Huawei Putus Kerjasama Dengan Android, 5G Jadi Penyebabnya

Rabu, 22 Mei 2019 11:51 Reporter : Indra Cahya
Huawei Putus Kerjasama Dengan Android, 5G Jadi Penyebabnya Huawei P30 Pro VS Huawei Mate 20 Pro. ©2019 androidcentral.com

Merdeka.com - Nuklir sempat menjadi sumber keributan antara dua negara adidaya. Saat ini, sumber keributan baru untuk Amerika Serikat dan Tiongkok adalah teknologi.

Ialah teknologi konektivitas 5G yang digadang-gadang mampu menghubungkan berbagai hal dengan internet.

Huawei, dilaporkan menjadi penyedia infrastruktur jaringan 5G yang membuat Amerika Serikat merasa inferior. Pasalnya, teknologi 5G milik Huawei saat ini telah dikembangkan dengan baik, lebih dahulu ketimbang banyak pabrikan lainnya.

Mengutip MIT Technology Review via Tekno Liputan6.com, Selasa (21/5/2019), kuatnya posisi Huawei dalam teknologi 5G, diestimasi bisa meningkatkan pendapatan perusahaan hingga USD 123 miliar dalam lima tahun, hanya dari infrastruktur 5G besutannya.

Namun di balik teknologi terbaik itu, ketakutan AS sebenarnya terletak pada kecurigaan bahwa Huawei bisa mencuri data rahasia milik AS lewat perangkat jaringannya.

Apalagi, Huawei juga dituding berafiliasi dengan pemerintah AS beserta militernya.

Lantas, apa itu 5G yang membuat AS jadi takut kepada Huawei, berikut adalah sejumlah penjelasan mengenai 5G, pangkal masalah AS sampai memasukkan Huawei ke daftar hitam perdagangan.

Apa Itu 5G?

Alih-alih sebagai protokol atau perangkat, 5G merupakan teknologi jaringan yang mampu menjalankan segala sesuatu mulai dari kendaraan otonom hingga peralatan rumah tangga.

5G diprediksi menyediakan kecepatan bandwith hingga 20gigabit per detik. Dengan kecepatan ini, pengguna bisa mengunduh film beresolusi tinggi dengan sangat cepat. Pengguna juga bisa memanfaatkan teknologi virual reality dan augmented reality di smartphone.

Smartphone dan infrastruktur 5G pertama disebut-sebut akan tiba tahun ini namun transisinya akan memakan waktu bertahun-tahun.

5G Lebih Canggih

Jaringan 5G beroperasi di dua rentang frekuensi berbeda. Dalam satu mode, 5G mengeksploitasi frekuensi yang sama seperti 4G dan Wi-Fi, tetapi dengan skema koding dan saluran lebih besar, sehingga kecepatannya meningkat 25-50 persen.

Mode lain, jaringan 5G menggunakan gelombang frekuensi milimeter yang lebih besar sehingga mampu mentransmisikan data dengan kecepatan tinggi.

5G akan membutuhkan pemancar lebih banyak, dengan jarak yang dekat. Perangkat yang terhubung akan melewati pemancar ini, seperti hadware lama.

Untuk meningkatkan bandwidth, 5G juga menggunakan teknologi bernama massive MIMO. Teknologi memungkinkan ribuan antena untuk bekerja secara paralel.

Kemudian, pada gilirannya bisa meningkatkan kecepatan dan membantu latensi rendah hingga satu millisecond (pada 4G latensi mencapai 30 millisecond). Dengan begitu, lebih banyak perangkat yang bisa terhubung ke jaringan 5G.

Selanjutnya teknologi bernama full duplex akan meningkatkan kapasitas data yang memungkinkan pemancar dan perangkat mengirim dan menerima data dengan frekuensi sama.

Risiko Keamanan 5G

Salah satu isu keamanan pada 5G adalah seluas apa 5G bakal digunakan. 5G ada untuk menggantikan koneksi kabel dan membuka pintu agar lebih banyak perangkat terhubung dan update melalui internet, termasuk peralatan rumah tangga hingga mesin industri, termasuk mobil otonomos.

Dengan bandwidth yang tinggi, semua perangkat bisa berjalan tanda tersendat-sendat.

Seperti halnya teknologi baru, pasti ada kerentanan keamanan yang muncul karena teknologi ini. Para peneliti Eropa sebelumnya meneliti titik-titik lemah dalam cara kunci kriptografi yang dipertukarkan di jaringan 5G.

Banyaknya perangkat yang terhubung, berisiko adanya pencurian data dan sabotase alias serangan siber.

Karena 5G dimaksudkan agar kompatibel dengan jaringan 4G, 3G, dan Wi-Fi, jaringan ini rentan mengalami masalah keamanan.

5G bisa terhubung dengan software dan hardware baru. Hal inipun dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk mencuri data lewat celah di dalamnya.

Kekhawatiran di atas memberikan gambaran suram 5G, namun tentu ada solusi teknis untuk setiap masalah. Salah satunya adalah penggunaan kriptografi yang membantu mengamankan komunikasi dengan cara melindungi data yang mengalir di berbagai sistem lewat jaringan virtual. Hal ini sudah jadi solusi cukup aman untuk menghindari peretasan.

Sumber: Liputan6.com
Reporter: Agustin Setyo Wardani [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Huawei
  2. China
  3. Perang Dagang
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini