Akun CEO Twitter Diretas, Cuitkan Hinaan Rasis

Selasa, 3 September 2019 11:37 Reporter : Indra Cahya
Akun CEO Twitter Diretas, Cuitkan Hinaan Rasis Jack Dorsey, CEO Twitter. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pada Jumat (30/8/2019) lalu, jagat Twitter dihebohkan oleh peretasan akun Twitter. Hal ini jadi heboh lantaran yang diretas adalah orang nomor satu di Twitter itu sendiri, yakni sang CEO Jack Dorsey.

Dalam peretasannya, hacker mencuitkan hinaan rasis terhadap orang kulit hitam serta anti-semit atau menyudutkan kaum Yahudi. Di antaranya menyebutkan hinaan yang tertuju untuk orang kulit hitam, hingga menyebut kalau Hitler tidak bersalah.

Twitter berhasil memulihkan akun sang CEO @jack tersebut dalam 15 menit, sekaligus menghapus semua cuitan rasisnya.

Melansir Business Insider, kelompok hacker ini bernama Chuckling Squad. Twitter masih belum tahu dari mana akses peretasan bisa didapatkan oleh mereka.

Tak cuma cuitan, Chuckling Squad juga membagi tautan menuju server messaging Discord, namun dalam beberapa menit server tersebut dihapus oleh Discord.

1 dari 2 halaman

Cara Hacker Meretas Akun Jack

Business Insider melaporkan bahwa para peretas ini menggunakan layanan SMS bernama Cloudhopper. Cloudhopper sendiri adalah salah satu anak perusahaan Twitter, namun penggunaan layanannya hanya terbatas di internal saja dan tak tersedia ke publik.

Jack sendiri terlihat beberapa kali menggunakan Cloudhopper untuk mencuit. Diduga, peretas berhasil mendapatkan akun Jack lewat layanan yang tak tersedia ke publik ini, sehingga tingkat kesulitan dan keamanannya lebih mudah terbobol.

2 dari 2 halaman

Jack Dorsey dan Tombol 'Edit' di Twitter

Jack sendiri terkenal memberi banyak kompromi kepada pengguna Twitter. Yang paling terkenal tentu mengubah batasan 140 karakter menjadi 280 karakter. Namun ketika banyak sekali pengguna yang meminta diberi tombol edit, Jack tampak tak mau mengaplikasikannya.

Sang CEO justru memiliki ide lain. Melansir Android Authority, Jack di acara Goldman Sachs menyebut bahwa alih-alih tombol edit yang kontroversial, ia ingin memberi fitur klarifikasi. Nantinya akan ada tombol yang berfungsi untuk memposting klarifikasi pernyataan sebelumnya.

Jack juga menyebut bahwa hal ini ditujukan pada seseorang yang ingin membersihkan namanya saat seringkali di masa lalu ia mencuitkan hal-hal yang buruk dan tidak sesuai dengan era sekarang.

"Hal lain yang kita lihat secara lebih luas dalam buaya saat ini adalah saat seseorang 'dibatalkan' karena apa yang sebelumnya mereka katakan di Twitter atau berbagai tempat lain di media sosial," sebut Jack.

"Tidak ada cara yang kredibel untuk kembali dan mengklarifikasi atau bahkan bericara untuk menunjukkan adanya pembelajaran dan transisi sejak saat itu," tambahnya.

Fitur ini kemungkinan akan berupa tombol yang akan ada di cuitan asli, dan berfungsi layaknya Quote Retweet namun terlampir secara permanen.

Meski demikian, Jack mengakhiri dengan ketidakpastian soal fitur tersebut.

"Kami tidak mengatakan bahwa kami akan meluncurkan (fitur) itu, tapi itu adalah hal yang ingin kami lakukan," tutupnya. [idc]

Baca juga:
Twitter Akuisisi Lightwell
Ikuti Akun Twitter Orang Terkaya ini, Anda Bisa Dapat Rp1,4 juta
Twitter, Facebook Tuding China Galang Kampanye Mencela Demonstran Hong Kong
Unik, Bocah Ini Viral Karena Ngetweet Dari Kulkas
Di Kuartal Kedua 2019, Saham Twitter Naik 10 Persen

Topik berita Terkait:
  1. Media Sosial
  2. Twitter
  3. Jack Dorsey
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini