Kaspersky temukan harga jual identitas digital yang digondol hacker

Jumat, 9 November 2018 13:15 Reporter : Fauzan Jamaludin
ilustrasi hacker. © Rt.com

Merdeka.com - Meskipun banyak dari kita pernah mendengar, atau bahkan menjadi korban kejahatan dunia maya seperti pencurian data dan identitas, tampaknya sedikit yang tahu seberapa besar nilai informasi yang dicuri tersebut.

Sebuah studi baru dari Kaspersky Lab menunjukkan bahwa walaupun identitas digital kita mungkin tidak bernilai banyak jika diuangkan, namun merupakan aset penting bagi para pelaku kejahatan siber yang dapat digunakan dengan cara lain.

Penelitian ini juga menemukan selera para pelaku kejahatan siber yang melakukan pencurian data dari layanan populer termasuk melalui akun media sosial dan akses jarak jauh ke situs web game.

Lantas, berapa harganya? Berdasarkan keterangan Kaspersky, Jumat (9/11), yang telah menyelidiki pasar Dark Web pelaku dapat menjual kehidupan digital seseorang yang lengkap dengan harga kurang dari USD50.

Identitas digital yang dijual termasuk data dari akun media social yang dicuri, rincian perbankan, akses jarak jauh ke server atau desktop, dan bahkan data dari layanan populer seperti Uber, Netflix, dan Spotify, serta situs web game, aplikasi kencan, dan situs web porno yang mungkin menyimpan informasi kartu kredit.

Sementara itu, para peneliti menemukan bahwa harga satu akun yang diretas bernilai lebih rendah, dengan sebagian besar harga penjualan berkisar di USD1 per akun. Bahkan pelaku juga menawarkan diskon untuk pembelian dengan jumlah banyak.

"Sangat jelas bahwa peretasan data adalah ancaman besar bagi kita semua. Ini berlaku baik untuk individu dan masyarakat, karena data yang dicuri ini dapat mendanai banyak kejahatan sosial. Untungnya ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencegahnya, termasuk dengan menggunakan perangkat lunak keamanan siber, apalagi mengingat banyaknya data yang dibagikan secara gratis khususnya pada profil media sosial yang tersedia secara publik atau untuk organisasi," ujar David Jacoby, Peneliti Keamanan Senior di Kaspersky Lab.

Lebih lanjut, dikatakan David, cara yang paling umum untuk mencuri data semacam ini adalah melalui kampanye phising spear atau dengan mengeksploitasi kerentanan keamanan dalam perangkat lunak aplikasi. Setelah serangan berlangsung sukses, pelaku akan mendapatkan kumpulan data berisi kombinasi email dan kata sandi untuk layanan yang diretas.

"Dengan banyaknya orang memasang kata sandi yang sama untuk beberapa akun, pelaku juga sangat mungkin untuk menggunakan informasi tersebut dalam upaya mengakses akun di platform lainnya," ungkap dia. [faz]

Topik berita Terkait:
  1. Hacker
  2. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini