Facebook lagi-lagi dianggap terlalu adiktif

Jumat, 26 Januari 2018 13:34 Reporter : Indra Cahya
Facebook lagi-lagi dianggap terlalu adiktif Ilustrasi Facebook. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Facebook kembali mendapat kecaman. Kali ini kecaman tersebut datang dari salah satu bilyuner dunia, George Soros.

Melansir Mashable, Soros berbicara di World Economic Forum di Davos, Swiss, pada Kamis (25/1) kemarin. Di acara tersebut ia melontarkan pidato yang menyebut Facebook dan Google "kejam" ke masyarakan dan menyarankan ada peningkatan regulasi pemerintah terhadap kedua perusahaan tersebut.

"Monopoli internet tidak memiliki kemauan dan kecenderungan untuk melindungi masyarakat dari konsekuensi tindakan mereka (Facebook dan Google). Hal tersebut mengubahkan jadi ancaman dan jatuh ke pihak yang berwenang untuk melindungi masyarakat dari mereka (Facebook dan Google).

Mengkritik Facebook dan Google sebagai pelaku monopoli eksploitatif, sang bilyuner membandingkan kedua raksasa teknologi tersebut dengan industri perjudian.

"Perusahaan media sosial menipu pengguna mereka dengan memanipulasi perhatian pengguna dan mengarahkannya ke tujuan komersial mereka sendiri. Mereka dengan sengaja ciptakan kecanduan terhadap layanan mereka," sebut Soros.

"Ada kesamaan antara platform internet dan perusahaan perjudian. Kasino telah mengembangkan teknik untuk menghubungkan penjudi ke titik di mana mereka akan mempertaruhkan semua uang mereka, bahkan uang yang tidak mereka miliki," tambahnya.

Soros bukan orang pertama yang mengkritisi Facebook. Sebelumnya, CEO dari Salesforce yakni Marc Benioff juga menyebut Facebook seperti candu. Sang CEO bahkan mengibaratkan Facebook sebagai rokok yang butuh regulasi lebih dari pemerintah.

Pada akhir tahun lalu, mantan petinggi Facebook, Chamath Palihapitiya, menyebut bahwa "Facebook menciptakan alat yang merobek struktur sosial tetang bagaimana masyarakat berfungsi."

Meski demikian, semua kebobrokan Facebook akan segera dibenahi. Mark Zuckerberg dalam pos resolusi tahun barunya, menyatakan bahwa Facebook memiliki "banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan," terutama dalam hal pelecehan di ranah siber, campur tangan Pemilu, dan mengembalikan Facebook jadi platform yang "berarti" untuk dijalankan. [idc]

Baca juga:
Setelah introspeksi, Logan Paul akhirnya rilis video lagi
Facebook akuisisi startup biometrik, ingin saingin Face ID?
Instagram uji coba fitur baru yang lagi-lagi mirip Snapchat
Bisakah bermedia sosial tanpa ujaran kebencian?
Facebook akhirnya akui bahwa media sosial 'lukai' demokrasi
Pertumbuhan pengguna lemah, Snapchat pecat karyawan
Fitur 'Activity Status' buat Instagram jadi lahan stalking

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Media Sosial
  3. Facebook
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini