus menerus.

3 opsi itu yakni, pertama, frekuensi seluruhnya dikembalikan ke operator. Kedua, sebagian dari frekuensi yang dimiliki operator seluler setelah konsolidasi ditarik kemudian dilelang. Dan yang ketiga adalah sebagian ditarik kemudian ditahan dulu sembari menunggu evaluasi dari Kemkominfo. Evaluasi ini terkait dengan kebutuhan operator seluler tersebut dan komitmennya. Komitmen ini seperti investasi dan jangkauan layanannya.

"Tiga opsi ini lagi kita kaji lebih dahulu plus minusnya. Tapi secara prinsip ya, frekuensi itu jangan dijadikan hambatan untuk melakukan konsolidasi. Karena kita itu menyediakan frekuensi secara terus menerus. Jadi jangan khawatir setelah konsolidasi tidak mendapatkan frekuensi," katanya.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa kunci dari aturan kepemilikan frekuensi adalah agar frekuensi ini bisa dimaksimalkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia.

"Kami kan ingin frekuensi ini menjadi sumber daya alam terbatas yang dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kuncinya itu saja," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Hutchison 3 Indonesia, Danny Buldansyah, mengatakan, opsi yang memungkinkan adalah sebagian dari frekuensi pascakonsolidasi diberikan ke pemerintah. Setelah operator seluler bersangkutan membutuhkan lagi, maka pemerintah dapat mengembalikannya lagi.

Perlu diketahui bahwa Undang-undang Telekomunikasi Tahun 1999 mengamanatkan frekuensi adalah milik negara. Oleh karena itu, jika satu operator berhenti beroperasi karena diakuisisi atau pailit, frekuensi operator harus dikembalikan kepada pemerintah [faz]

Topik berita Terkait:
  1. Kominfo
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini