Gaji Besar dan Rekrutmen Berlebihan Jadi Pemicu PHK Karyawan Startup

Jumat, 2 Desember 2022 12:11 Reporter : Merdeka
Gaji Besar dan Rekrutmen Berlebihan Jadi Pemicu PHK Karyawan Startup Ilustrasi startup. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Jirsak

Merdeka.com - Nailul Huda, Analis INDEF mengatakan, pada tahun 2021, investasi digital di Indonesia mencapai Rp 144 triliun. Pada tahun itu, banyak startup yang mendapat investasi. Salah satunya di sektor pendidikan. Startup yang mendapatkan investasi itu, jor-joran melakukan pengembangan bisnis salah satunya dalam merekrut karyawan.

"Namun saat 2022 ketika cost of fund naik, yang terjadi penurunan investasi. Investasi di startup digital turun Rp 53,58 triliun per November 2022. Penurunannya mencapai 50 persen lebih. Maka, ketika startup masih mengandalkan pendanaan, cashflow mereka akan terancam," jelas dia.

Hal senada juga dikatakan oleh seorang sumber yang akrab dengan industri digital dan startup Tanah Air. Ia mengatakan persoalan di industri startup tak hanya itu saja, namun terjadi perang gaji dan terlalu banyak merekrut sumber daya manusia.

"Gaji berlebihan yang diberikan startup memicu adanya perang gaji. Sebagai contoh, seseorang yang usianya baru 20 tahunan lebih dengan pengalaman kerja minim dan skill biasa saja, itu bisa digaji Rp 10 juta ke atas. Ketika ia pindah perusahaan, bisa mendapatkan kenaikan gaji 50 persen lebih atau satu kali lipat dari gaji sebelumnya. Sehingga, ketika dirinya berpindah perusahaan lagi, gaji itu akan terus melonjak signifikan," jelas sumber yang enggan disebutkan identitasnya ini.

Ia menceritakan pengalamannya saat bekerja di sebuah e-commerce ternama di mana seseorang engineer yang baru berumur 26 tahun dengan pengalaman kerja minim serta skill biasa saja, sudah mendapatkan upah sebesar Rp 20 jutaan. Bahkan ini terjadi bukan untuk divisi engineer saja, melainkan sudah merambat ke divisi lainnya.

"Pernah gue interview satu orang untuk divisi marketing communication. Dari gaji awal Rp 17 juta, dia minta gaji Rp 35 juta. Padahal dia baru punya pengalaman kerja setahun," ungkapnya.

Meski begitu, ia memahami bahwa perang gaji ini lantaran sumber daya manusia khusus di perekayasa piranti lunak masih sedikit. Sehingga, startup rela mengambil SDM dengan harga mahal demi peningkatan perusahaan.

"Selama masih ada pendanaan gak mikir itu. Yang penting growth. Barulah dikondisi seperti gue pikir mereka akan mulai merasionalkan seluruhnya, terutama perusahaan teknologi yang sudah mapan," kata dia.

[faz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini