KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Dari emperan ke Tokopedia

Kamis, 18 Agustus 2016 21:05 Reporter : Wens
Ardy wicaksono pemenang Tokopedia. ©2016 Merdeka.com/Djoko Poerwanto

Merdeka.com - Hidup ini menyediakan pilihan. Dan bagi anak muda ini, pilihan itu ada dua. Meneruskan kuliah atau tekuni bisnis. Dia memilih yang kedua. Jualan. Banting setir dari usaha percetakan milik sang ayah yang terus redup, ke usaha meja lipat. Jika kemudian dia ditulis media ini, itu karena anak muda ini sudah menapaki jalan berliku, dan ada terang di depan sana.

Nama lengkapnya Ardy Wicaksono. Lahir 21 Juni 1991. Di Solo, kota yang ditumbuhi begitu banyak industri batik rumahan. Darah bisnis itu memang mengalir dari sang ayah, yang semenjak muda menekuni dunia percetakan dan sablon. Sayang bisnis itu bergulung ke "senjakala" oleh zaman, setelah menjamurnya digital printing yang datang dengan tekonologi serba baru. Serba canggih. Serba cepat. Dan murah.

Ardy, yang sudah meninggalkan bangku kuliah pada sebuah universitas di kota itu, memilih banting setir. Nyemplung ke peluang lain. Pilihannya jatuh pada bisnis meja lipat itu. Tapi ini bukan meja biasa. Sebab dirancang dalam rupa-rupa bentuk, rupa-rupa motif dan aneka hiasan.

Saya bertemu dengan anak muda ini di lantai 23 Wisma 77 di Jakarta Barat, siang tadi. Itu kantor Tokopedia, ecommerce yang sohor namanya, dan menyediakan diri menjadi lapak online bagi ratusan ribu pedagang dari seluruh penjuru tanah air. Sebuah kantor yang pantrynya dilengkapi "pemadam kelaparan."

Anda akan sulit menemukan sekat bilik di kantor itu. Open space. Sonder kubikel. Dan menemukan begitu banyak mainan seperti fussbal, perangkat PS4, ayunan, meja pimpong, hingga samsak tinju lengkap dengan sarung tangan seperti yang dipakai si legendaris Mike Tyson merobohkan lawan.

Di kantor yang penuh dengan anak muda kreatif itu – di situ Anda akan merasa tua jika berusia di atas 45 seperti saya - Ardy melayani wawancara ini. Duduk di tangga taman buatan dekat pintu masuk. Memakai kaos hijau bertuliskan tokopedia Top Community, dia terlihat stylish dan lancar berkisah pahit getir, jatuh bangun bisnis "si meja lipat" itu.

Ide bisnis ini, begitu dia memulai ceritanya, berawal dari mejal lipat yang ramai di pasar tradisional hingga toko raksasa di sejumlah kota. Meja lipat biasa saja laku, "Masa meja yang berkarakter dan lucu-lucu nggak laku." Begitulah naluri bisnisnya memberi logika. Maka mulailah dia beraksi.

Uang dua juta rupiah dari sang ayah dipakai membeli bahan. Bikin sendiri, dan jadilah 20 meja kecil. Begitu dijual, cuma satu dua yang laku. Selebihnya menumpuk. Boleh disebut gagal total. "Dipotong-potong juga nggak ada gunanya," kenang Ardi soal kegagalan itu.

Biang kegagalan itu adalah bahan. Meja itu dibuat dari papan hasil olahan serbuk kayu. Agak berat. Gagal pada langkah mula itu, Ardy tidak patah semangat. Pilihan hidupnya sudah agak jauh, bangku kuliah sudah ditinggalkan dan mundur adalah sejenis menyerah. Lalu datanglah gagasan ini.

Bahan baku harus dari multiplek, papan triplek yang agak tebal. Untuk percobaan yang kedua ini, ayahnya merogoh modal tiga juta. Maka jadilah 30 meja. Berdua dengan sang ayah, sehari bisa membuat lima meja. Bekerja enam hari, sepekan bisa bikin 30 meja. Dan inilah kalkulator bisnis anak muda ini. Biaya produksi Rp 30 ribu untuk setiap meja. Dijual seharga Rp 55 ribu. Demi merayu pembeli, dia merangsek ke tempat yang meriah. Memajang dagangan di emperan jalan pada hari Minggu, di acara car freeday di kota itu. Banyak yang laku. Hampir semua terjual.

Rejeki dari pinggir jalan memberinya asupan tenaga. Bersama sang ayah, dia rutin memproduksi meja dari Senin hingga Sabtu, lalu di hari Minggu melaju ke emperan jalan pada keramaian kota. Selalu begitu. Meski tak banyak, tapi rutin.

Sampai pada sebuah malam di Bulan Juni 2014, ketika ayah ibu dan adiknya sudah terlelap, Ardy masih mematut mata pada layar tivi. Menonton sebuah film laga yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Memakai kaos dan celana pendek.

Meski yang ditayangkan film laga, mata anak muda ini justru kepincut dengan iklan Tokopedia, yang muncul pada jeda film itu. "Apa ya Tokopedia ini?" begitu dia membantin malam itu. Pertanyaan itu dibawanya ke dipan. Mengaso dilarut malam.

Esok pagi dia bangun pukul enam. Langsung bergegas ke komputer. Internet pakai modem, lalu membuka alamat Tokopedia. "Itu pertama kali saya masuk toko online," kenangnya. Empat jam memencet sana-sini di situ, mencermati cara kerjanya, anak muda ini akhirnya membuat akun sendiri.

Setelah membuat sejumlah meja, sore hari dia memotret hasil karyanya itu, lalu diluncurkan di Tokopedia. Link dari Tokopedia itu lalu disebarkan ke sejumlah tempat. Sejumlah forum hingga media sosial. Lalu menunggu.

Tiga hari menanti, akhirnya sebuah order mampir ke situ. Pesan satu meja. Si pemesan juga orang Solo. Ardy lalu membungkus meja lipat itu dengan kertas Koran, terus meluncur ke kantor pos. Di sana sempat ditolak.

Sebabnya adalah si bungkusan itu. Pegawai di kantor pos itu bilang, kertas Koran itu mudah rusak. Tapi dia ngotot, dengan alasan alamat tujuannya cuma di kota Solo juga. Pegawai pos itu memahami. Kiriman meluncur dan tiba dengan selamat. Sebetulnya, tutur Ardy , "Saya ngotot karena tidak tahu lagi bagaimana cara membungkus yang benar." Tidak tahu harus bungkus pakai apa.

Pulang ke rumah, dia lalu berselancar di internet, mencari tahu model-model membungkus kiriman seperti itu. Yang paling bagus, katanya, ternyata pakai dos single face. Dia lalu memburu bahan baku ke toko.

Hari keempat masuk pesanan dari Semarang. Dia pesan 10 meja. Si pemesan, yang sehari-hari menjadi Guru Taman Kanan-kanak di Semarang, itu adalah reseller pertama anak muda ini. "Dia menjualnya di pinggir jalan," kenang Ardy.

Si Pak Guru itu mengenal bisnis meja lipat ini dari Tokopedia. Lalu memesan. Setelah itu, lanjutnya, saban hari selalu ada pesanan via Tokopedia. Lantaran pesanan kian banyak, dia dan ayahnya, sepakat merekrut tenaga kerja. Kini yang bikin enam orang.

Sehari bisa memproduksi 60 hingga 70 meja. Seminggu minimal 420 meja. Sebulan jumlahnya di atas 1200. Tapi meja sejumlah itu tidak pernah menumpuk di rumah. Sebab pesanan terus mengalir. Produk hari ini, begitu dia membagi kisah, dibuat berdasarkan list pesanan hari kemarin. Jadi, setiap pagi, buka list pesanan yang masuk hari kemarin, lalu meja dibikin. Di Tokopedia, katanya, "Uang kita cepat muter."

Rupanya laju bisnis meja lipat ini terus dipantau dan dibantu para pengelola Tokopedia. Juli 2015, manajemen Tokopedia mengontak dan menawarkan pembuatan video dalam bentuk seller story. Sang ayahlah yang berkisah di video itu. Dan semenjak diunggah tanggal 26 Januari 2016 hingga siang tadi, video itu sudah ditonton lebih dari 1,136,673 kali. Sebuah angka yang terbilang fantastis.

CEO Tokopedia William Tanuwijaya ©2016 Merdeka.com/Djoko Poerwanto


Sesudah itu video itu meluncur, pesanan kian banyak. Sebuah lembaga kursus dari Jakarta memesan 250 meja lipat dengan berbagai motif. Anak muda itu mengantar sendiri pesanan itu ke Jakarta. "Takut rusak," katanya.


Di tengah bisnis yang terus melaju, reseller yang kian banyak, dan di antara setumpuk kesibukan, dia menyisihkan waktu berolahraga. Renang dan bandminton, sebab Hari Minggu dia tak lagi menjajal kekuatan pasar emperan jalan.

"Awal mula kesuksesan saya adalah Tokopedia," katanya sembari mata menyapu kesibukan di lantai 23 itu. Dia mengaku dirinya kurang gaul, apalagi berselancar sembari jualan di dunia maya. Tapi, "Tokopedia membuka jalan," katanya menutup perjumpaan ini.

Sore tadi, beberapa jam sesudah wawancara itu, bersama ayah, adik dan sang Ibunda, anak muda ini meluncur ke Bandara Soekano Hatta. Pulang ke Solo. Memacu bisnis meja lipat yang terus menderu itu.



[ian]

Topik berita Terkait:
  1. Tokopedia
  2. Highlight
  3. Jakarta

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.