8 'Bulan' ini berpotensi jadi rumah masa depan manusia

Jumat, 15 Juli 2016 00:01 Reporter : Indra Cahya
8 'Bulan' ini berpotensi jadi rumah masa depan manusia Foto Bulan. © NASA

Merdeka.com - Jika kita berbicara tentang 'jujugan' manusia di masa depan ketika kondisi Bumi tak lagi mumpuni karena berbagai hal seperti pemanasan global, asumsi manusia selalu tertuju pada Mars. Planet merah tersebut memang punya berbagai potensi untuk ditinggali manusia, dan sudah sejak lama NASA dan berbagai perusahaan lain menelitinya.

Bahkan dengan ditemukannya air di Mars sejak tahun lalu, dan percobaan menumbuhkan tanaman dari tanah Mars, umat manusia sepertinya akan makin serius terkait misinya untuk membuat peradaban baru di luar Bumi. Diperkirakan juga sudah ada kehidupan di luar Bumi sana, namun hanya berbentuk mikroba kecil yang masa hidupnya juga cepat karena tak mampu bertahan.

Namun tak cuma planet, dalam sistem tata surya, Bulan sebenarnya juga merupakan tempat yang masuk akal untuk jadi tempat peradaban baru manusia akan dimulai. Tentu Bulan yang tak sebesar Planet, hanya bisa membuat peradaban kecil dan tak akan jadi sebesar Bumi. Dari segi tekstur tanah, kandungan udara, sinar matahari dan berbagai hal tak bisa dipungkiri bahwa banyak Bulan yang bisa menjadi tujuan selanjutnya peradaban manusia untuk jadi 'rumah.'

Berikut beberapa Bulan yang punya potensi untuk ditinggali manusia.

1 dari 8 halaman

Europa

Europa. © NASA

Europa merupakan satu dari sekian banyak bulan yang dimiliki oleh Jupiter. Dari sekian banyak, Europa tak cuma diyakini layak untuk ditinggali, namun Europa menyimpan kemungkinan bahwa kehidupan sudah dimulai di sana. Europa yang dilapisi oleh lapisan es yang tebal, diyakini memiliki lautan yang luas di bawah lapisan tersebut.

Inti dari bulan tersebut yang merupakan bebatuan, juga diyakini sebagai lingkungan yang tepat untuk adanya kehidupan. Mungkin untuk saat ini hanya mikroba yang mampu hidup. Namun jika penelitian dilakukan lebih lanjut, tentu organisme yang lebih canggih mampu berdiam di sana.

Berbagai studi meramalkan bahwa jika lautan tersebut benar adanya, Europa akan mampu memutar siklus oksigen dan hidrogen , yang merupakan aspek integral bagi adanya kehidupan manusia. NASA masih dalam penelitian apakah inti bulan tersebut dapat bersinggungan dengan perairannya untuk menghasilkan panas dan hidrogen, seperti yang terjadi di Bumi. Kabar baiknya, es yang melapisi Europa adalah indikator dari adanya produksi oksigen di Bulan tersebut.

Direncanakan, NASA akan mulai mempelajari Europa langsung dari dekat, mulai 2025 mendatang.

2 dari 8 halaman

Miranda

Miranda. © NASA

Miranda bukanlah bulan terbesar yang dimiliki Uranus. Bahkan Miranda adalah bulan terkecil dari 5 bulan besar yang dimiliki Uranus. namun, Miranda sepertinya merupakan tempat yang tepat untuk membangun peradaban baru ketimbang bulan Uranus lainnya.

Hal ini dikarenakan tekstur bulan ini terdiri dari ngarai dan lereng. Secara tekstur, tempat ini sangat baik untuk membangun peradaban di bawah-bawah lerengnya. Hal ini membuat peradaban di Miranda nantinya akan terlindung dari elemen luar yang mungkin berbahaya. Diperkirakan, besar dan kedalaman ngarai di Miranda 12 kali lebih dalam dari Grand Canyon.

Ilmuwan dan astronom memperkirakan bahwa 50 persen Miranda diselimuti es. Dan sama seperti Europa, diperkirakan juga terdapat samudera di bawahnya. Tentu hal ini tak bisa diketahui secara pasti jika tak mempelajarinya langsung dari dekat. Jika benar ada perairan, tentu aktivitas geologi tak akan dipungkiri bisa terjadi di sana. Selain itu kekuatan pasang surut dari Uranus juga memberi kemungkinan ada aktivitas geologi di sana.

Tingkat gravitasi dari planet ini sangat rendah, di mana jika seseorang jatuh dari ngarai ke bawah, jatuhnya akan sangat pelan dan tak akan melukai orang tersebut.

3 dari 8 halaman

Enceladus

Enceladus. © NASA

Salah satu dari bulan utama dari Saturnus ini adalah tempat yang dipercaya sebagai tempat yang sudah bisa mendukung adanya peradaban manusia untuk hidup di sana.

Enceladus yang diselimuti es, telah diteliti dan terbukti mampu memuntahkan es ke luar layaknya geyser. Muntahan es ini telah diteliti dan dianalisis kandungannya oleh sebuah spacecraft bernama Cassini, dan hasilnya es tersebut mengandung air, nitrogen, dan karbon organik. Tentu ini merupakan elemen integral untuk adanya kehidupan.

Di tahap selanjutnya, ilmuwan ingin menemukan elemen atau bahkan organisme yang lebih kompleks yang terperangkap di bawah lapisan es daru Enceladus. Sejauh ini pula, ilmuwan telah menemukan kandungan dari es di Enceladus mirip dengan yang ada di kutub selatan.

Tak cuma es, panas alami yang muncul dari bulan ini juga berpotensi untuk menjadikan bulan ini dapat ditinggali. Di mana banyak terdapat kawah dan perbukitan yang bisa dijadikan basis peradaban di Enceladus. Permasalahannya adalah tingkat atmosfer yang tipis serta gravitasi yang rendah masih membuat Enceladus masih menarik dari sisi tekstur dan kandungannya saja.

4 dari 8 halaman

Mimas

Mimas. © NASA

Dikenal sebagai "Death Star" Moon karena kemiripannya dengan Death Star di film Star Wars, bulan milik Saturnus ini memang tak terlihat cocok untuk ditinggali. Namun penelitian berkata sebaliknya.

Berdasarkan video dari Cassini yang mendokumentasikan Mimas, ilmuwan menyimpulkan bahwa Mimas menyimpan aktivitas geologi, selagi bulan tersebut mengorbit di planet cincin. Selain itu, prediksinya terdapat lautan di bawah kawah-kawah dari Mimas yang membuatnya jadi mirip Death Star. Diprediksi, lautan berada di 24 hingga 29 kilometer di bawah permukaan Mimas.

Namun aktivitas geologi yang ada di Mimas belum bisa disimpulkan secara gamblang sebagai aktivitas yang mirip dengan Bumi. Pasalnya, ilmuwan lain juga memprediksi bahwa aktivitas tersebut merupakan dampak gravitasi dari cincin Saturnus. Jadi perlu ada penelitian lebih lanjut secara lebih dekat di permukaan Mimas untuk mengukur atmosfer, temperatur, serta kebenaran aktivitas geologi yang ada di sana.

5 dari 8 halaman

Triton

Triton. © NASA

Berdasarkan gambar dan data yang dikirim melalui Voyager 2 Spacecraft pada Agustus 1989 silam, permukaan dari bulan terbesar Neptunus, Triton, terdiri dari nitrogen dan es. Ilmuwan langsung memprediksi bahwa terdapat air di bawah lapisan tersebut.

Memang Triton punya atmosfer yang sangat tipis dan punya temperatur terdingin di jagat raya dengan suhu minus 235 derajat Celcius, namun Triton tetap menjadi tempat yang menarik bagi para ilmuwan. Pasalnya, bulan ini dapat merefleksikan cahaya selayaknya bahan metal. Sehingga ilmuwan memprediksi bahwa bulan ini terdiri dari gas nitrogen, debu, serta air.

6 dari 8 halaman

Ganymede

Ganymede. © NASA

Ganymede adalah Bulan terbesar dari Jupiter. Tempat ini jadi hal yang menarik bagi para ilmuwan karena berdasarkan penelitian, terdapat prediksi bahwa di sana ada sumber air. Bahkan, jika dibandingkan dengan Bulan atau planet lain yang diselimuti es, permukaan Bulan ini cukup tipis sehingga mudah untuk dipenetrasi dan diteliti.

Ganymede juga merupakan satu-satunya bulan di tata surya yang mempunyai ladang magnet. Hal ini membuat Ganymede memiliki 'moon aurora' seperti bulan yang kita miliki di Bumi. Berdasarkan foto yang didapat, aurora dari Ganymede tidak punya banyak pergerakan, sehingga ilmuwan berpikir bahwa terdapat samudera yang berada di bawah permukaannya

Selain itu, atmosfer dari Ganymede juga mengandung oksigen, meski tentu jauh lebih tipis ketimbang di Bumi.

European Space Agency telah mencanangkan misi untuk mengeksplor tiga buah bulan dari Jupiter, yakni Ganymede, Callisto, dan Europa. Misi ini dijadwalkan berangkat pada 2022 dan diperkirakan akan sampai ke Ganymede pada 2032.

7 dari 8 halaman

Callisto

Callisto. © NASA

Punya ukuran yang sama dengan Merkurius, Bulan terbesar kedua milik Jupiter ini adalah yang diprediksi kuat memiliki samudera yang luas di balik permukaan es yang menyelimutinya. Tentu potensi manusia untuk menjadikannya tempat 'koloni' jadi makin besar.

Permukaan Callisto terdiri dari kawah dan ladang es. Atmosfer yang menyelimuti Callisto hanya merupakan lapisan tipis dari karbon dioksida. Kadar oksigen juga dipercaya terdapat di atmosfer Callisto. Namun hal ini masih belum akan dipastikan kebenarannya sampai jadwal keberangkatan European Space Agency ke bulan Jupiter pada 2022 mendatang.

Yang membuat Callisto cukup menarik bagi ilmuwan adalah jarak yang aman dari radiasi Jupiter, dan aktivitas geologi yang minim di bulan tersebut. Hal ini membuat lingkungan akan lebih stabil dan habitat tersebut jadi tempat yang mudah untuk beradaptasi.

8 dari 8 halaman

Bulan

Foto Bulan. © NASA

Tempat paling layak untuk ditinggali sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah Bulan kita sendiri. Sudah dijajaki sejak puluhan tahun lalu dan tak selalu menunjukkan hal yang positif, Bulan bisa jadi tempat yang baik untuk umat manusia berkoloni di luar Bumi.

Sebuah isu muncul di media di Maret 2016 silam, di mana ilmuwan sudah merencanakan untuk membangun basis di Bulan pada dekade mendatang. Menurut seorang ahli Astrobiologi dari NASA, Chris McKay, sudah saatnya membangun basis di bulan bukan jadi impian lagi. Hal ini dikarenakan sudah banyak teknologi di Bumi yang sangat berguna dan efisien jika dijalankan di Bulan. Antara lain mobil otomatis serta toilet daur ulang.

NASA kini sangat berfokus untuk mendaratkan manusia di Mars. Namun McKay percaya bahwa umat manusia tak akan bisa meraih pencapaian tersebut jika di Bulan saja belum ada basis permanen.

  [idc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini