Bukan Lagi di Bumi, Perusahaan ini Siapkan Data Center Dibangun di Bulan
Langkah ini diambil menyusul lonjakan permintaan global akan penyimpanan dan pemrosesan data.
Perusahaan asal AS, Lonestar Data Holdings, mengungkap rencana ambisius membangun pusat data di Bulan. Langkah ini diambil menyusul lonjakan permintaan global akan penyimpanan dan pemrosesan data, terutama didorong oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Mengutip BBC, Jumat (11/4), Lonestar baru saja sukses menguji mini data center seukuran buku yang dikirim ke Bulan menggunakan pendarat Athena milik Intuitive Machines, melalui roket SpaceX.
“Kami melihat pembangunan data center di luar angkasa sebagai cara untuk menghadirkan keamanan data yang tak tertandingi,” ujar Stephen Eisele, Presiden Lonestar.
Perusahaan mengklaim pusat data di Bulan akan hemat energi dengan tenaga surya konstan, serta jauh dari risiko gangguan digital di Bumi.
“Ibarat brankas di bagian belakang bank, jarang dibuka, tapi memberi perlindungan tambahan,” kata Eisele lagi.
Lonestar bukan satu-satunya. Thales Alenia Space melalui proyek Ascend juga mempersiapkan pusat data orbit yang lebih ramah lingkungan. Namun, tantangan teknis dan biaya masih menjadi sorotan.
“Kerusakan besar bisa memerlukan misi manusia ke orbit, yang sangat mahal dan sulit dilakukan cepat,” jelas Dr. Domenico Vicinanza dari Anglia Ruskin University.
Meski begitu, CEO Lonestar Chris Stott tetap optimis. Ia menyebut bahwa pusat data luar angkasa justru menawarkan kedaulatan hukum lebih kuat karena tunduk pada yurisdiksi negara peluncur.
“Secara hukum luar angkasa, itu seperti kedutaan besar, perlindungannya setara,” ujarnya.
Lonestar menargetkan peluncuran pusat data orbit pada 2027, sementara pesaingnya, Starcloud, berencana lebih cepat dengan peluncuran komersial pertama pada pertengahan 2026.