BRTI mulai buka pintu konsolidasi operator FWA

Selasa, 4 Juni 2013 09:11 Reporter : Arif Pitoyo
BRTI mulai buka pintu konsolidasi operator FWA BTS © Shutterstock

Merdeka.com - BRTI atau badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia buka pintu konsolidasi untuk menjebatani kesepakatan migrasi semua operator pemakai jaringan di Indonesia menjadi satu operator seluler besar.

Langkah yang diambil oleh BRTI tersebut merupakan proses awal dan badan ini juga akan memanggil operator fixed wireless access di pita 800 MHz ditambah PT Smart Telecom secepatnya.

Anggota BRTI Nonot Harsono mengatakan regulator menawarkan konsolidasi kepada operator FWA dan seluler berteknologi code division multiple access (CDMA).

"Namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda bagi mereka untuk memulai konsolidasi, baik merger maupun akuisisi. Mungkin mereka saling sungkan atau gengsi," katanya kepada merdeka.com, Selasa (4/6).

Untuk itulah, tambahnya, BRTI bersama Kementerian Kominfo akan mengundang mereka dalam waktu dekat agar mereka bisa mendeklarasikan diri sebagai operator seluler mengingat izinnya yang sudah nasional. "Nantinya jaringannya menjadi satu saja," tuturnya.

Tentunya wacana untuk melahirkan satu operator baru dan besar di Indonesia bukan tanpa alasan. Hal tersebut dikarenakan persaingan industri telekomunikasi yang kian ketat mulai memakan korban. Salah satunya adalah Bakrie Telecom (BTEL).

Selain jumlah pengguna yang berkurang, BTEL juga mengalami kerugian besar di 2012, yang mencapai Rp. 3,13 triliun.

Menurut Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Jastiro Abi, angka kerugian tersebut meningkat jauh dibanding tahun 2011 yang hanya sebesar Rp 782 miliar. Kerugian di atas Rp. 1 triliun sudah dilaporkan BTEL per September 2012.

Begitu juga jumlah pengguna yang sebanyak 14 juta di 2011 turun menjadi 12 juta per September 2012, yang kemudian merosot lagi menjadi 11,6 juta di akhir 2012.

Konsolidasi menjadi suatu keharusan, ketika sejumlah operator seperti kehabisan nafas dalam menyiapkan infrastruktur untuk melayani pelanggannya.

Dengan fenomena ini, yang juga terjadi pada operator lain, terutama di rentang 800 MHz, merupakan saat yang tepat untuk memikirkan konsolidasi.

Oleh karenanya, seperti yang dijelaskan oleh Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Muhammad Budi Setiawan, nantinya arah dari penataan frekuensi adalah menuju konsolidasi dan pemerintah siap menjebatani hal tersebut.

Selain masalah persaingan pasar, banyak operator yang pusing akan masalah penurunan tarif telekomunikasi dan besarnya biaya regulasi. Dengan masalah tersebut, tentunya membuat hampir semua operator memiliki hutang, baik di lembaga keuangan maupun vendor.

Untuk mensiasati hal ini, pemerintah menyarankan, khususnya kepada operator CDMA, agar menjadi satu atau dua operator saja, karena dengan adanya 4 operator, maka penguasaan frekuensinya sangat kecil termasuk Smart Telecom di pita 1.900 MHz.

"Kalau jadi satu atau dua operator tentu akan sangat baik bagi industri, tetapi syaratnya harus membuka keran MVNO (mobile virtual network operation) sehingga merek-merek milik operator sebelumnya tetap ada, seperti Esia, Fren, Flexi, dan StarOne," kata Budi.

Konsolidasi juga merupakan jalan pintas menuju peningkatan average revenue per user (ARPU), peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan dan meningkatkan kesempatan operator untuk meng-explore berbagai teknologi telekomunikasi. [das]

Topik berita Terkait:
  1. Teknologi
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini