Jebolan Silicon Valley, Xendit Bangun Sistem Pembayaran Digital Top di Indonesia

Senin, 25 November 2019 08:00 Reporter : Syakur Usman
Jebolan Silicon Valley, Xendit Bangun Sistem Pembayaran Digital Top di Indonesia startup fintech Xendit. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Xendit, salah satu penyelenggara gerbang pembayaran (payment gateway) terdepan di Indonesia, berniat membangun infrastruktur digital di Indonesia dan Asia Tenggara. Caranya dengan menyediakan sistem pembayaran digital sederhana, mudah digunakan, dan dapat diintegrasikan dengan cepat dengan sistem pengguna.

Xendit dibangun oleh co-founders Moses Lo (CEO), Tessa Wijaya (COO), Bo Chen (CTO), dan Juan Gonzalez (CINO) pada 2015.Mulai beroperasi sebagai gerbang pembayaran pada 2016 dengan misi untuk membuat sistem pembayaran di Indonesia semaju negara-negara lain di dunia.

Sebagai startup Indonesia pertama yang berhasil lulus dari inkubator bergengsi, YCombinator di Silicon Valley, Amerika Serikat, Xendit terus berinovasi dan mengembangkan teknologi untuk mencapai visi dan misinya.

“Kami melihat banyak kesempatan untuk membawa kemajuan dalam infrastruktur pembayaran digital di Indonesia. Kami melihat bagaimana majunya teknologi di negara lain, dan kami juga ingin membangun infrastruktur tersebut di Indonesia,” ujar Tessa Wijaya, saat keterangan pers sekaligus soft launching XenSpace di di Jakarta Selatan, kemarin (21/11).

Xendit mulai beroperasi sebagai gerbang pembayaran di Indonesia pada 2016. Saat awal produknya diluncurkan, banyak wirausaha belum dapat menemukan layanan pembayaran yang sesuai dengan standar yang mereka inginkan, seperti integrasi yang mudah, cepat dengan pelayanan yang baik.

Teknologi yang dikembangkan oleh Xendit menyederhanakan proses integrasi ke berbagai fitur sistem pembayaran, yang dapat digunakan secara mudah oleh berbagai macam jenis usaha.

Saat ini Xendit melayani berbagai macam bisnis di Indonesia yang memerlukan layanan pembayaran online. Klien-klien Xendit sangat beragam, mulai dari UMKM, startup, hingga korporasi besar seperti Traveloka, Tiket.com, Orami, dan Style Theory.

“Kami ingin agar pengusaha dan pemimpin perusahaan dapat memusatkan perhatiannya untuk strategi-strategi pengembangan bisnis dan memajukan usahanya tanpa harus mengkhawatirkan mengenai proses keluar masuk uang atau rekonsiliasi pada akhir bulan,” ucap Tessa.

Menurutnya, Xendit menciptakan produk-produknya dengan mempertimbangkan kemudahan integrasi dan penggunaan. Jika perusahaan belum memiliki situs atau sistem sendiri, mereka dapat dengan mudah menggunakan platform kami. Namun, perusahaan yang sudah memiliki tim teknis dan website, dapat berintegrasi dengan sistem kami melalui API (Application Program Interface) dengan cepat.

Berikut produk-produk yang disediakan Xendit:

1. XenPayments (penerimaan pembayaran)
2. XenInvoice (sistem pengelolaan invoice)
3. XenDisburse (pengiriman dana)
4. XenBatch (batch disbursement-pengiriman beberapa transaksi dalam satu perintah)
5. XenCheck dan XenFraudCheck (proses Know Your Customers (KYC)- otomatis)

1 dari 1 halaman

Ruang berbagi Xenspace

startup fintech xendit

2019 Merdeka.com

Di XenSpace, Xendit berupaya membawa kebiasaan berbagi yang sangat kuat dilakukan oleh pengusaha dan profesional di Silicon Valley. Mayoritas dari mereka sangat menghargai keterbukaan gagasan dan pertukaran ide bisnis, sebuah mentalitas yang belum banyak terlihat di lanskap teknologi Indonesia. Dengan XenSpace ini, Xendit berharap dapat menunjukkan kontribusi positif terhadap industri teknologi di Indonesia, khususnya di bidang teknologi keuangan.

Menurut Tessa, ide menjadi hal terpenting dalam terciptanya sebuah startup, dan tentunya harus sejalan dengan eksekusi yang tepat. Melalui XenSpace, Xendit ingin menyediakan platform untuk bertukar pendapat dan berbagi ide bisnis. Para wirausaha akan memiliki kesempatan untuk bertatap muka dan berbincang mengenai ide yang tengah mereka garap dengan sesama wirausaha, praktisi teknologi, hingga orang yang tidak dikenal sekalipun.

Xendit memperkenalkan pengalaman bertukar pendapat dan berbagi ide bisnis tersebut melalui ruang komunal yang berlokasi di Gedung Victoria Ground Floor. Xenspace akan buka mulai jam 9 pagi sampai 6 sore, kata Tessa.

XenSpace menyuguhkan tempat bekerja dan meeting dengan nuansa kontemporer. Dilengkapi dengan lima ruang pertemuan, XenSpace juga memiliki 24 hot desks, dua pod, dua bilik telepon, dan lounge. Tempat kerja ini dilengkapi dengan akses internet berkecepatan tinggi dan juga free flow air mineral, kopi, serta teh agar semakin produktif.

Tidak hanya itu, XenSpace juga dapat dengan mudah diubah menjadi sebuah event space, yang cocok untuk aneka acara dengan kapasitas hingga 100 peserta.

Sebelum adanya XenSpace, Xendit telah memulai budaya berbagi ini dengan mengadakan berbagai sesi XenTalks.

XenTalks adalah sebuah inisiatif dari Xendit untuk berbagi wawasan kepada para wirausaha dan penggiat teknologi dengan mengundang tamu-tamu yang ahli pada bidangnya. Selama beberapa bulan ini, XenTalks telah mengangkat topik yang menarik seperti bagaimana menguasai product-market fit, menciptakan budaya perusahaan yang unggul, dan bagaimana cara meningkatkan skala usaha.

Setelah terciptanya XenSpace, Xendit akan melanjutkan XenTalks-nya di sana. Xendit juga akan segera memulai Women in Tech pertamanya, yang akan peran perempuan yang unggul di bidang teknologi.

[sya]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini