Dewan Pengawas ATSI: Persoalan Indosat bukan kepentingan bersama

Selasa, 28 Juni 2016 14:44 Reporter : Syakur Usman
Dewan Pengawas ATSI: Persoalan Indosat bukan kepentingan bersama ATSI. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Perang 'terbuka' soal tarif telepon di luar Pulau Jawa antara PT Telkomsel dan Indosat Ooredoo baru-baru ini menimbulkan pertanyaan kepada Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).

Pasalnya, ATSI yang menjadi rumah bagi seluruh operator di negeri ini mestinya bisa menyelesaikan isu tarif yang kemudian melebar menjadi dugaan monopoli Telkomsel di pasar luar Jawa itu. Apalagi yang berseteru ini adalah dua operator terbesar di Indonesia yang menguasai pangsa pasar sekitar 67 persen per tahun lalu.

Lucunya, saat perang ini berlangsung, Ketua Umum ATSI diemban oleh Alexander Rusli, CEO Indosat Ooredoo, dan Ketua Dewan Pengawas dijabat oleh Ririek Adriansyah, CEO Telkomsel. Alexander Rusli menjadi Ketua Umum ATSI sejak 2014, sedangkan Ririek menjadi Ketua Dewan pengawas sejak Juli 2015, menggantikan Alex J Sinaga (CEO PT Telkom Tbk). Namun, kini ketua umum ATSI berganti dengan pimpinan baru, yakni Merza Fachys, CEO PT Smartfren Telecom Tbk.

Ririek menjelaskan, saat dirinya menjadi Ketua Dewan Pengawas ATSI periode 2014-2016, Asosiasi tidak pernah membahas persoalan yang dikeluhkan oleh Indosat Ooredoo tersebut, karena bukan menjadi kepentingan bersama. Persoalan-persoalan yang terkait kompetisi antaroperator tidak dibahas di ATSI. Meski demikian, Ririek menampik adanya perpecahan di Asosiasi.

"Wajar-wajar saja, karena kepentingan setiap anggota berbeda-beda, baik sebagai anggota Asosiasi maupun sebagai operator seluler sendiri. Yang pasti, hanya kepentingan bersama dibahas secara terbuka di Asosiasi," ujar Ririek menjawab pertanyaan Merdeka.com, saat media gathering di kantor Telkomsel Jakarta, Senin (27/6) malam.

Menurut dia, Asosiasi tidak bisa tidak mengatur kepentingan setiap anggota, termasuk Telkomsel dan Indosat Ooredoo.

Perlu diketahui, akibat perang terbuka ini, kedua operator besar itu dipanggil badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), beberapa waktu lalu.

Perang terbuka ini disulut oleh aktivitas below the line (BTL) program tarif Indosat Ooredoo Rp 1 per detik ke semua operator yang dilakukan di luar Pulau Jawa. Dalam materi aktivitas BTL tersebut, Indosat Ooredoo membandingkan tarif murah yang ditawarkannya dengan tarif Telkomsel.

Perbandingan tarif ritel ini lantas berkembang menjadi tudingan Indosat Ooredoo kepada Telkomsel yang melakukan monopoli di pasar luar Jawa. Tudingan ini sempat dibantah oleh Telkomsel. Telkomsel menyatakan penguasaan pasar di luar Pulau Jawa diraihnya melalui sebuah proses panjang dan jatuh bangun sejak berdiri pada 1995. [bbo]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Indosat
  3. Telkomsel
  4. Telco
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini