Bos Xiaomi: Indonesia pasar terpenting kedua setelah India

Rabu, 20 September 2017 16:15 Reporter : Syakur Usman
Steven Shi, Head of Xiaomi South Pacific Region, Indonesia Country Manager. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Vendor produk teknologi asal China, Xiaomi, makin bergairah menatap pasar Indonesia. Beberapa data menunjukkan pengapalan smartphone Xiaomi kian bertumbuh di Nusantara. Salah satunya, International Data Corporation (IDC) melaporkan Xiaomi masuk dalam kelompok lima besar vendor smartphone di Indonesia per kuartal II tahun ini, bersama Samsung, Oppo, Advan, dan Asus. Di periode itu, pengiriman smartphone di Indonesia mencapai 7,9 juta unit. Sementara di jaringan toko ponsel Erafone, penjualan smarthone Xiaomi terbesar ketiga, setelah Samsung dan Oppo.

Secara global, CEO Xiaomi Lei Jun mengumumkan pengiriman smartphone-nya naik 70 persen menjadi 23,16 juta unit di kuartal II tahun ini dari kuartal sebelumnya. Dan pada 2018, Xiaomi menargetkan menjual 100 juta ponsel cerdas.

Untuk mengetahui perkembangan detail terkini Xiaomi dan rencana ke depan di Indonesia, M Syakur Usman dari Merdeka.com dan beberapa media, secara terbatas mewawancarai Steven Shi, Head of Xiaomi South Pacific Region, Indonesia Country Manager, usai meresmikan Mi Store kedua di Serpong, Tangerang, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan Xiaomi di Indonesia dibandingkan negara lain di kawasan Asia Pasifik?

Catatan kami, pertumbuhan bisnis kami di Indonesia sangat cepat di kawasan Asia Pasifik. Saya memiliki data, Xiaomi juga pesat di negara lain. Berdasarkan International Data Corporation (IDC), kami masuk kelompok dua besar atau top two di Myanmar. Kemudian di Australia, Singapura dan Malaysia, pertumbuhan kami juga sangat cepat.

Di Indonesia, kami juga tumbuh sangat cepat. Per kuartal kedua tahun ini, kami sudah masuk kelompok lima besar.

Menurut kami, pasar Indonesia sangat potensial, bahkan Indonesia menjadi pasar terpenting kedua Xiaomi, setelah India (menurut riset Canalys, per kuartal II 2017, pengiriman Xiaomi ke India naik empat kali lipat menjadi 4,8 juta unit. Sehingga pangsa pasarnya pun naik menjadi 18 persen di India. Per Juni lalu, penjualan Xiaomi di India naik 328 persen dari Juni tahun lalu).

Maka itu, kami membawa sumber daya manusia dan teknologi ke Indonesia. Pertimbangan lainnya, Mi fans di Indonesia sangat besar dan unik, sehingga kami ingin memberikan pengalaman berbeda bagi setiap Mi fans.

Pertumbuhan Xiaomi semakin bagus di Indonesia, apa tantangan yang Anda lihat?

Ada dua hal, pertama soal regulasi dan kedua produksi. Untuk Regulasi, kami mencoba memenuhi termasuk soal komponen lokal (TKDN) smartphone 4G. Kedua, kami coba penuhi dari sisi produksi karena permintaan terhadap smartphone Xiaomi tinggi di Indonesia.

Saat ini kami punya fasilitas produksi smartphone di Batam dengan kapasitas 300 ribu unit per bulan. Namun, demi menyesuaikan dengan volume permintaan, kami ingin tingkatkan kapasitas produksi, supaya pengiriman perangkat bisa lebih cepat di Indonesia. Kami mendorong ini sangat keras supaya pengiriman lebih cepat dan banyak.

Berapa kenaikan volume produksi yang diincar?

Kami targetkan ganda, ini sangat realistis. Ya, sekitar 600 ribu unit per bulan, dari 300 ribu unit per bulan.

Banyak toko online di Indonesia menjual produki Xiaomi secara tidak resmi. Tanggapan Anda?

Ya, memang banyak toko online menjual produk Xiaomi tidak resmi. Itu bagus, artinya produk kami disukai konsumen Indonesia. Tapi, kami mengalami kerugian, berupa potential loss, bukan revenue loss.

Maka itu, kami membangun Mi Store, toko offline Xiaomi, di Indonesia. Sebab kami ingin membawa produk terbaik di Indonesia dengan lebih cepat. Bukan hanya produk smartphone, produk internet of things (IoT) juga.

Kemudian secara bertahap, kami akan segera memasarkan seluruh produk kami, termasuk flagship product.

Mengapa Xiaomi memutuskan membangun toko offline di Indonesia?

Secara umum, ekspansi Mi Store di Indonesia merupakan bagian dari strategi baru Xiaomi di sisi ritel. Strategi baru ini sudah dilakukan di China dan India dengan membangun toko offline yang bernama Mi Home. (Xiaomi telah membuka 167 toko Mi Home di seluruh Tiongkok). Secara global, outlet ritel Mi Home mencatat penjualan ketiga terbesar di dunia dan makin mendekati Apple Store yang berada di peringkat pertama.

Mi Store adalah outlet resmi Xiaomi yang menawarkan layanan penjualan dan menghadirkan pengalaman terbaik untuk jajaran lengkap produk Xiaomi. Selain smartphone, kami juga menawarkan produk ekosistem Xiaomi, seperti Mi Band 2, Mi Power Bank, Mi Bluethooth Speaker, dan sebagainya. Mi Store perwujudan dari komitment Xiaomi terhadap pelanggan di Indonesia. Kami selalu melihat Indonesia sebagai pasar besar, yang sangat strategis, dan potensial.

Hingga akhir tahun ini, kami menargetkan membangun 15 Mi Store di Indonesia, saat ini ada dua Mi Store, hasil kerja sama dengan mitra PT Erafone Artha Retailindo, anak usaha PT Erajaya Swasembada Tbk. Mi Store pertama ada di Pondok Indah Mal, Jakarta Selatan, dan yang kedua, baru diresmikan bulan lalu, di Summarecon Mall Serpong, Tangerang.

Bagaimana dengan rencana dan anggaran bisnis toko offline tahun depan?

Kami akan membangun lebih banyak lagi Mi Store di Indonesia. Kami akan agresif sekali dari sisi strategi toko offline. Soal bujetnya, yang jelas target Xiaomi besar, sehingga kami akan alokasikan yang terbaik dan no limit dari sisi bujet. Singkatnya, betapa bisnis ritel offline memberikan pendapatan signifikan pada Xia [ega]

Topik berita Terkait:
  1. Xiaomi
  2. Teknologi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini