Cerita Rektor ITS Mahasiswanya Kalah Lomba Robot Gara-gara Tak Pakai 5G

Kamis, 5 September 2019 13:38 Reporter : Fauzan Jamaludin
Cerita Rektor ITS Mahasiswanya Kalah Lomba Robot Gara-gara Tak Pakai 5G Jaringan 5G. © economist.com

Merdeka.com - Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Mochamad Ashari bercerita pengalaman mahasiswanya saat mengikuti lomba robotik di Korea. Saat itu, mau tidak mau, kampus yang dinahkodainya itu harus menerima kekalahan pada ajang robotik di sana.

Musababnya adalah jaringan internet yang dipersiapkan masih menggunakan 4G, bukan 5G. Sementara kompetitor dalam lomba itu rata-rata sudah mempersiapkan robotnya menggunakan jaringan internet 5G.

"Salah satu contohnya kita kalah di Korea. Karena robot-robot yang lain sudah menggunakan 5G," jelasnya usai acara ujicoba trial 5G milik Tri Indonesia di kampus ITS, Surabaya, Kamis (5/9).

"Sementara kami menggunakan 4G. 4G itu ada delay. Sederhananya begini, jadi robot kita suruh nendang, dia lama nendangnya. Makanya, kita punya kepentingan untuk bisa menerapkan 5G," tambahnya.

Selain itu juga, lanjutnya, adanya 5G bagi dunia pendidikan khususnya untuk kegiatan belajar mengajar di kelas, dapat dilakukan dan bermanfaat. Misalnya saja dengan menggunakan teknologi hologram. Teknologi ini akan maksimal bila menggunakan 5G. Tanpa delay.

"Nantinya kita bisa lihat kuliah dengan dosen virtual," terang dia.

Penerapan kuliah online ini sebetulnya sudah ada. Targetnya menyasar ke daerah-daerah di pedalaman. Namun jika menggunakan 5G, teknologi hologram akan sangat membantu dalam proses belajar mengajar di ruang kuliah.

"Asal, di daerah remote itu juga support jaringan 5G," jelasnya.

Sebelumnya, operator Tri Indonesia meluncurkan ujicoba 5G di Kampus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, Kamis (5/9). Menariknya, dalam kesempatan ini, Rektor ITS Mochamad Ashari tampil menyampaikan sambutannya melalui hologram.

Dia mengatakan, sebuah keniscayaan bahwa kerja sama dunia pendidikan dengan industri akan menciptakan terobosan baru. Terutama bagi pembelajaran mahasiswa.

"Kerja sama IT dengan dunia pendidikan sebuah keniscayaan. Sebab akan lebih implementatif dan familiar bagi mahasiswa," ujarnya.

Setelah menyampaikan sambutannya, Rektor ITS kemudian muncul secara nyata di depan publik. Publik pun terperangah dengan teknologi itu.

Begitu juga ketika sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara yang menyampaikannya melalui hologram.

Menteri yang akrab disapa Chief RA itu menjelaskan bahwa teknologi hologram seperti yang digunakan saat ini akan menjadi killer application di masa mendatang.

Dia menyontohkan, hologram ini bisa menjadi alat untuk kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden di tahun 2024. Dengan menggunakan teknologi itu, tak perlu lagi kampanye harus hadir secara nyata depan publik.

"Hologram killer aplication nantinya di tahun 2024. Ke depan, bisa digunakan oleh capres dan wapres di tahun itu dengan menggunakan hologram," jelasnya. [idc]

Topik berita Terkait:
  1. Telco
  2. Tri Indonesia
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini